- Sektor tembakau merupakan komoditas strategis nasional yang signifikan bagi penyerapan tenaga kerja, pendapatan petani, serta penerimaan devisa negara.
- Kementerian Pertanian berkomitmen meningkatkan kualitas dan daya saing komoditas perkebunan nasional melalui perbaikan rantai pasok serta pendampingan pelaku usaha.
- HKTI mendorong penguatan akses teknologi dan hilirisasi produk agar nilai tambah komoditas ekspor Indonesia semakin meningkat di pasar global.
Suara.com - Komoditas tembakau dinilai memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional karena berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, pendapatan petani, devisa ekspor, hingga penerimaan negara.
Karena itu, kalangan petani meminta pemerintah tidak mengabaikan keberlanjutan sektor pertembakauan dalam menyusun berbagai kebijakan.
Di tengah upaya pemerintah memperkuat sektor perkebunan nasional, tembakau disebut perlu mendapat perhatian yang sama dengan komoditas unggulan lain seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan kelapa.
Optimalisasi komoditas tersebut dinilai mampu meningkatkan devisa sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi domestik di tengah dinamika pasar global.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ali Jamil, mengatakan pemerintah berkomitmen mengembalikan kejayaan sektor perkebunan nasional melalui peningkatan produksi dan kualitas komoditas agar mampu bersaing di pasar internasional.
"Kita harus mulai menjadi pelaku utama dalam rantai perdagangan global. Pemerintah siap memberikan pendampingan, mulai dari peningkatan kualitas produk, pelatihan ekspor, market intelligence, hingga membantu mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli di luar negeri," ujarnya seperti dikutip, Jumat (3/7/2026).

Menurut Ali, masih terdapat berbagai tantangan yang harus dibenahi, mulai dari penanganan pascapanen hingga persoalan kontaminasi yang menyebabkan penolakan ekspor di sejumlah negara tujuan.
Karena itu, ia menilai perbaikan tata kelola rantai pasok, sistem penyimpanan, pengemasan, dan distribusi komoditas perkebunan perlu dilakukan secara terintegrasi agar daya saing produk Indonesia semakin meningkat.
"Kita memiliki potensi yang sangat besar, baik dari sisi sumber daya alam maupun sumber daya manusia," jelasnya.
Dalam konteks tersebut, tembakau dinilai menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai strategis. Selain menjadi sumber penghidupan petani di berbagai daerah sentra produksi, sektor pertembakauan juga menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi nasional yang melibatkan tenaga kerja, pelaku usaha, hingga industri hilir berorientasi ekspor.
Ketua Harian III DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Andi Muhammad Syakir, mengatakan peningkatan akses informasi dan teknologi menjadi salah satu kunci untuk memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok.
"Petani membutuhkan informasi mengenai perkembangan pasar, harga komoditas, inovasi teknologi, hingga teknik budidaya yang semakin efisien," imbuhnya.
Ia juga menilai hilirisasi perlu terus didorong agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan baku mentah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
"Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang sangat besar pada berbagai komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, cengkih, dan tembakau,” kata Andi.
Data menunjukkan kontribusi sektor ini juga masih signifikan terhadap perdagangan luar negeri. Pada 2024, nilai ekspor produk hasil tembakau mencapai 1,7 miliar dolar AS, meningkat 21,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka tersebut memperkuat posisi tembakau sebagai salah satu komoditas perkebunan strategis yang dinilai perlu dijaga keberlanjutannya di tengah berbagai tantangan regulasi.