Rencana awalnya, megaproyek ini akan dibangun di Bojanegara, Banten, di bawah skema konsorsium gabungan di mana NIORDC memegang 40 persen saham, Pertamina menguasai 40 persen, dan sisa 20 persen dikantongi oleh korporasi asal Malaysia, Petrofield.
Meskipun restu dan izin administrasi telah dikantongi dari Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM serta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada tahun 2008, proyek strategis tersebut hingga kini belum pernah terwujud menjadi bangunan fisik operasional, tanpa alasan jelas.
Geliat kerja sama sempat berembus kembali pada tahun 2014 ketika sebuah korporasi migas asal Iran menyatakan komitmen mereka untuk memasok minyak mentah guna menghidupkan kilang-kilang pengolahan di Indonesia.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM pada masa itu, Naryanto Wagimin, seusai mendampingi delegasi Kementerian Energi Iran untuk bertemu dengan Menteri ESDM Sudirman Said, menegaskan antusiasme pemerintah dalam menyambut niat baik tersebut.
"Kami akan bahas lebih jauh dalam working group (tim teknis)," kata Naryanto.
Menurut klaim informasi dari pihak Kedutaan Besar Iran saat itu, spesifikasi teknis minyak mentah yang ditawarkan dinilai sangat presisi dan cocok dengan karakter kilang pengolahan milik PT Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah.
Namun sayang, kelanjutan dari hasil pertemuan tim teknis tersebut kembali menguap begitu saja.
Tawaran Kilang Bontang dan Realitas di Tahun 2026
Babak negosiasi berikutnya kembali terjadi pada tahun 2016. Saat itu, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja, menghadiri kegiatan Sidang Komisi Bersama di Jakarta.
Dalam forum bilateral tersebut, Iran secara terbuka melayangkan proposal minat untuk membangun dua unit kilang minyak baru di wilayah Indonesia, menyasar sektor kilang swasta serta keterlibatan di Kilang Bontang untuk dikelola bersama dengan Pertamina.
Estimasi kapasitas pengolahan kilang yang diusulkan oleh pihak delegasi Iran berkisar antara 100.000 hingga 300.000 barel per hari.
Dalam paparannya mengenai kesiapan jaminan bahan baku, Wiratmaja menyampaikan, “Nanti supply crude-nya dari mereka,” menandakan kesanggupan Iran menjamin ketersediaan bahan mentah secara kontinu.
Meskipun demikian, realisasi pengerjaan fisik proyek energi ini selalu dihadang oleh restriksi finansial akibat sanksi ekonomi global yang dijatuhkan dunia barat kepada Iran, yang membuat banyak korporasi maupun lembaga perbankan ragu untuk mengeksekusi pendanaan.
Walaupun pengerjaan kilang terhambat, Pertamina sebenarnya sukses menjalin kemitraan pasokan komoditas gas LPG dengan volume mencapai 88.000 ton di tahun 2016 untuk kebutuhan nasional.
Hingga menginjak kuartal awal tahun 2026 ini, potret kerja sama infrastruktur fisik kilang minyak antara Indonesia dan Iran masih berada pada titik vakum tanpa proyek aktif yang berjalan di lapangan.