- BRI Danareksa menurunkan target harga saham BRMS menjadi Rp700 setelah laba bersih semester I 2026 turun 44 persen.
- Analis Andhika Audrey mempertahankan rekomendasi beli karena ekspansi fasilitas CIL dan tambang bawah tanah menjadi katalis pertumbuhan menengah.
- Anak usaha BRMS, CPM, memperoleh perjanjian penjualan emas hingga 120 kilogram per bulan dengan Antam sampai Juni 2028.
Suara.com - Emiten pertambangan, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) masih dinilai layak dikoleksi oleh para investor. Namun, target harga atau target price sahamnya mulai diturunkan.
BRI Danareksa Sekuritas menurunkan target price BRMS dari Rp1.100 menjadi Rp700 per saham. Penurunan ini setelah hasil kinerja pada semester I-2026 yang jauh di bawah harapan.
Dalam laporan keuangannya, tercatat laba bersih BRMS pada semester I 2026 hanya mencapai 12,9 juta dolar AS atau turun 44 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Penurunan tersebut dipicu oleh produksi emas yang lebih rendah serta penjualan yang masih terbatas sehingga perusahaan membukukan rugi bersih pada kuartal II 2026.
Kondisi tersebut membuat BRI Danareksa memangkas proyeksi produksi emas BRMS untuk periode 2026-2028 menjadi masing-masing 60,9 ribu ons, 81,6 ribu ons, dan 158,2 ribu ons. Sebelumnya, manajemen BRMS menargetkan produksi emas tahun ini mencapai 70 ribu hingga 75 ribu ons, namun target tersebut dinilai cukup menantang untuk dicapai.
Meski memangkas proyeksi, Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey tetap mempertahankan rekomendasi Buy terhadap saham BRMS.

"Kami tetap mempertahankan rekomendasi Buy, tetapi menurunkan target harga berbasis sum of the parts (SOTP) menjadi Rp700 dari sebelumnya Rp1.100, setelah memangkas proyeksi kinerja 2026-2028," ujar Andhika dalam risetnya yang dikutip, Selasa (4/8/2026).
Menurut Andhika, revisi tersebut dilakukan karena pemulihan produksi diperkirakan berlangsung lebih lambat setelah kinerja semester I 2026 yang lemah, ditambah harga emas yang lebih rendah pada kuartal II 2026. Meski demikian, ia menilai tekanan tersebut sebagian besar telah tercermin pada harga saham BRMS saat ini.
"Meskipun laba dalam jangka pendek masih berada di bawah tekanan, kami meyakini pelemahan harga saham belakangan ini telah banyak mencerminkan berbagai tantangan tersebut. Di sisi lain, ekspansi fasilitas CIL berkapasitas 2.000 ton per hari dan pengembangan tambang bawah tanah akan tetap menjadi katalis utama pertumbuhan BRMS dalam jangka menengah," ujar Andhika.
BRI Danareksa menilai BRMS telah melewati fase operasional terberat setelah proyek River Reef pushback selesai pada Juli 2026. Penyelesaian proyek tersebut memungkinkan aktivitas penambangan kembali berjalan dengan kadar bijih yang berangsur normal pada semester II 2026.
Selain itu, prospek penjualan juga dinilai membaik setelah anak usaha BRMS, CPM, memperoleh perjanjian penjualan emas (gold offtake agreement) dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Dalam kerja sama tersebut, ANTM akan membeli emas hingga 120 kilogram per bulan sampai Juni 2028 atau sekitar 60-80 persen dari produksi normal bulanan BRMS.
Dengan berbagai penyesuaian tersebut, target harga saham BRMS memang dipangkas menjadi Rp700. Namun, target tersebut masih menawarkan potensi kenaikan (upside) sekitar 25 persen dibandingkan harga penutupan terakhir di level Rp560 per saham.
Di sisi lain, BRI Danareksa juga memangkas proyeksi laba bersih BRMS periode 2026-2028 masing-masing sebesar 35,5 persen, 26,7 persen, dan 6,6 persen, seiring penurunan asumsi produksi serta harga jual rata-rata emas.
Dalam jangka menengah, ekspansi fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) berkapasitas 2.000 ton per hari serta dimulainya penambangan bawah tanah (underground mining) dengan kadar emas 3,5-4,9 gram per ton pada semester II 2027 diyakini akan menjadi katalis utama yang menopang pertumbuhan produksi dan kinerja BRMS di masa mendatang.
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.