Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.740.000
Beli Rp2.605.000
IHSG 6.220,740
LQ45 625,233
Srikehati 305,996
JII 376,405
USD/IDR 17.748

Jeffrey Hendrik Jadi Bos Baru BEI, Core Indonesia: Investor Lebih Peduli Kondisi Ekonomi RI!

Mohammad Fadil Djailani, Rina Anggraeni

Kamis, 18 Juni 2026 | 17:42 WIB
Jeffrey Hendrik Jadi Bos Baru BEI, Core Indonesia: Investor Lebih Peduli Kondisi Ekonomi RI!
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Foto Rina-Suara.com
baca 10 detik
  • Investor nilai ekonomi RI lebih penting daripada sosok Dirut BEI.
  • Ketidakpastian DHE SDA masih jadi perhatian utama pasar.
  • Jeffrey ditantang lanjutkan reformasi dan perkuat transparansi BEI.

Suara.com - Terpilihnya Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2026-2030 dinilai menjadi momentum penting bagi pengembangan pasar modal nasional. Namun, pelaku pasar disebut tidak akan serta-merta menjadikan pergantian pucuk pimpinan bursa sebagai faktor utama dalam menentukan keputusan investasi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menegaskan bahwa investor global maupun domestik lebih memperhatikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, kepastian arah kebijakan pemerintah, serta prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang dibanding sekadar figur yang memimpin BEI.

"Figur memang akan dinilai oleh market, tetapi bukan faktor utama. Investor tetap akan melihat bagaimana kondisi fundamental perekonomian kita dan bagaimana tata kelola ekonomi dijalankan," ujar Yusuf di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, sejumlah ketidakpastian kebijakan masih menjadi perhatian utama investor. Salah satunya adalah keberlanjutan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang hingga kini belum memberikan kejelasan terkait implementasi lanjutan maupun kemungkinan perluasan sektor yang diwajibkan menempatkan devisa ekspornya di dalam negeri.

Yusuf menilai ketidakjelasan arah regulasi tersebut justru memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap minat investasi dibanding pergantian kepemimpinan di lantai bursa.

"Ketidakpastian mengenai kebijakan DHE SDA, arah regulasi ekonomi, dan prospek investasi Indonesia menjadi faktor yang lebih menentukan minat investor dibandingkan pergantian kepemimpinan di BEI," katanya.

Selain itu, investor juga disebut akan mencermati berbagai kebijakan ekonomi pemerintah yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan. Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang dikaitkan dengan independensi Bank Indonesia.

Menurut Yusuf, persepsi investor terhadap independensi bank sentral akan menjadi salah satu indikator penting sebelum mereka meningkatkan eksposur investasi di Indonesia.

"Investor akan melihat apakah revisi P2SK akan memengaruhi independensi Bank Indonesia atau tidak. Itu juga menjadi pertimbangan mereka untuk masuk ke pasar Indonesia," ujarnya.

baca juga

Di sisi lain, Jeffrey Hendrik menghadapi tantangan besar untuk menjaga momentum reformasi pasar modal yang telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir. Yusuf menilai pekerjaan rumah terbesar bagi manajemen baru BEI adalah memastikan berbagai agenda strategis tetap berlanjut, termasuk menindaklanjuti sejumlah catatan dari MSCI terkait peningkatan kualitas dan daya saing pasar modal Indonesia.

Ia menekankan bahwa penguatan pasar modal tidak dapat dilakukan oleh BEI seorang diri. Sinergi yang kuat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah, dan regulator ekonomi lainnya menjadi syarat mutlak untuk meningkatkan kepercayaan investor.

"Pak Jeffrey perlu melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak. Tidak bisa dilakukan sendiri. Komunikasi dengan OJK maupun otoritas ekonomi lainnya menjadi sangat penting," katanya.

Lebih lanjut, fokus utama BEI ke depan dinilai tetap berada pada upaya memperkuat transparansi, memperdalam likuiditas pasar, serta melanjutkan reformasi yang telah dirintis oleh kepemimpinan sebelumnya.

