Tak Semua Minyak Dalam Negeri Bisa Diolah, Ahok: Peningkatan Impor Bukan Penyimpangan

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 28 Januari 2026 | 15:05 WIB
Tak Semua Minyak Dalam Negeri Bisa Diolah, Ahok: Peningkatan Impor Bukan Penyimpangan
Mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) periode 2019-2024 Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjawab pertanyaan saat sidang kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Jaksa Penuntut Umum menghadirkan Basuki Tjahaja Purnama sebagai saksi dalam sidang tersebut. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/foc.
baca 10 detik
  • Ahok tegaskan kenaikan kuota impor minyak bukan penyimpangan, melainkan kebutuhan teknis.
  • Kilang Pertamina tidak bisa mengolah semua jenis minyak mentah dalam negeri karena beda kualitas.
  • Dewan Komisaris pastikan impor bukan kesalahan Direksi dan tetap beri keuntungan bagi negara.

Suara.com - Peningkatan kuota impor minyak bukan merupakan penyimpangan. Dalam kesaksiannya di Pengadilan Tipikor Selasa (27/1) Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) periode 2019-2024 Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyebut, kondisi seperti itu terjadi karena beragamnya jenis minyak mentah dan tidak semua minyak dalam negeri bisa diterima kilang Pertamina.

”Bukan penyimpangan impor loh Pak. Kita melihat ada peningkatan kuota minyak mentah Pak,” kata Ahok saat menjadi saksi bagi terdakwa Muhammad Kerry Adrianto Riza dan kawan-kawan.

Menurut Ahok, Dewan Komisaris juga memanggil Direksi guna meminta penjelasan mengenai kilang Pertamina yang tidak menyerap seluruh minyak mentah dalam negeri.

“Dari Direksi dipanggil kami jadi paham, oh ternyata ini tidak semua kilang bisa ngolah. Setelah tahu teknis, kami paham tidak semua minyak mentah itu sama kualitas bisa diterima oleh kilang,” tutur Ahok.

Karena itu pula, jelasnya, Dewan Komisaris melihat bahwa kondisi meningkatnya kuota impor bukan kesalahan Direksi. ”Toh BPKP tidak ada temuan pengadaannya menyimpang atau tidak dan masih untung,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, karena kondisi demikian, maka Pertamina kemudian membuat aturan baru. Yakni, bahwa kilang bisa menolak minyak mentah dalam negeri yang tidak memenuhi kualitas.

Jaksa juga bertanya, terkait keberadaan minyak mentah yang diekspor di satu sisi, tetapi di sisi lain terdapat impor, baik minyak mentah maupun BBM. ”Apakah Saudara selaku Komisaris Utama pernah mendapatkan informasi atau laporan dari Direksi terkait adanya kondisi seperti ini?” tanya jaksa.

Ahok menjawab, bahwa secara teknis dia tidak menguasai. Tetapi yang harus dipahami, bahwa terdapat bermacam-macam jenis minyak mentah. ”Jadi ada jenis yang low sulfur, misalnya, itu harganya tinggi. Kita nggak butuh barang itu,” jawab Ahok.

Jadi, kata Ahok, jangan punya pemikiran bahwa semua produk minyak bumi yang menjadi bagian Pemerintah harus kita serap. Memang, secara teknis Ahok mengakui tidak menguasai. Namun dia tahu, bahwa sangat banyak jenis minyak mentah. Antara lain minyak low sulfur yang mahal atau ada juga minyak jenis heavy. Dan dari berbagai macam tersebut, kata dia, tidak semua dibutuhkan Pertamina.

baca juga

”(Jadi) kita bicara dagang,” kata dia.

”Jadi kita pilih lebih baik kita ekspor tapi kita bisa beli impor dengan lebih murah, karena tugas kami adalah menghemat devisa negara," lanjut Ahok.

Pada bagian lain, jaksa juga bertanya apakah Ahok pernah mendapatkan informasi atau laporan temuan dari BPK misalnya terkait dengan kegiatan pengelolaan di hilir. ”Misalnya penjualan BBM misalnya. Yang kemudian Pertamina atau sub-holding kemudian menjual BBM di bawah market price yang telah ditetapkan? Ada informasi seperti itu Saudara pernah dapat?” tanya jaksa.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ahok mengaku bahwa dirinya tidak mencampuri operasional. Hanya saja, lanjut dia, terdapat anggota BPKP aktif dan pensiunan jenderal polisi lulusan terbaik yang sengaja ditempatkan sebagai Komisaris di Pertamina Patra Niaga.

Dan selama ini, lanjut Ahok, mereka tidak pernah melaporkan pada Dekom mengeai adanya penyimpangan. Termasuk laporan mengenai temuan BPK, menurut Ahok juga tidak pernah ada.

“Pertanyaaan saya, apakah pernah Saudara (menerima laporan mengenai) temuan BPK misalnya?” tanya jaksa.

”Tidak. Orang BPKP-nya jadi komisaris. Gak pernah laporan pak,” jawab Ahok.

”(Kalau) BPK,” lanjut jaksa.
”Tidak pernah Pak. Kalau ada, selalu dilaporkan kepada kami,” jawab Ahok lagi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

5 Poin Geger Kesaksian Ahok: Heran Kekuatan Riza Chalid, Sentil Menteri BUMN

5 Poin Geger Kesaksian Ahok: Heran Kekuatan Riza Chalid, Sentil Menteri BUMN

News | Rabu, 28 Januari 2026 | 10:07 WIB

Ahok Heran 'Kesaktian' Riza Chalid di Korupsi Minyak Pertamina: Sekuat Apa Sih Beliau?

Ahok Heran 'Kesaktian' Riza Chalid di Korupsi Minyak Pertamina: Sekuat Apa Sih Beliau?

News | Rabu, 28 Januari 2026 | 09:57 WIB

Ahok Beri Kesaksian dalam Kasus Korupsi Minyak Pertamina

Ahok Beri Kesaksian dalam Kasus Korupsi Minyak Pertamina

Foto | Selasa, 27 Januari 2026 | 19:04 WIB

Terkini

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi  Sebelum Terlambat

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi Sebelum Terlambat

News | Selasa, 15 September 2026 | 23:46 WIB

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 23:05 WIB

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:59 WIB

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:55 WIB

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 22:45 WIB

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:31 WIB

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Sumut | Selasa, 15 September 2026 | 22:29 WIB

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 22:21 WIB

×