- Pemerintah memperkuat diversifikasi sumber energi sebagai antisipasi ketidakpastian pasokan minyak dari Selat Hormuz.
- Kementerian ESDM intensif koordinasi dengan Kemenlu demi menjamin keselamatan pelayaran kapal Indonesia di Selat Hormuz.
- Pertamina menyiapkan teknis operasional serta telah menerima tanggapan positif dari pihak Iran terkait isu keamanan pelayaran.
Suara.com - Pemerintah mulai memperkuat strategi diversifikasi sumber energi sebagai langkah antisipasi ketidakpastian pasokan global, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Upaya ini dilakukan seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu kelancaran distribusi energi. Pemerintah pun bergerak cepat dengan memperluas sumber impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) dari berbagai kawasan di luar Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menyampaikan bahwa langkah diversifikasi ini dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memastikan pasokan tetap aman.
![Ilustrasi konflik AS-Israel-Iran di selat hormuz picu kenaikan pangan internasional [Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/12/96523-ilustrasi-selat-hormuz.jpg)
"Kementerian ESDM terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan proses pelintasan kapal Indonesia di Selat Hormuz dapat berjalan aman dan lancar. Dalam proses tersebut, tidak hanya soal muatan, tapi keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama pemerintah," ujar Anggia di Jakarta, Minggu (29/3).
Selain menjaga kelancaran distribusi, pemerintah juga membuka opsi pasokan energi dari berbagai negara sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk memperluas sumber impor minyak.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, memastikan bahwa koordinasi dengan pihak Iran terus dilakukan guna menjamin keamanan kapal Indonesia yang melintas di kawasan tersebut.
"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran. Saat ini, hal tersebut tengah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional," kata Nabyl.
Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, Pertamina International Shipping (PIS), juga tengah menyiapkan aspek teknis dan administratif agar kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam proses tersebut.
"Prioritas kami tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat berjalan dengan baik," ujar Baron.
Sebagai informasi, sepanjang 2025 Indonesia mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah. Sekitar 19 persen di antaranya berasal dari Arab Saudi, sementara sisanya dipasok dari berbagai wilayah lain seperti Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, Malaysia, hingga negara lainnya.
Diversifikasi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap satu kawasan tertentu sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika global yang terus berubah.