Yusuf menegaskan bahwa sebagian besar agenda pengembangan pasar modal Indonesia sebenarnya sudah berada di jalur yang benar. Karena itu, tantangan terbesar Jeffrey bukanlah memulai perubahan dari nol, melainkan memastikan kesinambungan reformasi agar pasar modal Indonesia semakin kompetitif di tengah persaingan investasi global yang semakin ketat.

Dengan kata lain, sukses atau tidaknya kepemimpinan Jeffrey Hendrik nantinya tidak hanya diukur dari kinerja Bursa Efek Indonesia, tetapi juga dari kemampuannya membangun kolaborasi dengan regulator dan pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang lebih pasti, transparan, dan menarik bagi investor dunia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Luhut Warning Prabowo: Ancaman Ekonomi Mengintai RI Setelah Juli 2026

Luhut Warning Prabowo: Ancaman Ekonomi Mengintai RI Setelah Juli 2026

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 14:48 WIB

Sah! OJK Restui Jeffrey Hendrik Jadi Bos BEI 2026-2030, Ini Susunan Lengkap Direksinya

Sah! OJK Restui Jeffrey Hendrik Jadi Bos BEI 2026-2030, Ini Susunan Lengkap Direksinya

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 14:31 WIB

Free Float Seret, FPNI Belum Kantongi Strategi Pasti Penuhi Ketentuan BEI

Free Float Seret, FPNI Belum Kantongi Strategi Pasti Penuhi Ketentuan BEI

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 16:40 WIB

Terkini

Tak Boleh Asal, Pedagang Harus Punya NIB Jika Mau Jualan di E-Commerce

Tak Boleh Asal, Pedagang Harus Punya NIB Jika Mau Jualan di E-Commerce

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 17:40 WIB

Bahlil Buka Peluang Harga Batu Bara PLN Naik, Pengusaha Tambang Jangan Sampai Merugi

Bahlil Buka Peluang Harga Batu Bara PLN Naik, Pengusaha Tambang Jangan Sampai Merugi

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 17:15 WIB

Sistem PT DSI Belum Teruji, Pelaku Usaha Batu Bara Cemas Jelang Evaluasi Perdana

Sistem PT DSI Belum Teruji, Pelaku Usaha Batu Bara Cemas Jelang Evaluasi Perdana

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 17:10 WIB

Harta Karun Ekspor Komoditas RI Rp1.152 Triliun, Danantara Diminta Perkuat Pengawasan

Harta Karun Ekspor Komoditas RI Rp1.152 Triliun, Danantara Diminta Perkuat Pengawasan

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:23 WIB

BBM Naik 37%, Motor Listrik Jadi Jalan Keluar? Ini Kata Pelaku Industri

BBM Naik 37%, Motor Listrik Jadi Jalan Keluar? Ini Kata Pelaku Industri

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:12 WIB

Minyak Dunia Sudah Murah, Kok Harga Pertamax Belum Juga Turun?

Minyak Dunia Sudah Murah, Kok Harga Pertamax Belum Juga Turun?

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10 WIB

Pelaku Usaha Wajib Tahu! Cara Mudah Legalkan Dokumen Elektronik

Pelaku Usaha Wajib Tahu! Cara Mudah Legalkan Dokumen Elektronik

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:07 WIB

Pemerintah Diminta Perkuat Fiskal dan Transformasi Sektor Riil

Pemerintah Diminta Perkuat Fiskal dan Transformasi Sektor Riil

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:07 WIB

PLTS Atap Mulai Laris Manis Dipakai Industri untuk Sumber Listrik Operasional

PLTS Atap Mulai Laris Manis Dipakai Industri untuk Sumber Listrik Operasional

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:59 WIB

Kenaikan BI-Rate Belum Ampuh, Rupiah Tetap Loyo ke Level Rp17.794

Kenaikan BI-Rate Belum Ampuh, Rupiah Tetap Loyo ke Level Rp17.794

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51 WIB