- PT Bank Tabungan Negara mempertimbangkan aksi pembelian kembali saham untuk program kesejahteraan karyawan atas dorongan pihak Danantara.
- Direksi BTN berencana memasukkan opsi pembelian saham ke dalam revisi rencana bisnis karena harga pasar saat ini undervalued.
- BTN memperkuat fundamental bisnis melalui akuisisi aset kredit dari Bank SMBC Indonesia senilai total Rp19,92 triliun pada 2026.
Suara.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mempertimbangkan itu melakukan aksi pembelian kembali saham atau buyback. Hal ini setelah adanya dorongan dari Danantara.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, opsi buyback tersebut akan diarahkan untuk mendukung kepemilikan saham bagi karyawan. Metode tersebut dipertimbangkan mengingat saat ini porsi saham publik di BBTN telah berada pada batas ketentuan minimum.
"Saat ini harga saham BBTN sudah cukup undervalued, sehingga kemungkinan yang bisa kami kaji adalah pembelian saham untuk kebutuhan program karyawan seperti bonus atau stock option. Saat ini belum masuk dalam Rencana Bisnis Bank (RBB), tetapi akan kami coba kaji untuk dimasukkan dalam revisi RBB," ujar Nixon di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
![Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, mengungkapkan penyaluran KPR telah mencapai 6 juta rumah mendorong raihan laba Rp 1,1 Triliun di Kuartal I-2026, [Suara.com/Achmad Fauzi].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/16/53243-btn-nixon-napitupulu.jpg)
Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria menilai buyback merupakan aksi korporasi yang wajar, khususnya ketika harga saham dinilai belum mencerminkan fundamental perusahaan.
"Buyback itu sebenarnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu bisa menjadi pilihan. Daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi pada saham perusahaan sendiri apabila memang fundamentalnya kuat," ujar Dony.
Menurut Dony, sejumlah perusahaan BUMN memiliki fundamental bisnis yang solid, termasuk sektor perbankan, pertambangan, infrastruktur, hingga pengembangan usaha lainnya. Karena itu, perusahaan dengan fundamental baik memiliki potensi untuk terus menciptakan nilai bagi pemegang saham.
BTN sendiri saat ini juga tengah memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan organik dan anorganik. Terbaru, perseroan tengah memproses pembelian portofolio aset dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk.
Dalam keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan, Senin (25/5), BTN telah menandatangani dua perjanjian pengalihan atas kredit pensiunan, kredit pra pensiunan, dan kredit karyawan aktif pegawai BUMN atau lembaga pemerintahan milik Bank SMBC Indonesia.
Penandatanganan dilakukan pada 22 Mei 2026 melalui skema Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) dan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA).
Adapun, dalam transaksi CPTA, BTN akan mengakuisisi portofolio pinjaman pensiunan dan pra-pensiunan dengan manfaat pensiun yang dikelola TASPEN dengan estimasi nilai sebesar Rp12,58 triliun.
Sementara melalui transaksi CLATA, BTN akan mengakuisisi aset pinjaman terkait pensiunan ASABRI, dana pensiun lainnya, serta pinjaman karyawan aktif baik BUMN maupun lembaga pemerintahan dengan estimasi nilai sebesar Rp7,34 triliun.
Analis Bahana Sekuritas Razqi M Kurniawan menilai rencana pembelian aset tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah signifikan bagi BTN tanpa menyebabkan dilusi terhadap pemegang saham.
Akuisisi portofolio tersebut juga dinilai mampu menjawab sejumlah tantangan struktural BTN melalui penambahan aset dengan yield lebih menarik, risiko kredit lebih terkendali, serta profil aset dengan durasi lebih pendek.