- Indeks Harga Saham Gabungan melemah 0,83 persen ke level 6.202 pada perdagangan sesi pertama Rabu, 17 Juni 2026.
- Penurunan dipicu aksi ambil untung investor setelah indeks melonjak signifikan pada sesi perdagangan di hari sebelumnya.
- Tekanan utama berasal dari sektor industri, energi, dan transportasi, dengan nilai transaksi mencapai Rp16,26 triliun di pasar.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah kembali pada perdagangan sesi I Rabu, 17 Juni 2026. IHSG ditutup di level 6.202 atau turun 52,497 poin setara 0,839 persen.
Mengutip riset Phintraco Sekuritas, IHSG sempat dibuka di level 6.321 dan bergerak dalam rentang 6.200 hingga 6.377.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp16,26 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 20,10 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 1,51 juta kali.
![Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Usai libur Lebaran, IHSG sempat melemah 22,22 poin atau 0,31 persen ke level 7.084,62 dan bergerak berbalik arah menguat 1,05 persen atau naik 75 poin ke level 7.181,65 setelah beberapa menit dibuka. [ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/01/98492-ihsg.jpg)
Meski terkoreksi, posisi IHSG masih berada jauh di atas level terendah tahun 2026 di 5.342,14. Adapun posisi tertinggi indeks sepanjang tahun ini masih berada di level 9.134,70.
Dari sisi sektoral, tekanan terbesar datang dari saham-saham industri yang tercermin dari pelemahan indeks sektor industrial sebesar 2,15 persen. Selain itu, sektor energi turun 1,97 persen dan sektor transportasi melemah 1,45 persen.
Sebaliknya, sektor barang konsumsi primer atau non-cyclical menjadi satu-satunya sektor yang mencatat penguatan dengan kenaikan 0,52 persen.
Saham-saham berkapitalisasi besar masih mendominasi nilai transaksi pada sesi pertama. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor terbesar dengan harga naik 1,20 persen ke level 6.350.
Selain BBCA, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga menguat 1,67 persen ke level 3.040. Sementara saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) justru terkoreksi tajam 5,71 persen ke posisi 1.980.
Pada indeks LQ45, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) menjadi top gainers setelah melesat 4,88 persen ke level 645. Disusul saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang naik 3,43 persen ke level 905 dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang menguat 2,25 persen ke level 1.590.
Di sisi lain, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi top losers LQ45 setelah anjlok 6,04 persen ke level 700. Kemudian saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 4,52 persen dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melemah 3,92 persen.
Untuk indeks Jakarta Islamic Index (JII), saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memimpin penguatan dengan kenaikan 1,96 persen ke level 520. Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 1,71 persen dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menguat 1,50 persen.
Sementara itu, pelemahan terdalam pada JII masih dipimpin TPIA yang turun 5,71 persen, diikuti ADMR yang melemah 3,92 persen dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang terkoreksi 3,78 persen.
Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.740 per dolar Amerika Serikat atau melemah 0,28 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Adapun pergerakan bursa regional cenderung bervariasi. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,41 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong turun 0,37 persen dan Shanghai Composite melemah 0,18 persen.
Koreksi IHSG pada sesi pertama terjadi setelah indeks melonjak lebih dari 4 persen pada perdagangan sebelumnya, sehingga sebagian investor memanfaatkan momentum untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking), terutama pada saham-saham sektor energi dan industri.