- Aktivitas mencurigakan terjadi di pasar keuangan global sekitar 15 menit sebelum pernyataan Trump tentang Iran.
- Transaksi besar senilai total $2,1 miliar dipertaruhkan pada minyak dan S&P 500 sesaat sebelum pengumuman tersebut.
- Senator AS dan politisi Inggris menuntut penyelidikan mendalam atas dugaan kebocoran informasi tersebut, sementara Gedung Putih membantah.
Suara.com - Aktivitas mencurigakan di pasar keuangan global memicu sorotan tajam setelah sejumlah trader diduga meraup keuntungan besar hanya dalam hitungan menit, sebelum pernyataan mengejutkan dari Donald Trump soal peluang damai dengan Iran.
Lonjakan transaksi terjadi sekitar 15 menit sebelum Trump mengunggah pesan di platform Truth Social yang menyebut adanya pembicaraan produktif dengan pemerintah Iran.
Pernyataan itu langsung membalik arah pasar, dari harga minyak yang melonjak menjadi turun, serta indeks saham yang berbalik naik.
Dilansir dari Dailymail, data menunjukkan sekitar 600 juta dolar AS dipertaruhkan pada pergerakan harga minyak dalam waktu singkat.
Pada saat yang sama, sekitar 1,5 miliar dolar AS dipasang di indeks S&P 500.
Sejumlah analis menilai timing transaksi tersebut sangat tidak wajar.
![Pemerintah Iran menyatakan siap membuka akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal Jepang di tengah meningkatnya perang melawan AS dan Israel. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/23/31142-donald-trump.jpg)
“Trader bukan peramal. Jika posisi berubah beberapa menit sebelum berita besar, biasanya ada informasi yang bocor,” ujar analis pasar.
Reaksi keras datang dari kalangan politikus AS dan Inggris.
Senator AS Chris Murphy menyebut situasi ini sebagai skandal besar.
“Siapa yang terlibat? Trump? Keluarganya? Ini korupsi yang mencengangkan,” tegasnya.
Sementara itu, politisi Inggris John Glen meminta penyelidikan menyeluruh.
“Ini terlihat sangat tidak biasa. Sangat menjijikkan jika ada yang mengambil keuntungan dari perang,” katanya.
Pakar pasar juga memperingatkan dampak jangka panjang terhadap kepercayaan investor.
“Pasar hanya bekerja jika semua pihak memiliki akses informasi yang sama. Jika tidak, kepercayaan bisa runtuh,” ujar seorang analis pasar.
Namun, pihak Gedung Putih membantah tuduhan tersebut.