Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.710.000
Beli Rp2.570.000
IHSG 6.007,656
LQ45 597,448
Srikehati 291,253
JII 359,060
USD/IDR 17.916

Tak Semua Minyak Dalam Negeri Bisa Diolah, Ahok: Peningkatan Impor Bukan Penyimpangan

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 28 Januari 2026 | 15:05 WIB
Tak Semua Minyak Dalam Negeri Bisa Diolah, Ahok: Peningkatan Impor Bukan Penyimpangan
Mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) periode 2019-2024 Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjawab pertanyaan saat sidang kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Jaksa Penuntut Umum menghadirkan Basuki Tjahaja Purnama sebagai saksi dalam sidang tersebut. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/foc.
  • Ahok tegaskan kenaikan kuota impor minyak bukan penyimpangan, melainkan kebutuhan teknis.
  • Kilang Pertamina tidak bisa mengolah semua jenis minyak mentah dalam negeri karena beda kualitas.
  • Dewan Komisaris pastikan impor bukan kesalahan Direksi dan tetap beri keuntungan bagi negara.

Suara.com - Peningkatan kuota impor minyak bukan merupakan penyimpangan. Dalam kesaksiannya di Pengadilan Tipikor Selasa (27/1) Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) periode 2019-2024 Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyebut, kondisi seperti itu terjadi karena beragamnya jenis minyak mentah dan tidak semua minyak dalam negeri bisa diterima kilang Pertamina.

”Bukan penyimpangan impor loh Pak. Kita melihat ada peningkatan kuota minyak mentah Pak,” kata Ahok saat menjadi saksi bagi terdakwa Muhammad Kerry Adrianto Riza dan kawan-kawan.

Menurut Ahok, Dewan Komisaris juga memanggil Direksi guna meminta penjelasan mengenai kilang Pertamina yang tidak menyerap seluruh minyak mentah dalam negeri.

“Dari Direksi dipanggil kami jadi paham, oh ternyata ini tidak semua kilang bisa ngolah. Setelah tahu teknis, kami paham tidak semua minyak mentah itu sama kualitas bisa diterima oleh kilang,” tutur Ahok.

Karena itu pula, jelasnya, Dewan Komisaris melihat bahwa kondisi meningkatnya kuota impor bukan kesalahan Direksi. ”Toh BPKP tidak ada temuan pengadaannya menyimpang atau tidak dan masih untung,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, karena kondisi demikian, maka Pertamina kemudian membuat aturan baru. Yakni, bahwa kilang bisa menolak minyak mentah dalam negeri yang tidak memenuhi kualitas.

Jaksa juga bertanya, terkait keberadaan minyak mentah yang diekspor di satu sisi, tetapi di sisi lain terdapat impor, baik minyak mentah maupun BBM. ”Apakah Saudara selaku Komisaris Utama pernah mendapatkan informasi atau laporan dari Direksi terkait adanya kondisi seperti ini?” tanya jaksa.

Ahok menjawab, bahwa secara teknis dia tidak menguasai. Tetapi yang harus dipahami, bahwa terdapat bermacam-macam jenis minyak mentah. ”Jadi ada jenis yang low sulfur, misalnya, itu harganya tinggi. Kita nggak butuh barang itu,” jawab Ahok.

Jadi, kata Ahok, jangan punya pemikiran bahwa semua produk minyak bumi yang menjadi bagian Pemerintah harus kita serap. Memang, secara teknis Ahok mengakui tidak menguasai. Namun dia tahu, bahwa sangat banyak jenis minyak mentah. Antara lain minyak low sulfur yang mahal atau ada juga minyak jenis heavy. Dan dari berbagai macam tersebut, kata dia, tidak semua dibutuhkan Pertamina.

”(Jadi) kita bicara dagang,” kata dia.

”Jadi kita pilih lebih baik kita ekspor tapi kita bisa beli impor dengan lebih murah, karena tugas kami adalah menghemat devisa negara," lanjut Ahok.

Pada bagian lain, jaksa juga bertanya apakah Ahok pernah mendapatkan informasi atau laporan temuan dari BPK misalnya terkait dengan kegiatan pengelolaan di hilir. ”Misalnya penjualan BBM misalnya. Yang kemudian Pertamina atau sub-holding kemudian menjual BBM di bawah market price yang telah ditetapkan? Ada informasi seperti itu Saudara pernah dapat?” tanya jaksa.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ahok mengaku bahwa dirinya tidak mencampuri operasional. Hanya saja, lanjut dia, terdapat anggota BPKP aktif dan pensiunan jenderal polisi lulusan terbaik yang sengaja ditempatkan sebagai Komisaris di Pertamina Patra Niaga.

