- The Fed mempertahankan suku bunga namun menaikkan proyeksi jangka panjang, yang memicu kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat.
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari tekanan global.
- IHSG terkoreksi akibat aksi jual asing sebesar US$ 1,2 miliar, sementara investor ritel domestik mendominasi pasar saham.
Kombinasi sentimen di atas membuat kinerja pasar saham domestik sepanjang Juni masih cenderung lesu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 7,9% mom, yang memperdalam penurunan sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD) 2026 menjadi minus 34,7%.
Koreksi ini juga membuat valuasi IHSG merosot ke rekor terendah, yakni di level 8,1x forward P/E 1 tahun, atau mencerminkan 2,8 standar deviasi di bawah rata-rata 5 tahun.
Meskipun valuasi saham murah dan konsensus pasar menaikkan proyeksi pertumbuhan laba bersih emiten full year 2026 sebesar 0,3% mom—didorong oleh sektor komoditas—investor asing terpantau melakukan aksi jual masif.
Asing mencatatkan net outflow di pasar ekuitas sebesar US$ 1,2 miliar pada Juni, membawa akumulasi outflow YTD-2026 ke rekor tertinggi sebesar US$ 5,1 miliar.
Tekanan jual asing di pasar saham berhasil diimbangi oleh investor ritel domestik, yang porsi kepemilikannya kini mendominasi hingga 51,3%.
Menariknya, di pasar obligasi, investor asing justru tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai US$ 1,2 miliar pada surat utang negara dan US$ 1,3 miliar pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Hal ini mengindikasikan bahwa arus modal asing cenderung masuk terlebih dahulu ke instrumen berpendapatan tetap (fixed income) yang menawarkan imbal hasil menarik (yield obligasi pemerintah 10 tahun naik ke 7,1%) dan stabilitas, di kala Rupiah bertahan di kisaran Rp 17.900 per dolar AS.
Rekomendasi Saham Pilihan
Di tengah fluktuasi pasar tersebut, BNI Sekuritas merilis kajian teknikal untuk beberapa saham yang layak dicermati oleh para pelaku pasar:
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK): Rentang harga perdagangan disarankan di Rp 500–Rp 515, dengan target penguatan ke level Rp 530–Rp 550. Batasan proteksi modal (cut loss) jika harga turun di bawah Rp 500.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Rentang harga perdagangan di kisaran Rp 1.470–Rp 1.500, dengan target profit diambil pada level Rp 1.520 hingga Rp 1.570. Batasan cut loss disetel di bawah Rp 1.470.
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI): Rentang harga akumulasi berada di Rp 117–Rp 120, dengan target kenaikan di level Rp 123–Rp 128. Batasan cut loss ditetapkan jika menembus ke bawah Rp 117.