-
Amerika Serikat memprotes keras terpilihnya Iran sebagai Wakil Presiden dalam Konferensi Nuklir NPT.
-
Iran dituding tidak transparan terhadap IAEA namun terpilih lewat dukungan kelompok non-blok.
-
Ketegangan ini memperuncing sengketa nuklir antara Teheran dan Washington di forum internasional.
Suara.com - Penunjukan Iran sebagai salah satu pimpinan dalam forum peninjauan senjata nuklir global memicu gejolak diplomatik hebat di markas besar PBB.
Langkah ini dianggap sebagai anomali besar mengingat rekam jejak transparansi nuklir Teheran yang terus menjadi sorotan dunia internasional.
Keputusan tersebut menempatkan Iran di posisi strategis dalam Konferensi Peninjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) ke-11 yang baru saja dimulai.

Dikutip dari CNA, Amerika Serikat secara terbuka menyatakan keberatan mendalam atas terpilihnya negara tersebut sebagai salah satu Wakil Presiden konferensi.
Sengketa ini memperlihatkan rapuhnya konsensus global dalam mengelola pengawasan energi atom di tengah tensi politik yang memanas.
Asisten Sekretaris Biro Pengendalian Senjata dan Non-proliferasi AS, Christopher Yeaw, melontarkan kritik pedas di hadapan para delegasi.

Yeaw menegaskan bahwa pemberian peran kepemimpinan kepada Teheran merupakan sebuah tindakan yang melukai semangat dasar perjanjian NPT.
"Tidak dapat disangkal bahwa Iran telah lama menunjukkan penghinaan terhadap komitmen non-proliferasi NPT," ujar Christopher Yeaw.
Ia merujuk pada keengganan Teheran dalam memberikan jawaban yang jelas kepada badan pengawas nuklir PBB selama beberapa tahun terakhir.
"Itu melampaui rasa malu dan memalukan bagi kredibilitas konferensi ini," tegas Christopher Yeaw mengenai penunjukan tersebut.
Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi, tidak tinggal diam menanggapi tudingan dari pihak Washington.
Najafi menilai pernyataan Amerika Serikat tersebut tidak memiliki dasar kuat dan sepenuhnya didorong oleh kepentingan politik sepihak.
"Sangat tidak dapat dipertahankan bahwa Amerika Serikat, sebagai satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir, mencari posisi sebagai penentu kepatuhan," kata Reza Najafi.
Ia juga menyoroti fakta bahwa Amerika Serikat justru terus memperluas dan memodernisasi gudang senjata nuklir milik mereka sendiri.
"Dan negara yang terus memperluas serta memodernisasi persenjataan nuklirnya... berupaya memposisikan dirinya sebagai arbiter kepatuhan," tambah Reza Najafi.