Dan selama ini, lanjut Ahok, mereka tidak pernah melaporkan pada Dekom mengeai adanya penyimpangan. Termasuk laporan mengenai temuan BPK, menurut Ahok juga tidak pernah ada.

“Pertanyaaan saya, apakah pernah Saudara (menerima laporan mengenai) temuan BPK misalnya?” tanya jaksa.

”Tidak. Orang BPKP-nya jadi komisaris. Gak pernah laporan pak,” jawab Ahok.

”(Kalau) BPK,” lanjut jaksa.
”Tidak pernah Pak. Kalau ada, selalu dilaporkan kepada kami,” jawab Ahok lagi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

5 Poin Geger Kesaksian Ahok: Heran Kekuatan Riza Chalid, Sentil Menteri BUMN

5 Poin Geger Kesaksian Ahok: Heran Kekuatan Riza Chalid, Sentil Menteri BUMN

News | Rabu, 28 Januari 2026 | 10:07 WIB

Ahok Heran 'Kesaktian' Riza Chalid di Korupsi Minyak Pertamina: Sekuat Apa Sih Beliau?

Ahok Heran 'Kesaktian' Riza Chalid di Korupsi Minyak Pertamina: Sekuat Apa Sih Beliau?

News | Rabu, 28 Januari 2026 | 09:57 WIB

Ahok Beri Kesaksian dalam Kasus Korupsi Minyak Pertamina

Ahok Beri Kesaksian dalam Kasus Korupsi Minyak Pertamina

Foto | Selasa, 27 Januari 2026 | 19:04 WIB

Terkini

Investor Berpesta! IHSG Naik 5 Persen, AMMN dan DEWA Meroket

Investor Berpesta! IHSG Naik 5 Persen, AMMN dan DEWA Meroket

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 12:58 WIB

AS-Iran Damai: Pasar Melesat, Harga Minyak Diprediksi Terus Turun ke Level 70 Dolar

AS-Iran Damai: Pasar Melesat, Harga Minyak Diprediksi Terus Turun ke Level 70 Dolar

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 11:59 WIB

Utang Luar Negeri Membengkak Tembus Rp7.784 Triliun, Pemerintah Fokus Biayai 3 Sektor Ini

Utang Luar Negeri Membengkak Tembus Rp7.784 Triliun, Pemerintah Fokus Biayai 3 Sektor Ini

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 11:47 WIB

Bapanas Ultimatum Pedagang Beras, Stok Tembus Rekor 5,3 Juta Ton: Jangan Mainkan Harga!

Bapanas Ultimatum Pedagang Beras, Stok Tembus Rekor 5,3 Juta Ton: Jangan Mainkan Harga!

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 11:18 WIB

PIK2 Jadi Magnet Investor, PANI Bukukan Laba Rp578 Miliar dan Tebar Dividen

PIK2 Jadi Magnet Investor, PANI Bukukan Laba Rp578 Miliar dan Tebar Dividen

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 11:02 WIB

BRI Perluas Akses Investasi Global melalui BRImo, Hadirkan Reksa Dana USD Batavia

BRI Perluas Akses Investasi Global melalui BRImo, Hadirkan Reksa Dana USD Batavia

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 10:28 WIB

Rupiah Paling Perkasa di Asia, Pukul Mundur Dolar AS ke Level Rp17.726

Rupiah Paling Perkasa di Asia, Pukul Mundur Dolar AS ke Level Rp17.726

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:56 WIB

Kabar Baik bagi Konsumen, Harga Cabai dan Ayam Turun di Awal Pekan!

Kabar Baik bagi Konsumen, Harga Cabai dan Ayam Turun di Awal Pekan!

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:38 WIB

Diikuti 45.000 Peserta, BTN Jakim 2026 Dorong Jakarta Menuju Destinasi Sport Tourism Kelas Dunia

Diikuti 45.000 Peserta, BTN Jakim 2026 Dorong Jakarta Menuju Destinasi Sport Tourism Kelas Dunia

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:33 WIB

Investor Tahan Dulu, Harga Emas Antam Mulai Naik Lagi Jadi Rp 2.729.000/Gram

Investor Tahan Dulu, Harga Emas Antam Mulai Naik Lagi Jadi Rp 2.729.000/Gram

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:29 WIB