Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.185,783
LQ45 612,558
Srikehati 299,552
JII 369,759
USD/IDR 17.990

Dilema Pertamina Naikkan Harga Pertamax, Ekonom: Kalau Ditahan Terus Bisa Gerus Keuangan Negara

Mohammad Fadil Djailani, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:22 WIB
Dilema Pertamina Naikkan Harga Pertamax, Ekonom: Kalau Ditahan Terus Bisa Gerus Keuangan Negara
Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax Series dinilai menjadi langkah yang sulit dihindari di tengah lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Foto Antara.
baca 10 detik
  • Pertamina dinilai sulit terus menahan harga Pertamax di bawah harga pasar.
  • Dana talangan Pertamina terbatas dan berisiko gerus laba perusahaan.
  • Investor bisa menjauh jika kondisi keuangan Pertamina memburuk.

Suara.com - Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax Series dinilai menjadi langkah yang sulit dihindari di tengah lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Sejumlah ekonom menilai PT Pertamina (Persero) berada dalam posisi serba sulit karena harus memilih antara menjaga harga tetap rendah atau mempertahankan kesehatan keuangan perusahaan.

Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, mengatakan Pertamina selama ini masih mengandalkan dana talangan internal untuk menahan harga Pertamax agar tidak langsung mengikuti harga pasar. Namun, skema tersebut memiliki keterbatasan karena Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang tidak mendapatkan dukungan anggaran dari pemerintah.

"Dana talangan Pertamina ini juga terbatas. Karena Pertamax ini kan BBM nonsubsidi. Tidak ada subsidi APBN di dalamnya. Jadi memang murni mengikuti harga pasar," ujar Hendry dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, jika Pertamina terus menanggung selisih harga jual dengan harga keekonomian, keuntungan perusahaan berpotensi tergerus. Kondisi itu tidak hanya berdampak pada kinerja korporasi, tetapi juga berisiko mengurangi kontribusi dividen yang disetorkan ke negara.

Selain itu, tekanan terhadap profitabilitas perusahaan dapat memengaruhi persepsi investor dan lembaga pemeringkat terhadap kondisi keuangan Pertamina.

"Investor melihat rasio keuntungan dan kinerja keuangan. Kalau terus merugi, siapa yang mau berinvestasi?" katanya.

Hendry menilai, dalam jangka pendek, penyesuaian harga Pertamax menjadi opsi yang lebih realistis dibandingkan terus memperbesar dana talangan. Sebab, beban keuangan yang terus meningkat dikhawatirkan dapat mengganggu keberlanjutan bisnis perusahaan sekaligus membebani keuangan negara.

Senada dengan itu, pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, menilai penggunaan dana talangan untuk menahan harga BBM sebenarnya hanya menunda beban pembayaran, bukan menghilangkannya.

Menurut Yayan, selisih harga yang ditanggung Pertamina pada akhirnya akan menjadi klaim kompensasi yang harus dibayarkan pemerintah. Dengan kata lain, beban fiskal hanya bergeser ke waktu yang berbeda.

baca juga

"Kalau sekarang Pertamina punya klaim bahwa nanti akan mendapat kompensasi, ya kompensasi itu pasti ditagihkan ke pemerintah," ujarnya.

Ia mengingatkan, mempertahankan harga Pertamax jauh di bawah harga keekonomian berpotensi mengurangi penerimaan negara dari sektor migas. Di sisi lain, kemampuan Pertamina untuk terus menanggung selisih harga juga memiliki batas demi menjaga kesehatan keuangan perusahaan.

Yayan menambahkan, memburuknya kondisi keuangan Pertamina dapat memberikan sinyal negatif bagi investor, terutama yang ingin menanamkan modal di sektor energi nasional.

"Kalau investor melihat kondisi keuangan Pertamina memburuk, tentu minat investasi di sektor migas Indonesia juga akan ikut turun," katanya.

Di tengah tekanan global yang masih tinggi, para ekonom menilai keseimbangan antara menjaga daya beli masyarakat dan menjaga kesehatan keuangan Pertamina menjadi tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah maupun perusahaan energi pelat merah tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

Di Balik Narasi 'BBM Non-Subsidi': Mengapa Rakyat Kecil Tetap Tercekik Kenaikan Harga Pertamax?

News | Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:15 WIB

Sepanjang Tahun 2025, Pertamina EP Cepu Torehkan Kinerja Moncer

Sepanjang Tahun 2025, Pertamina EP Cepu Torehkan Kinerja Moncer

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:48 WIB

Mengapa Pertamax Naik? Teddy Indra Wijaya Ungkap 3 Alasannya

Mengapa Pertamax Naik? Teddy Indra Wijaya Ungkap 3 Alasannya

News | Jum'at, 12 Juni 2026 | 20:36 WIB

Terkini

Dari Made in Indonesia ke Made by Indonesia, Mendorong Produk Lokal Naik Kelas

Dari Made in Indonesia ke Made by Indonesia, Mendorong Produk Lokal Naik Kelas

Lifestyle | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:11 WIB

Presiden Prabowo Diminta Segera Evaluasi Kinerja Mendag, Ada Apa?

Presiden Prabowo Diminta Segera Evaluasi Kinerja Mendag, Ada Apa?

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:08 WIB

Abdul Wahid Menunggu Vonis, Berharap Putusan Benar-benar Adil

Abdul Wahid Menunggu Vonis, Berharap Putusan Benar-benar Adil

Riau | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:02 WIB

Puluhan Tangki Tiap Musim Kemarau Tak Selesaikan Masalah, Warga Kemesu Minta Pencarian Sumber Air

Puluhan Tangki Tiap Musim Kemarau Tak Selesaikan Masalah, Warga Kemesu Minta Pencarian Sumber Air

Jogja | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:01 WIB

Kasus Hutan Lindung Tanjung Piayu, PT GTP Resmi Jadi Tersangka Korporasi

Kasus Hutan Lindung Tanjung Piayu, PT GTP Resmi Jadi Tersangka Korporasi

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 20:57 WIB

9 Rekomendasi Parfum yang Cocok untuk Zodiak Taurus, HMNS hingga Mykonos

9 Rekomendasi Parfum yang Cocok untuk Zodiak Taurus, HMNS hingga Mykonos

Lifestyle | Selasa, 28 Juli 2026 | 20:55 WIB

Kebakaran Hebat Landa Permukiman Padat di Kebayoran Lama, 28 Unit Damkar Dikerahkan

Kebakaran Hebat Landa Permukiman Padat di Kebayoran Lama, 28 Unit Damkar Dikerahkan

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 20:52 WIB

Strategi Pemerintah Siapkan Hidrogen Jadi Bahan Bakar Masa Depan RI

Strategi Pemerintah Siapkan Hidrogen Jadi Bahan Bakar Masa Depan RI

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 20:51 WIB

Pakar Desak Tim 9 Bongkar Pihak Lain yang Punya Kuasa Lebih Besar dari Febrie Adriansyah

Pakar Desak Tim 9 Bongkar Pihak Lain yang Punya Kuasa Lebih Besar dari Febrie Adriansyah

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 20:48 WIB

Puluhan Siswa TK Gaya Baru Solo Belajar di Atap yang Kondisinya Membahayakan

Puluhan Siswa TK Gaya Baru Solo Belajar di Atap yang Kondisinya Membahayakan

Surakarta | Selasa, 28 Juli 2026 | 20:47 WIB

×