Setengah Tahun Pemerintahan Prabowo! Dulu Ekonomi RI Disebut Komodo, Mungkin Sekarang Cicak?

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Kamis, 08 Mei 2025 | 11:28 WIB
Setengah Tahun Pemerintahan Prabowo! Dulu Ekonomi RI Disebut Komodo, Mungkin Sekarang Cicak?
Presiden Prabowo Subianto (kiri) bersama Pendiri Microsoft dan tokoh filantropi dunia Bill Gates (kanan) didampingi Seskab Teddy Indra Wijaya (tengah) berjalan meninggalkan ruang usai melakukan pertemuan dengan para pengusaha di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (7/5/2025). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa]

Suara.com - Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyoroti ketahan ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang penuh tantangan saat ini.

Dalam konferensi pers bertajuk "Setengah Tahun Pemerintahan Prabowo" yang digelar pada Rabu (7/5/2025), CSIS menyoroti melemahnya daya tahan ekonomi Indonesia dalam menghadapi dampak perlambatan ekonomi global, sebuah kondisi yang kontras dengan citra "Komodo Ekonomi" yang pernah disandang Indonesia.  

Direktur Eksekutif CSIS, Yose Rizal Damuri, mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap pergerakan kurs rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS, di tengah kondisi indeks dolar yang seharusnya tertekan akibat kebijakan perang dagang Presiden AS Donald Trump.

"Dulu-dulu ketika terjadi shock di tingkatan dunia, perekonomian Indonesia sering disebut cukup resilient. Bahkan The Economist tahun 2011 atau 2012 menyebut Indonesia itu sebagai The Komodo Economy," ungkap Yose.

"Tetapi apakah sekarang ini kita masih akan bisa menjadi komodo ekonomi? Mudah-mudahan tidak menjadi cicak ekonomi," tegasnya, menggunakan analogi yang mencolok untuk menggambarkan penurunan daya tahan ekonomi.   

Yose menyoroti bahwa sejak pengumuman tarif resiprokal oleh Trump, rupiah terus terpuruk, menembus level atas Rp 16.800 dan bahkan menyentuh Rp 16.900 per 9 April 2025. Padahal, indeks dolar justru menunjukkan tren penurunan ke level bawah 99. "Ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan karena kita akan menjadi negara mata uang kita akan melemah sendiri dibandingkan dengan seluruh mata uang lainnya," jelas Yose.

Selain pelemahan rupiah, aliran modal asing (capital outflow) juga menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) hingga 30 April 2025, tercatat jual neto non-residen sebesar Rp 49,56 triliun di pasar saham dan Rp 12,05 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Meskipun terdapat beli neto sebesar Rp 23,01 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), angka outflow yang signifikan di pasar saham dan SRBI mengindikasikan berkurangnya kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan domestik.

Yose berpendapat bahwa melemahnya ketahanan ekonomi domestik ini dipicu oleh permasalahan struktural yang dulunya dianggap sebagai tameng saat krisis. Dua isu utama yang disorot adalah transparansi fiskal yang mulai terkikis dan independensi kebijakan moneter yang dipertanyakan.

"Kita bisa lihat bagaimana fiskal kita mulai sedikit demi sedikit digerogoti, kemudian dari sisi monetary, bahkan independensi dari bank sentral sudah mulai dipertanyakan di situ. Dan ini tentunya akan membuat kepercayaan kepada perekonomian Indonesia juga akan semakin berkurang," tegas Yose.

Lebih lanjut, Yose juga menyoroti permasalahan klasik yang masih menghantui perekonomian Indonesia, yakni sektor riil atau iklim bisnis yang masih tersandung inefisiensi, serta tekanan pada ketenagakerjaan dan daya beli masyarakat. Kombinasi faktor-faktor ini diperkirakan akan semakin menekan pertumbuhan ekonomi ke depan.

Yose memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi yang mencapai 4,87 persen pada kuartal I-2025 bisa menjadi awal dari tren penurunan, mengakhiri dekade stagnasi pertumbuhan di kisaran 5 persen.

