- Harga emas antam berbalik naik Rp15.000 per gram, sementara harga buyback juga meningkat Rp19.000.
- Harga global cenderung datar karena investor menunggu perkembangan konflik dan kebijakan suku bunga.
- Ekspektasi suku bunga tinggi dari Federal Reserve mengurangi daya tarik emas meski risiko geopolitik meningkat.
Suara.com - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Selasa, 7 April 2026 untuk ukuran satu dibanderol di harga Rp 2.850.000 per gram.
Dikutip dari situs Logam Mulia, harga emas Antam itu berbalik naik Rp 15.000 dibandingkan Senin, 6 April 2026.
Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 2.569.000 per gram.
Harga buyback itu ikut melonkal Rp 19.000 dibandingkan dengan harga buyback hari Senin kemarin.
![Pengunjung menunjukkan logam mulia Antam yang dibeli di Jakarta, Jumat (27/3/2026). [ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wpa].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/06/86688-emas-antam-antam.jpg)
Perlu diingat, harga tersebut belum termasuk pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen yang tidak memiliki NPWP. Pengenaan PPh ini sesuai dengan PMK Nomor 34/OMK.19/2017.3.
Seperti dilansir dari laman resmi Logam Mulia Antam, berikut adalah harga emas antam setelah pajak pada hari ini:
- 0.5 gram: Rp 1.478.688
- 1 gram: Rp 2.857.125
- 2 gram: Rp 5.654.100
- 3 gram: Rp 8.456.088
- 5 gram: Rp 14.060.063
- 10 gram: Rp 28.064.988
- 25 gram: Rp 70.036.655
- 50 gram: Rp 139.994.113
- 100 gram: Rp 279.910.030
- 250 gram: Rp 699.509.413
- 500 gram: Rp 1.398.808.300
- 1000 gram: Rp 2.797.576.500
Emas Dunia Stabil
Harga emas dunia bergerak stabil pada perdagangan Selasa, di tengah sikap hati-hati investor yang menanti perkembangan terbaru terkait konflik di Timur Tengah.
Mengutip laporan Reuters, harga emas spot tercatat turun tipis 0,1 oersen menjadi 4.640,93 dolar AS per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni melemah 0,4 persen ke level 4.666,70 dolar AS.
Pergerakan harga emas cenderung tertahan seiring meningkatnya ketidakpastian global, khususnya terkait tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
"Semua orang sedang dalam mode menunggu apa pun hasil dari pidato panjang yang telah disampaikan Presiden selama beberapa hari terakhir," kata Ilya Spivak, kepala makro global di Tastylive.
Iran sebelumnya menegaskan menginginkan akhir permanen dari konflik dengan AS dan Israel, serta menolak tekanan untuk membuka kembali jalur strategis tersebut. Di sisi lain, Trump memperingatkan bahwa Iran bisa 'disingkirkan' jika tidak memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan.
Di tengah ketegangan tersebut, harga minyak dunia masih bertahan di atas 110 dolar AS per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi. Namun, kenaikan suku bunga yang berpotensi dipertahankan oleh bank sentral AS, Federal Reserve, justru mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Pejabat The Fed, seperti Beth Hammack dan Austan Goolsbee, menilai inflasi masih menjadi perhatian utama dibandingkan pasar tenaga kerja, sehingga mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat.