- Pemerintah bersama Presiden Prabowo menggelar akad massal KPR FLPP di Batang pada 30 Juli 2026.
- Sebanyak 62.710 keluarga menjadi penerima manfaat rumah subsidi terbesar melalui penyaluran dari sepuluh bank berbeda.
- BP Tapera telah memverifikasi seluruh data penerima secara rinci dan menargetkan peningkatan jumlah peserta bertahap.
Suara.com - Pemerintah menggelar akad massal Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026) dan dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Setidaknya, 62.710 keluarga mengikuti akad massal KPR, dan menjadi terbesar sejak program tersebut digelar.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, menjelaskan akad kredit ini disalurkan dari 10 bank penyalur.
"Hari ini jumlah penerima manfaat rumah subsidi mencapai 62.710 keluarga. Sebanyak 200 penerima manfaat dari 10 bank penyalur hadir secara langsung di lokasi acara," kata Maruarar dalam siaran kanal YouTube Sekretariat Presiden.
![Foto udara perumahan subsidi di Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (13/12/2023). [ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/12/13/99635-harga-rumah-kpr-subsidi-naik.jpg)
Menurut dia, seluruh data penerima manfaat telah diverifikasi oleh BP Tapera secara by name by address. Data tersebut mencakup identitas penerima, pekerjaan, bank penyalur, besaran cicilan hingga tenor pinjaman.
"Seluruh data penerima telah disiapkan oleh Pak Heru dan BP Tapera secara by name by address. Ada nama penerimanya, pekerjaannya, bank penyalurnya, besaran cicilannya, hingga tenor pinjamannya. Semua sudah diperiksa satu per satu oleh Bapak Seskab sebelum kami laporkan," ujarnya.
Maruarar mengatakan pelaksanaan akad massal rumah subsidi terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Sebelumnya, BP Tapera telah menyelenggarakan akad massal sebanyak 26 ribu unit, kemudian meningkat menjadi 50 ribu unit, dan kini mencapai 62.710 unit.
Ia menambahkan, pemerintah akan terus meningkatkan skala program tersebut secara bertahap. Pada akhir 2026 ditargetkan akad massal mencapai 71 ribu rumah, kemudian meningkat menjadi 80 ribu hingga 90 ribu rumah pada 2027, dan menyentuh 100 ribu rumah pada 2028.
"Kami sengaja melakukannya secara bertahap karena kami ingin terus belajar dan memperkuat SDM, sistem teknologi informasi, serta tata kelola agar semakin siap," kata Maruarar.