- Menteri Perdagangan Budi Santoso membatalkan kenaikan harga MinyaKita di Jakarta pada Senin, 22 Juni 2026 mendatang.
- Pemerintah berencana meningkatkan porsi distribusi MinyaKita melalui BUMN pangan seperti Perum Bulog dan ID Food.
- Peningkatan kuota distribusi hingga di atas 50 persen bertujuan mengendalikan harga agar tetap sesuai HET.
Suara.com - Menteri Perdagangan Budi Santoso alias Busan mengungkapkan alasannya pembatalan kenaikan harga MinyaKita.
Busan menyebut pembatalan ini karena pihaknya tengah mengkaji penambahan porsi distribusinya melalui badan usaha milik negara (BUMN) pangan seperti Perum Bulog dan ID Food.
"Sampai saat ini kan tidak ada kenaikan. Jadi yang akan kita lakukan, yang pertama adalah kita akan menaikkan porsi distribusi untuk BUMN pangan," ujarnya saat ditemui wartawan di Tebet, Jakarta Selatan pada Senin (22/6/2026).
![Menteri Perdagangan, Budi Susanto. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/22/67773-mendag-budi-susanto.jpg)
Mendag menjelaskan bahwa distribusi MinyaKita melalui BUMN baru mencapai sekitar 35 persen, dan saat ini sedang dikaji untuk ditingkatkan hingga di atas 50 persen.
Melalui skema ini, Bulog atau ID Food akan menunjuk distributor serta pengecer di pasar guna mengendalikan harga agar tetap sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
"Nanti kalau misalnya pengecer itu tidak menjual sesuai itu (HET), ya nanti di blacklist sama Bulog. Jadi kalau yang disalurkan oleh Bulog atau ID Food itu pasti sesuai (HET)," tuturnya.
Rencana peningkatan kuota distribusi melalui BUMN pangan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengendalikan harga Minyakita.
"Kita coba cari solusi yang lain dulu, yang lebih bagus. Salah satunya adalah dengan menambah kuota untuk didistribusikan BUMN pangan," pungkasnya.