Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.599.000
Beli Rp2.495.000
IHSG 5.744,556
LQ45 565,493
Srikehati 279,472
JII 338,217
USD/IDR 17.989

Tak Hanya Sawit dan Kopi, Tembakau Dinilai Layak Jadi Komoditas Prioritas Pemerintah

Achmad Fauzi

Jum'at, 03 Juli 2026 | 19:03 WIB
Tak Hanya Sawit dan Kopi, Tembakau Dinilai Layak Jadi Komoditas Prioritas Pemerintah
Ilustrasi tembakau. (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)
baca 10 detik
  • Sektor tembakau merupakan komoditas strategis nasional yang signifikan bagi penyerapan tenaga kerja, pendapatan petani, serta penerimaan devisa negara.
  • Kementerian Pertanian berkomitmen meningkatkan kualitas dan daya saing komoditas perkebunan nasional melalui perbaikan rantai pasok serta pendampingan pelaku usaha.
  • HKTI mendorong penguatan akses teknologi dan hilirisasi produk agar nilai tambah komoditas ekspor Indonesia semakin meningkat di pasar global.

Suara.com - Komoditas tembakau dinilai memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional karena berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, pendapatan petani, devisa ekspor, hingga penerimaan negara.

Karena itu, kalangan petani meminta pemerintah tidak mengabaikan keberlanjutan sektor pertembakauan dalam menyusun berbagai kebijakan.

Di tengah upaya pemerintah memperkuat sektor perkebunan nasional, tembakau disebut perlu mendapat perhatian yang sama dengan komoditas unggulan lain seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan kelapa.

Optimalisasi komoditas tersebut dinilai mampu meningkatkan devisa sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi domestik di tengah dinamika pasar global.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ali Jamil, mengatakan pemerintah berkomitmen mengembalikan kejayaan sektor perkebunan nasional melalui peningkatan produksi dan kualitas komoditas agar mampu bersaing di pasar internasional.

"Kita harus mulai menjadi pelaku utama dalam rantai perdagangan global. Pemerintah siap memberikan pendampingan, mulai dari peningkatan kualitas produk, pelatihan ekspor, market intelligence, hingga membantu mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli di luar negeri," ujarnya seperti dikutip, Jumat (3/7/2026).

Petani tembakau yang ada di Indonesia. (Dok: Komunitas Kretek)
Petani tembakau yang ada di Indonesia. (Dok: Komunitas Kretek)

Menurut Ali, masih terdapat berbagai tantangan yang harus dibenahi, mulai dari penanganan pascapanen hingga persoalan kontaminasi yang menyebabkan penolakan ekspor di sejumlah negara tujuan.

Karena itu, ia menilai perbaikan tata kelola rantai pasok, sistem penyimpanan, pengemasan, dan distribusi komoditas perkebunan perlu dilakukan secara terintegrasi agar daya saing produk Indonesia semakin meningkat.

"Kita memiliki potensi yang sangat besar, baik dari sisi sumber daya alam maupun sumber daya manusia," jelasnya.

baca juga

Dalam konteks tersebut, tembakau dinilai menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai strategis. Selain menjadi sumber penghidupan petani di berbagai daerah sentra produksi, sektor pertembakauan juga menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi nasional yang melibatkan tenaga kerja, pelaku usaha, hingga industri hilir berorientasi ekspor.

Ketua Harian III DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Andi Muhammad Syakir, mengatakan peningkatan akses informasi dan teknologi menjadi salah satu kunci untuk memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok.

"Petani membutuhkan informasi mengenai perkembangan pasar, harga komoditas, inovasi teknologi, hingga teknik budidaya yang semakin efisien," imbuhnya.

Ia juga menilai hilirisasi perlu terus didorong agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan baku mentah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

"Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang sangat besar pada berbagai komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, cengkih, dan tembakau,” kata Andi.

Data menunjukkan kontribusi sektor ini juga masih signifikan terhadap perdagangan luar negeri. Pada 2024, nilai ekspor produk hasil tembakau mencapai 1,7 miliar dolar AS, meningkat 21,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka tersebut memperkuat posisi tembakau sebagai salah satu komoditas perkebunan strategis yang dinilai perlu dijaga keberlanjutannya di tengah berbagai tantangan regulasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Produk Tembakau Alternatif Dinilai Berpeluang Tekan Angka Perokok, Benarkah?

Produk Tembakau Alternatif Dinilai Berpeluang Tekan Angka Perokok, Benarkah?

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 07:27 WIB

UMKM Indonesia Berpeluang Jadi Motor Baru Ekspor, Ini Syaratnya

UMKM Indonesia Berpeluang Jadi Motor Baru Ekspor, Ini Syaratnya

Bisnis | Kamis, 02 Juli 2026 | 08:10 WIB

Neraca Perdagangan RI Tekor Pada Mei, Penyebabnya Impor Migas

Neraca Perdagangan RI Tekor Pada Mei, Penyebabnya Impor Migas

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 15:52 WIB

Terkini

Cegah Mati Lampu, PLN Modif PLTU Bisa Pakai Batu Bara Kelas Rendah

Cegah Mati Lampu, PLN Modif PLTU Bisa Pakai Batu Bara Kelas Rendah

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:52 WIB

Lahan Bekas Tambang Batu Bara Disulap Jadi PLTS

Lahan Bekas Tambang Batu Bara Disulap Jadi PLTS

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:44 WIB

Novel Bamukmin Diisukan Jadi Komisaris, Website PT Hotel Indonesia Natour Hilang

Novel Bamukmin Diisukan Jadi Komisaris, Website PT Hotel Indonesia Natour Hilang

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:26 WIB

PLN Bakal Sulap 802 Km Tol Jasa Marga Jadi Ladang Energi Surya

PLN Bakal Sulap 802 Km Tol Jasa Marga Jadi Ladang Energi Surya

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 17:38 WIB

Kasus Penipuan Keuangan Tembus 579 Ribu, Bank dan Fintech Diminta Beralih ke AI

Kasus Penipuan Keuangan Tembus 579 Ribu, Bank dan Fintech Diminta Beralih ke AI

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:39 WIB

Komisi Ojol Dipangkas Jadi 8%, Ekonom: Belum Tentu Bikin Driver Lebih Sejahtera

Komisi Ojol Dipangkas Jadi 8%, Ekonom: Belum Tentu Bikin Driver Lebih Sejahtera

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:31 WIB

Dugaan Cuci Uang Emas Ilegal Diusut, Modusnya Samarkan Hasil Tambang Tanpa Izin

Dugaan Cuci Uang Emas Ilegal Diusut, Modusnya Samarkan Hasil Tambang Tanpa Izin

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:25 WIB

Rekam Jejak Novel Bamukmin, Eks FPI yang Diisukan Jadi Komisaris BUMN

Rekam Jejak Novel Bamukmin, Eks FPI yang Diisukan Jadi Komisaris BUMN

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:21 WIB

Rupiah Menguat, Tapi Masih Betah di Level Rp17.900 per Dolar AS

Rupiah Menguat, Tapi Masih Betah di Level Rp17.900 per Dolar AS

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:19 WIB

Harga Pertamax Harusnya Rp13.700, Ekonom: Ada Upaya Pertamina Pulihkan Margin

Harga Pertamax Harusnya Rp13.700, Ekonom: Ada Upaya Pertamina Pulihkan Margin

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:04 WIB

×