- Harga Pertamax naik ke Rp16.250 per liter, keluhan ojol menguat.
- Biaya operasional pengemudi ojol melonjak, pendapatan terancam turun.
- Pengemudi mendesak penyesuaian tarif seiring kenaikan harga BBM.
Suara.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax Series yang diberlakukan PT Pertamina Patra Niaga menuai keluhan dari kalangan pengemudi ojek online (ojol). Mereka menilai lonjakan harga tersebut akan menambah beban operasional harian dan berpotensi memangkas pendapatan yang selama ini sudah tertekan oleh kenaikan berbagai kebutuhan hidup.
Bahrudin (65), seorang pengemudi ojol yang mangkal di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, mengaku merasakan dampak langsung dari kebijakan tersebut. Menurutnya, biaya bahan bakar merupakan komponen utama pengeluaran yang harus ditanggung setiap hari.
"Kalau BBM kan tiap hari ngisi. Terasa pukulan berat," ujar Bahrudin kepada Suara.com, Rabu (10/6/2026).
Ia menilai kenaikan harga Pertamax dilakukan secara mendadak tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi tekanan akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
"Jangan asal menaikkan harga BBM, karena imbasnya ke mana-mana. Apalagi sekarang harga-harga pada naik," katanya.
Seperti diketahui, harga Pertamax (RON 92) melonjak menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara Pertamax Green 95 naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter.
Bahrudin mengaku dalam sehari menghabiskan sekitar 3 hingga 4 liter BBM, tergantung jarak tempuh yang ditempuh. Ia tetap memilih menggunakan Pertamax karena dinilai lebih baik untuk menjaga performa mesin kendaraannya dibandingkan BBM bersubsidi.
Dengan kenaikan harga tersebut, biaya operasional yang harus dikeluarkan menjadi jauh lebih besar. Karena itu, ia berharap pemerintah maupun perusahaan aplikasi mempertimbangkan penyesuaian tarif layanan ojol agar pengemudi tidak menanggung seluruh beban kenaikan biaya.
Sebagai langkah penghematan, Bahrudin kini mulai menyiasati penggunaan BBM dengan mencampur Pertamax dan Pertalite atau menggunakannya secara bergantian.
Keluhan serupa disampaikan Rohman (34), pengemudi ojol lainnya. Ia menilai lonjakan harga Pertamax kali ini tergolong sangat tinggi dan memberatkan pengemudi yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk mencari nafkah.
Menurut Rohman, kenaikan harga BBM seharusnya diikuti dengan penyesuaian tarif angkutan daring. Namun, ia pesimistis tuntutan tersebut akan segera direalisasikan karena sudah lama disuarakan oleh para pengemudi.
"Itu BBM naik, seharusnya dibarengi juga tarif naik. Tapi sampai sekarang enggak. Cuma demo-demo aja," ujarnya.
Kondisi ini menambah tekanan terhadap para pengemudi ojol yang harus menghadapi kenaikan biaya operasional di tengah persaingan yang semakin ketat dan belum adanya kepastian peningkatan tarif layanan. Jika tidak ada penyesuaian pendapatan, kenaikan harga BBM dikhawatirkan semakin menggerus margin penghasilan harian para mitra pengemudi.