- Konflik global picu kelangkaan bahan baku plastik, hambat distribusi gabah akibat krisis karung.
- Waktu logistik laut membengkak hingga 60 hari, picu kenaikan biaya distribusi barang nasional.
- Harga avtur dunia melonjak, berdampak pada kenaikan tiket pesawat domestik hingga 13 persen.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), blak-blakan mengenai dampak ngeri konflik geopolitik global yang mulai merembet ke sendi-sendi ekonomi domestik. Tak main-main, gangguan rantai pasok kini menyasar sektor pangan hingga logistik udara.
Usai bertemu organisasi kemahasiswaan di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (7/4/2026), Zulhas mengungkapkan bahwa ketegangan di Timur Tengah, terutama serangan melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, telah menciptakan efek domino yang nyata.
Salah satu dampak yang cukup mengejutkan adalah kelangkaan bahan baku plastik. Hal ini berujung pada sulitnya petani mendapatkan karung untuk mendistribusikan hasil panen.
"Plastik itu luar biasa naiknya. Tadi ada yang mengadu kepada saya dari Kalimantan Barat mau beli gabah, karungnya enggak ada. Karena karungnya dari plastik," ujar Zulhas dengan nada prihatin.
Bukan hanya urusan karung, sektor transportasi pun babak belur. Zulhas menjelaskan bahwa gangguan jalur pelayaran internasional memaksa kapal-kapal memutar arah, yang secara otomatis membengkakkan biaya dan waktu tempuh.
"Yang tadinya bisa 20 hari, sekarang bisa 60 hari. Tentu ongkos naik," jelasnya.
Kondisi ini diperparah dengan merangkaknya harga avtur. Menurut Zulhas, kenaikan harga bahan bakar pesawat ini memicu lonjakan biaya transportasi udara yang mencapai angka belasan persen.
"Avtur yang naik sehingga juga ongkos pesawat boleh (naik) 13 persen," tambahnya.
Meski tekanan dari sisi logistik dan bahan baku kian nyata, Ketua Umum PAN ini meminta masyarakat tidak panik. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan langkah antisipasi agar dampak konflik global tidak melumpuhkan ekonomi nasional.
Zulhas optimis Indonesia memiliki daya tahan yang lebih solid dibandingkan negara-negara lain yang mengalami guncangan serupa.
"Dibanding negara-negara lain, alhamdulillah kita jauh lebih siap dan kita jauh lebih baik," pungkasnya.