- Harga emas Antam 1 gram pada Selasa, 17 Maret 2026, turun menjadi Rp 2.982.000 per gram dari hari sebelumnya.
- Harga buyback emas Antam juga mengalami penurunan sebesar Rp 4.000, dengan harga beli kembali tercatat Rp 2.740.000 per gram.
- Penurunan harga emas dunia dipicu oleh memudarnya ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral AS karena inflasi global meningkat.
Suara.com - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Selasa, 17 Maret 2026 untuk ukuran satu dibanderol di harga Rp 2.982.000 per gram.
Dikutip dari situs Logam Mulia, harga emas Antam itu lagi-lagi turun Rp 4.000 dibandingkan Senin, 16 Maret 2026.
Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 2.740.000 per gram.
Harga buyback itu juga anjlok Rp 4.000 dibandingkan dengan harga buyback hari Senin kemarin.
Perlu diingat, harga tersebut belum termasuk pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen yang tidak memiliki NPWP. Pengenaan PPh ini sesuai dengan PMK Nomor 34/OMK.19/2017.3.
![Petugas melayanai warga yang memesan emas Antam di Butik Emas Logam Mulia Antam, TB Simatupang, Jakata (14/4/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/04/14/16037-emas-antam-ilustrasi-antam-harga-emas-antam.jpg)
Seperti dilansir dari laman resmi Logam Mulia Antam, berikut adalah harga emas antam setelah pajak pada hari ini:
- Emas 0,5 Gram Rp 1.547.860
- Emas 1 Gram Rp 2.995.470
- Emas 2 gram Rp 5.930.790
- Emas 3 gram Rp 8.871.123
- Emas 5 gram Rp 14.751.788
- Emas 10 gram Rp 29.448.438
- Emas 25 gram Rp 73.495.280
- Emas 50 gram Rp 147.911.363
- Emas 100 gram Rp 293.744.530
- Emas 250 gram Rp 734.095.663
- Emas 500 gram Rp 1.467.980.800
- Emas 1.000 gram Rp 2.935.921.500
Harga Emas Dunia Anjlok
Harga emas dunia kembali tertekan pada awal perdagangan Selasa di sesi Asia. Logam mulia tersebut diperdagangkan melemah tipis di kisaran USD 5.000 per troy ons, seiring memudarnya ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dalam waktu dekat.
Tekanan terhadap emas muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi global. Lonjakan harga minyak mentah yang masih bertahan di atas USD 100 per barel, dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dinilai menjadi faktor utama yang menahan ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Kondisi ini membuat emas—yang dikenal sebagai aset lindung nilai—justru kehilangan daya tariknya dalam jangka pendek, terutama karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
"Dengan harga minyak yang lebih tinggi, inflasi pun akan meningkat. Jika inflasi meningkat, bank sentral tidak akan termotivasi seperti enam bulan lalu untuk memangkas suku bunga, yang berdampak negatif bagi harga emas," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures seperti dikutip dari FXStreet.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Bank sentral AS secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50 persen–3,75 persen dalam pertemuan bulan Maret.
Meski demikian, harapan penurunan suku bunga belum sepenuhnya hilang. Analis memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter baru akan terjadi pada 2026, meskipun waktu dan besaran penurunannya masih belum pasti.
Bahkan, berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini hanya melihat peluang satu kali pemangkasan suku bunga pada Desember, setelah sebelumnya ekspektasi pemangkasan pada September mulai ditinggalkan.