Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan telah merilis proposal perdamaian berisi 15 poin yang memuat tuntutan serta tawaran AS-Israel untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung dengan Iran.
Melalui mediasi Pakistan, dokumen tersebut telah disampaikan kepada pihak Teheran sebagai upaya meredakan konflik yang telah mengguncang stabilitas global sejak Februari lalu.
Meski Trump mengeklaim telah terjalin "percakapan yang sangat produktif" pekan ini, otoritas Iran secara konsisten membantah adanya dialog tersebut.
Para pemimpin Iran bahkan mengejek klaim tersebut dengan menyebut bahwa Amerika Serikat hanya sedang "bernegosiasi dengan dirinya sendiri."
Konflik yang dipicu oleh serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 ini telah memakan biaya yang sangat besar.
Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Iran per Selasa (24/3), setidaknya 1.500 orang tewas dan 18.551 lainnya luka-luka di wilayah Iran saja.
Secara global, perang ini telah mengacaukan pasar energi dan bursa saham. Penutupan Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)—jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia—telah melambungkan harga minyak mentah Brent hingga melampaui $100 per barel, naik signifikan dari harga sebelum perang di kisaran $65.
Bedah Fakta: 15 Poin Tuntutan AS-Israel
Rencana perdamaian yang bocor melalui laporan media Israel, Channel 12, mengusulkan gencatan senjata selama 30 hari sebagai langkah awal. Berikut adalah beberapa poin krusial dalam proposal tersebut:
- Dekonstruksi Nuklir: Pembongkaran fasilitas nuklir di Natanz, Isfahan, dan Fordow, serta penyerahan stok uranium yang diperkaya kepada IAEA.
- Pembatasan Militer: Batasan pada jumlah dan jangkauan rudal Iran, serta penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan.
- Keamanan Energi: Pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi di Teluk.
- Imbalan Diplomasi: Penghapusan seluruh sanksi terhadap Iran dan dukungan AS untuk pembangkit listrik nuklir sipil di Bushehr.
Dikutip dari Aljazeera, Israel dilaporkan menyetujui kerangka kerja ini "di balik pintu tertutup," namun mereka khawatir Trump akan memberikan terlalu banyak konsesi demi mencapai kesepakatan cepat.
Berbeda dengan konflik singkat pada Juni 2025 yang hanya berfokus pada situs nuklir, perang kali ini diwarnai dengan isu pergantian rezim. Media pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas di kantornya pada awal serangan (28/2).
Posisinya kini digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, sebuah penunjukan yang sempat dikritik Trump sebagai "kesalahan besar." Namun, menariknya, poin mengenai "pergantian rezim" tidak dicantumkan dalam 15 poin rencana perdamaian terbaru ini.
Respons Iran: "Bernegosiasi dengan Diri Sendiri"
Pihak militer Iran tetap pada posisi keras. Juru bicara komando militer gabungan Iran, Ebrahim Zolfaqari, menyatakan bahwa Iran tidak akan pernah bersepakat dengan pihak yang telah menyerang mereka dua kali dalam dua tahun terakhir di tengah proses negosiasi.
Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menunjukkan sikap yang sedikit lebih moderat. Ia menyatakan kesiapan untuk perdamaian asalkan hak-hak sah Iran diakui, adanya pembayaran ganti rugi (reparasi), dan jaminan internasional bahwa agresi serupa tidak akan terulang kembali.