"Kita tidak lagi bisa mengandalkan pasar ekspor kita. Pasar ekspor yang akan semakin mengecil dan juga tentunya ini berimbas juga kepada government revenue, kepada pendapatan pemerintah," pungkas Yose.

Pernyataan CSIS ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah Prabowo Subianto untuk segera mengambil langkah-langkah strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi dan memulihkan kepercayaan investor. Tantangan yang dihadapi tidaklah mudah, mengingat kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Namun, langkah-langkah yang tepat dan terukur sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa Indonesia tidak terjerumus menjadi "cicak ekonomi" yang rentan terhadap guncangan eksternal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bakal Didepak: Tiga Kesalahan Fatal Hasan Nasbi di Mata Prabowo

Bakal Didepak: Tiga Kesalahan Fatal Hasan Nasbi di Mata Prabowo

Liks | Kamis, 08 Mei 2025 | 11:14 WIB

Sering Selamatkan Rupiah, Cadangan Devisa Turun Rp 2.508 Triliun

Sering Selamatkan Rupiah, Cadangan Devisa Turun Rp 2.508 Triliun

Bisnis | Kamis, 08 Mei 2025 | 10:32 WIB

Prabowo Bantah jadi Boneka Jokowi, Demokrat Ungkit Program MBG hingga Sekolah Rakyat, Apa Katanya?

Prabowo Bantah jadi Boneka Jokowi, Demokrat Ungkit Program MBG hingga Sekolah Rakyat, Apa Katanya?

News | Kamis, 08 Mei 2025 | 09:02 WIB

Terkini

Trump Ungkap Nego Perang Berjalan Mulus, Iran Bantah: Awas 'Manipulasi' Pasar!

Trump Ungkap Nego Perang Berjalan Mulus, Iran Bantah: Awas 'Manipulasi' Pasar!

Bisnis | Senin, 23 Maret 2026 | 21:44 WIB

Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap

Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap

Bisnis | Senin, 23 Maret 2026 | 19:19 WIB

Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab

Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab

Bisnis | Senin, 23 Maret 2026 | 19:08 WIB

Anggaran Dana Pensiun DPR-Pejabat Diusulkan untuk Guru Honorer hingga Nakes

Anggaran Dana Pensiun DPR-Pejabat Diusulkan untuk Guru Honorer hingga Nakes

Bisnis | Senin, 23 Maret 2026 | 18:11 WIB

Perhatian Pemudik! Rest Area KM 52B Bisa Ditutup Sewaktu-waktu Saat Arus Balik

Perhatian Pemudik! Rest Area KM 52B Bisa Ditutup Sewaktu-waktu Saat Arus Balik

Bisnis | Senin, 23 Maret 2026 | 17:58 WIB

Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi RI 5,7% di Q1 2026 Meski Ada Perang AS vs Iran

Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi RI 5,7% di Q1 2026 Meski Ada Perang AS vs Iran

Bisnis | Senin, 23 Maret 2026 | 17:41 WIB

Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Capai 5,6 Persen Berkat Mudik Lebaran 2026

Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Capai 5,6 Persen Berkat Mudik Lebaran 2026

Bisnis | Senin, 23 Maret 2026 | 17:31 WIB

285 Ribu Kendaraan Bakal Padati Jalan Tol Trans Jawa pada 24 Maret

285 Ribu Kendaraan Bakal Padati Jalan Tol Trans Jawa pada 24 Maret

Bisnis | Senin, 23 Maret 2026 | 17:16 WIB

LPEI Ungkap Risiko Konflik Timur Tengah ke Kinerja Ekspor Indonesia Masih Terbatas

LPEI Ungkap Risiko Konflik Timur Tengah ke Kinerja Ekspor Indonesia Masih Terbatas

Bisnis | Senin, 23 Maret 2026 | 17:00 WIB

Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 120 Dolar AS per Barel Sepanjang 2026, Naik 2 Kali Lipat

Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 120 Dolar AS per Barel Sepanjang 2026, Naik 2 Kali Lipat

Bisnis | Senin, 23 Maret 2026 | 16:48 WIB