- Rupiah melemah ke level Rp17.980 per dolar AS pada 1 Juli 2026 akibat sentimen pasar dan data pekerjaan AS.
- Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan penurunan nilai mayoritas mata uang di Asia kecuali dolar Taiwan yang menguat.
- Investor cenderung membatasi transaksi sambil menunggu rilis data inflasi serta perdagangan Indonesia pada siang hari ini.
Suara.com - Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berlanjut pada pagi ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Rabu 1 Juli 2026 dibuka ke level Rp17.980 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini melemah 73 poin atau 0,41 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp17.901 per dolar AS. Dalam hal ini, Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan ini disebabkan sentimen pasar modal yang melemah hari ini.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yg rebound oleh data pekerjaan AS Jolt yg lebih kuat dari perkiraan," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, perlemahan diperkirakan terbatas. Sebab, investor menantikan data inflasi dan perdagangan Indonesia yg akan dirilis siang ini.
"Rupiah bergerak pada range 17900-18000," imbuhnya.
Sementara itu, mata uang Asia lainnya juga lesu. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,62 persen. Disusul, peso Filipina yang tertekan 0,43 persen.

Selanjutnya ada baht Thailand tertekan 0,26 persen dan dolar Singapura terkoreksi 0,13 persen. Lalu, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,09 persen.
Berikutnya, yen Jepang tergelincir 0,08 persen dan yuan China turun 0,07 persen. Diikuti, dolar Hong Kong yang melemah tipis 0,005 persen.
Sedangkan dolar Taiwan menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang menguat setelah naik 0,07 persen terhadap the greenback.