Industri Manufaktur Tumbuh Lebih Kencang dari Ekonomi, Tapi Ledakan Impor Jadi Alarm Pemerintah

Mohammad Fadil Djailani, Fakhri Fuadi Muflih

Jum'at, 07 Agustus 2026 | 19:05 WIB
Industri Manufaktur Tumbuh Lebih Kencang dari Ekonomi, Tapi Ledakan Impor Jadi Alarm Pemerintah
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Bisnis Forum dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-25 Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia di Jakarta, Kamis (30/7/2026). [Suara.com/Fakhri]
baca 10 detik
  • Manufaktur tumbuh 5,32%, melampaui ekonomi nasional 5,29%.
  • Impor barang konsumsi melonjak 27,15%, jadi alarm industri.
  • Net ekspor masih negatif, pemerintah genjot hilirisasi dan ekspor.

Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengklaim sektor manufaktur masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2026. Namun, di balik capaian positif tersebut, pemerintah menghadapi pekerjaan rumah besar berupa lonjakan impor barang konsumsi dan lemahnya kontribusi net ekspor yang masih membebani laju ekonomi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh 5,32 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.

Tak hanya tumbuh lebih cepat, sektor manufaktur juga tetap menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan porsi 18,50 persen. Industri pengolahan bahkan menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi mencapai 0,90 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa arah kebijakan industrialisasi nasional mulai menunjukkan hasil melalui implementasi Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN).

"Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN) yang berfokus pada penguatan struktur industri, hilirisasi, peningkatan nilai tambah, serta penciptaan lapangan kerja, alhamdulillah, hasilnya mulai terlihat dengan pertumbuhan IPNM yang mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Agus kepada wartawan, Jumat (7/8/2026).

Optimisme sektor manufaktur juga tercermin dari sejumlah indikator. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) berada di level 52,31 atau masih dalam fase ekspansi. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 juga bertahan di zona ekspansi pada level 50,2, sementara Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencapai 53,10.

"Konsistensi indikator-indikator tersebut memberikan sinyal bahwa dunia industri nasional tetap optimistis terhadap prospek usahanya. Artinya, aktivitas produksi, investasi, maupun permintaan terhadap produk manufaktur masih terus bergerak positif," kata Agus.

Secara sektoral, industri makanan dan minuman menjadi salah satu penopang utama dengan pertumbuhan 6,51 persen. Sementara industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,04 persen, didorong meningkatnya permintaan global terhadap komponen elektronik dan baterai. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga tumbuh 4,99 persen.

Meski demikian, pemerintah mengakui fondasi industri nasional belum sepenuhnya kuat. Hal itu tercermin dari impor barang konsumsi yang melonjak 27,15 persen secara tahunan.

baca juga

Menurut Agus, kenaikan impor memang mencerminkan daya beli masyarakat yang masih tumbuh. Namun di sisi lain, kondisi tersebut menunjukkan kapasitas industri nasional belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik sehingga sebagian barang dan bahan baku masih harus dipenuhi melalui impor.

"Kita juga harus menjadikan kenaikan impor barang konsumsi sebagai momentum untuk mempercepat penguatan struktur industri nasional agar semakin banyak kebutuhan pasar domestik dapat dipenuhi oleh produk dan bahan baku dari dalam negeri," ujarnya.

Ia menambahkan, lonjakan impor menjadi sinyal perlunya kebijakan yang lebih berpihak kepada industri dalam negeri, khususnya industri penyedia bahan baku. Penguatan kapasitas produksi nasional dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperdalam struktur industri nasional.

Tantangan lainnya datang dari sektor perdagangan luar negeri. Agus mengungkapkan bahwa komponen net ekspor pada triwulan II-2026 masih memberikan kontribusi negatif sebesar 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, pemerintah akan terus mempercepat program hilirisasi, meningkatkan produktivitas industri, memperluas diversifikasi produk bernilai tambah, serta membuka pasar ekspor baru agar kinerja perdagangan Indonesia semakin kuat.

Di sisi ketenagakerjaan, industri pengolahan tetap menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Hingga Mei 2026, sektor ini menyerap 13,53 persen dari total 148,19 juta penduduk yang bekerja.

"Inilah yang menjadi alasan mengapa pemerintah terus menempatkan sektor industri manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian. Selain menghasilkan nilai tambah dan meningkatkan daya saing nasional, sektor ini juga memberikan kesempatan kerja bagi jutaan masyarakat Indonesia," pungkas Agus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukan Lagi Estetika, Kini Pembangunan Properti Bergeser ke Arah Keberlanjutan

Bukan Lagi Estetika, Kini Pembangunan Properti Bergeser ke Arah Keberlanjutan

Bisnis | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 17:04 WIB

Bersenang-senang di Fun Expo Asia 2026

Bersenang-senang di Fun Expo Asia 2026

Foto | Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:13 WIB

Peternak Sapi Perah Indonesia Menua, Regenerasi Jadi Tantangan Besar Industri Susu

Peternak Sapi Perah Indonesia Menua, Regenerasi Jadi Tantangan Besar Industri Susu

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 16:25 WIB

Terkini

Hari Keenam Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal, Tim SAR Temukan 2 Terpal, 3 Life Jacket dan 1 Galon

Hari Keenam Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal, Tim SAR Temukan 2 Terpal, 3 Life Jacket dan 1 Galon

Sumsel | Minggu, 13 September 2026 | 21:51 WIB

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Kabut Jadi Kendala, Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal Hilang di GAK Masih Nihil

Banten | Minggu, 13 September 2026 | 21:43 WIB

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik, Tim SAR Perketat Pencarian via Udara

News | Minggu, 13 September 2026 | 21:20 WIB

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Emil Audero Orang Indonesia Pertama Lawan Real Madrid, Pelatih Rayo Puji Setinggi Langit

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

36 Peraih Super Tiket PB Djarum 2026 Bersiap Jalani Karantina, Mentalitas Diuji

Sport | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Piala Soeratin Jabar 2026 Tuntas, Sepakbola Dipadukan dengan Wisata, Budaya hingga UMKM

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 21:13 WIB

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Geely Panda Mini Dijual Rp115 Juta, Harga Mobil Listrik Seken Bisa Ambruk

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 21:00 WIB

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Cara Pesan Tiket Liga Indonesia Seharga Rp1 Lewat BRImo

Bri | Minggu, 13 September 2026 | 20:41 WIB

eK Cross EV: Mobil Listrik Murah Mitsubishi yang Harganya Mirip Wuling Air EV, Jarak Tempuh?

eK Cross EV: Mobil Listrik Murah Mitsubishi yang Harganya Mirip Wuling Air EV, Jarak Tempuh?

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 20:39 WIB

Ramalan Cinta 12 Zodiak pada 14-20 September 2026, Ada yang Dihantui Masa Lalu

Ramalan Cinta 12 Zodiak pada 14-20 September 2026, Ada yang Dihantui Masa Lalu

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 20:10 WIB

×