- Presiden Prabowo jitu prediksi krisis global; kebijakan antisipatif langsung dijalankan.
- Pemerintah percepat swasembada pangan dari target lima tahun menjadi hanya satu tahun.
- Indonesia lebih siap hadapi krisis geopolitik dibanding negara lain meski logistik terdampak.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menegaskan bahwa Indonesia berada dalam posisi yang jauh lebih siap dibandingkan banyak negara lain dalam menghadapi badai krisis global. Gejolak yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah ini dinilai telah diantisipasi dengan matang oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Zulhas mengungkapkan bahwa situasi dunia yang "sedang tidak baik-baik saja" sudah diprediksi sejak awal oleh Presiden Prabowo. Hal inilah yang mendasari lahirnya kebijakan strategis yang tepat sasaran.
"Kita bersyukur ya di waktu yang tepat punya Presiden juga yang tepat ya, Pak Prabowo, yang bisa mengantisipasi keadaan ini akan terjadi seperti ini. Bahwa akan ada perang, dunia yang tidak baik-baik saja sudah diprediksi, sehingga Presiden mengambil kebijakan yang tepat," ujar Zulhas di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Menurut Ketua Umum PAN ini, pemerintah tidak sekadar menunggu bola. Sejumlah langkah antisipatif telah disiapkan jauh-jauh hari, mencakup penguatan sektor pangan, energi, hingga hilirisasi industri.
Bahkan, Zulhas menyebut ada instruksi khusus untuk melakukan percepatan pada program-program vital yang semula ditargetkan selesai dalam lima tahun.
"Pertama, kita harus swasembada pangan. Dua, kita harus swasembada energi. Tiga, kita harus hilirisasi. Nah, kebijakan-kebijakan yang sedianya lima tahun, dipercepat. Seperti pangan itu satu tahun," tegasnya.
Percepatan ini, lanjutnya, menjadi modal utama bagi ketahanan nasional di tengah ketidakpastian global yang masih menghantui ekonomi dunia.
Meski mengklaim posisi Indonesia lebih unggul dari negara lain yang kurang siap, Zulhas tetap bersikap realistis. Ia mengakui bahwa dampak krisis global tetap merembes ke pasar domestik, terutama pada sektor logistik dan ketersediaan bahan baku.
"Ya, memang ada beberapa saya akui dampak itu terasa ya," akunya di hadapan organisasi kemahasiswaan dan pemuda.
Namun, ia memastikan pemerintah tidak tinggal diam. Langkah mitigasi terus dilakukan secara komprehensif mulai dari sektor peternakan, perikanan, perdagangan, hingga penguatan UMKM agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
"Jadi saudara-saudara, kita syukuri, saya sampaikan kepada teman-teman, keadaan kita jauh lebih baik dibanding negara-negara lain yang kurang siap," pungkas Zulhas.