- Kontroversi Newport memicu seruan boikot terhadap produk OT Group.
- Publik mempertanyakan dalih aksi spontan dalam tantangan hafalan Al-Qur’an.
- Sentimen negatif berisiko merembet ke merek lain milik OT Group.
Suara.com - Seruan untuk memboikot produk Orang Tua (OT) Group semakin menggema di media sosial. Kontroversi yang menyeret merek minuman beralkohol Newport di festival musik The Sounds Project memicu gelombang kemarahan publik dan berpotensi menjadi tekanan reputasi bagi salah satu perusahaan consumer goods besar di Indonesia.
Berdasarkan bahan dan rekaman yang beredar di media sosial, kontroversi bermula dari sebuah video yang memperlihatkan tantangan hafalan ayat suci Al-Qur’an di booth Newport dalam gelaran The Sounds Project 9 pada 7-9 Agustus 2026 di Ecovention & Ecopark Ancol, Jakarta. Festival tersebut memang berlangsung pada tanggal tersebut dan menghadirkan ratusan penampil.
Dalam video berdurasi sekitar 45 detik yang ramai dibagikan, seorang pembawa acara di booth Newport terlihat mengajak pengunjung mengikuti tantangan. Seorang perempuan kemudian maju dan melafalkan Surat Ad-Duha menggunakan mikrofon di tengah suasana festival yang dipenuhi musik dan kerumunan.
Situasi menjadi sorotan karena, berdasarkan video yang beredar, setelah hafalan selesai peserta disebut menerima produk minuman beralkohol sebagai hadiah.
Yang membuat publik semakin geram adalah reaksi orang-orang di sekitar booth. Sejumlah orang yang mengenakan atribut Newport terlihat bersorak dan bertepuk tangan ketika peserta menyelesaikan hafalannya.
Kontroversi tersebut kemudian berkembang menjadi tudingan bahwa aktivitas itu bukan sekadar aksi spontan pengunjung.
Manajemen Newport disebut menjelaskan insiden tersebut sebagai “aksi spontanitas pengunjung yang merebut mikrofon.”
Namun, penjelasan tersebut justru memicu perdebatan baru.
Sejumlah pengguna media sosial membagikan potongan video dari sudut berbeda dan mempertanyakan bagaimana mungkin sebuah aksi disebut spontan jika terdapat interaksi antara pembawa acara, peserta dan kru booth.
Publik juga menyoroti keberadaan hadiah yang disebut telah tersedia di area konter.
“Kalau benar spontan, kenapa hadiah sudah disiapkan?” menjadi salah satu pertanyaan yang ramai dilontarkan warganet.
Pertanyaan tersebut membuat kontroversi bergeser dari sekadar persoalan perilaku pengunjung menjadi isu mengenai bagaimana sebuah aktivitas promosi dirancang dan diawasi.
Apalagi, penggunaan ayat suci sebagai bagian dari tantangan untuk mendapatkan produk minuman beralkohol dianggap oleh sebagian publik sebagai tindakan yang tidak sensitif terhadap nilai keagamaan.
Permintaan maaf yang disampaikan pihak manajemen juga belum sepenuhnya meredam kemarahan publik.
Sebaliknya, video lama terus dipotong, diunggah ulang dan disebarkan melalui berbagai platform.
Tagar #BoikotNewport dan #BoikotOrangTua kemudian menjadi simbol kemarahan warganet yang menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan permintaan maaf.
Tekanan bahkan mulai diarahkan kepada produk-produk lain yang berada dalam ekosistem bisnis OT Group.
Ini menjadi risiko yang jauh lebih besar bagi perusahaan. Sebab, persoalan yang awalnya hanya menyangkut satu merek dapat berkembang menjadi persoalan reputasi korporasi secara keseluruhan.
Jika sentimen tersebut terus membesar, konsumen yang sebelumnya tidak berkaitan dengan produk Newport pun berpotensi ikut mengambil sikap terhadap merek lain yang mereka kaitkan dengan OT Group.
OT Group bukan perusahaan yang hanya dikenal melalui produk minuman beralkohol.
Perusahaan ini merupakan pemain di industri fast-moving consumer goods (FMCG) dengan portofolio yang sangat dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Dalam situs resminya, OT menyebut telah berkembang dari satu produk minuman kesehatan menjadi perusahaan dengan lebih dari 20 merek, termasuk Tango, Teh Gelas dan Formula, serta bisnis makanan, minuman, kesehatan dan personal care.
Profil perusahaan juga mencatat merek seperti Fullo, Oops, Vitacharm dan Kiranti sebagai bagian dari portofolionya.
Dengan demikian, seruan boikot yang meluas memiliki potensi dampak lebih besar dibandingkan jika kontroversi hanya berhenti pada Newport.
Beberapa produk OT Group yang dikenal luas di pasar antara lain:
- Tango – wafer dan makanan ringan.
- Teh Gelas – minuman teh siap minum.
- Formula – pasta gigi dan sikat gigi.
- Kiranti – minuman kesehatan.
- Fullo – produk makanan ringan.
- Oops – makanan ringan.
- Vitacharm – produk minuman/yogurt.
- MintZ dan Blaster – produk permen.
- Vita Jelly Drink – minuman berbasis jelly.
- Anggur Kesehatan Cap Orang Tua – produk yang menjadi bagian dari sejarah awal OT.
Situs resmi OT menyebut perusahaan tersebut bermula dari produk Anggur Kesehatan Cap Orang Tua pada era 1940-an sebelum berkembang ke berbagai kategori consumer goods.
OT Group merupakan perusahaan barang konsumsi yang telah beroperasi sejak 1948. Perusahaan awalnya dikenal melalui produk minuman kesehatan tradisional sebelum kemudian melakukan ekspansi ke berbagai kategori consumer goods.
Saat ini, bisnis OT mencakup makanan ringan, minuman, produk kesehatan dan perawatan pribadi. Situs resmi perusahaan menyebut Tango, Teh Gelas dan Formula sebagai sejumlah merek unggulannya.