- Selandia Baru percepat penurunan perokok lewat pendekatan pengurangan bahaya.
- Laju penurunan prevalensi merokok naik dari 3,5% menjadi 17,9% per tahun.
- Indonesia didorong menerapkan regulasi tembakau berbasis risiko dan sains.
Suara.com - Selandia Baru berhasil mempercepat penurunan prevalensi merokok setelah mengombinasikan kebijakan pengendalian tembakau dengan pendekatan tobacco harm reduction (THR) atau pengurangan bahaya tembakau.
Pendekatan tersebut membuka ruang bagi perokok dewasa untuk beralih dari rokok konvensional ke produk alternatif yang dinilai memiliki risiko lebih rendah, seperti rokok elektronik atau vape, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin.
Temuan itu tertuang dalam studi berjudul “New Zealand's accelerating smoking decline: Lessons for tobacco harm reduction” yang diterbitkan The Lancet. Penelitian tersebut ditulis Profesor Emeritus Universitas Auckland Robert Beaglehole dan Ruth Bonita bersama pakar kesehatan independen Ben Youdan.
Studi tersebut mencatat prevalensi merokok orang dewasa di Selandia Baru turun jauh lebih cepat sejak 2018. Sebelum 2018, tingkat penurunannya berada di kisaran 3,5% per tahun. Namun, pada periode 2018–2023, laju penurunan tersebut meningkat menjadi sekitar 17,9% per tahun.
Para peneliti menyebut perubahan tersebut mulai terlihat pada 2019, ketika penggunaan rokok elektronik semakin luas. Pada periode yang sama, Kementerian Kesehatan Selandia Baru mulai mengakui bahwa rokok elektronik memiliki risiko yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok konvensional dan dapat digunakan sebagai alternatif bagi perokok dewasa yang ingin berhenti merokok.
“Titik baliknya terjadi pada 2019 ketika penggunaan rokok elektronik (vape) mulai diadopsi secara lebih luas dan Kementerian Kesehatan Selandia Baru secara resmi mengakui bahwa rokok elektronik memiliki risiko yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok,” kata para peneliti, dikutip Minggu (9/8/2026).
Bedakan Risiko Rokok dan Nikotin
Dalam penelitian tersebut, para peneliti juga membedakan risiko yang berasal dari pembakaran tembakau dengan nikotin.
Mereka menjelaskan, penyakit yang berkaitan dengan aktivitas merokok terutama disebabkan oleh paparan zat beracun yang muncul dari proses pembakaran tembakau. Sementara itu, nikotin bukanlah komponen utama yang menyebabkan sebagian besar penyakit akibat pembakaran rokok.
Karena itu, penyediaan alternatif berbasis nikotin tanpa proses pembakaran dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan risiko kesehatan bagi perokok dewasa yang belum berhasil menghentikan kebiasaan merokok.
Temuan tersebut kemudian mendorong kesimpulan bahwa kebijakan pengendalian tembakau dapat menjadi lebih efektif apabila dikombinasikan dengan pendekatan pengurangan bahaya.
Para peneliti menilai kombinasi antara pengendalian rokok konvensional dan THR berpotensi mempercepat penurunan prevalensi merokok dibandingkan apabila pemerintah hanya mengandalkan kebijakan pengendalian tembakau secara tradisional.
“Fokus pada strategi pengurangan risiko dari tembakau yang dibakar merupakan elemen penting untuk mendukung keberlanjutan tren penurunan prevalensi merokok,” tulis para peneliti.
Indonesia Disorot Perlu Regulasi Berbasis Risiko
Pengalaman Selandia Baru turut mendapat perhatian di Indonesia. Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo menilai keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya kebijakan kesehatan publik yang disusun berdasarkan bukti ilmiah.