- Masyarakat tetap berbelanja produk terjangkau di Jakarta Fair 2026 meskipun kondisi ekonomi menantang.
- Ajang tersebut mencatat 6,1 juta pengunjung dengan total nilai transaksi menembus Rp8,2 triliun.
- Ekonom menilai fenomena belanja tersebut merupakan adaptasi terhadap tekanan daya beli, bukan penguatan.
Suara.com - Fenomena lipstick effect mulai terlihat dalam pola belanja masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, masyarakat ternyata tidak sepenuhnya mengerem konsumsi.
Bedanya, barang yang diburu bukan lagi semata produk mahal atau bermerek. Konsumen justru cenderung memilih produk dengan harga yang lebih terjangkau, tetapi tetap mampu memberikan kepuasan.
Gambaran tersebut terlihat dalam gelaran Jakarta Fair 2026. Hajatan tahunan dalam rangka perayaan ulang tahun DKI Jakarta itu tetap mampu menarik masyarakat untuk mengeluarkan uang demi memenuhi kebutuhan sekaligus hasrat berbelanja.
Fenomena ini menjadi menarik karena terjadi ketika kondisi ekonomi lokal maupun global masih menghadapi berbagai tantangan. Harusnya dalam situasi penuh ketidakpastian semestinya mendorong masyarakat menyimpan pendapatan untuk menghadapi kebutuhan di masa mendatang.
Namun, yang terjadi di Jakarta Fair justru menunjukkan masyarakat tetap berbelanja. Hanya saja, pilihan konsumsi mereka semakin selektif.
![Aktivitas warga saat mengunjungi Jakarta Fair 2026 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (25/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/25/55697-jakarta-fair-2026-prj-pekan-raya-jakarta-2026.jpg)
Nilai Transaksi Tembus Rp8,2 Triliun
Meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih, pengeluaran masyarakat selama Jakarta Fair 2026 terbilang fantastis.
Menurut laporan MNC Sekuritas, Jakarta Fair 2026 mencatat 6,1 juta pengunjung dengan nilai transaksi mencapai Rp8,2 triliun.
Jumlah pengunjung tersebut meningkat 3,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai transaksi tumbuh lebih tinggi, mencapai 12,3 persen.
Rata-rata nilai transaksi per pengunjung juga mengalami peningkatan. Pada 2026, angkanya mencapai sekitar Rp1,3 juta, naik dari sekitar Rp1,2 juta pada 2025.
Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya menghentikan pengeluaran meski berada dalam situasi ekonomi yang menantang.
MNC Sekuritas melihat konsumen hanya mengubah ukuran dan jenis pengeluaran untuk tetap mendapatkan kepuasan dengan biaya yang relatif lebih terjangkau. Di sinilah fenomena lipstick effect terlihat.
Bukan Cuma Belanja, Hiburan Ikut Diburu
Fenomena lipstick effect juga terlihat dari sisi hiburan. Kehadiran konser di Jakarta Fair dinilai memperkuat kecenderungan konsumen untuk mencari pengalaman yang relatif terjangkau.
Masyarakat tetap ingin mendapatkan hiburan dan pengalaman baru tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar ketika membeli barang atau pengalaman premium.
Dengan kata lain, ketika sebagian masyarakat mulai menahan pembelian barang bernilai besar, pengeluaran kecil yang memberikan kepuasan emosional masih mendapatkan tempat.
Emiten Konsumer Ikut Kecipratan
![Aktivitas warga saat mengunjungi Jakarta Fair 2026 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (25/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/25/64652-jakarta-fair-2026-prj-pekan-raya-jakarta-2026.jpg)
Fenomena lipstick effect tidak hanya menjadi perhatian dari sisi perilaku konsumen. Perubahan pola belanja tersebut juga membuka peluang bagi perusahaan sektor konsumer.
MNC Sekuritas mencatat sejumlah perusahaan yang aktif memanfaatkan Jakarta Fair 2026 untuk mendorong penjualan. Strategi yang digunakan antara lain melalui bundling, produk edisi terbatas, merchandise hingga pengalaman langsung bagi konsumen.
Beberapa emiten yang tercatat memanfaatkan momentum tersebut antara lain:
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
- PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
- PT Mayora Indah Tbk (MYOR)
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
- PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD)
- PT Akasha Wira International Tbk (ADES)
- PT Sekar Laut Tbk (SKLT)
Bagi emiten konsumer, perubahan perilaku masyarakat ini bisa menjadi peluang untuk mempertahankan penjualan dengan menawarkan produk yang sesuai dengan kemampuan belanja konsumen.
Strateginya bukan sekadar menjual barang, tetapi membuat konsumen merasa tetap mendapatkan nilai dan pengalaman meski harus lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
Jangan Salah Baca Daya Beli
Meski angka transaksi Jakarta Fair terbilang besar, ekonom Ronny P Sasmita mengingatkan bahwa fenomena lipstick effect tidak bisa langsung dimaknai sebagai tanda daya beli masyarakat sedang menguat.
Menurutnya, fenomena tersebut justru dapat muncul ketika masyarakat mulai melakukan penghematan dan mengalihkan konsumsi ke produk yang relatif lebih murah.
"Jadi, ya, fenomena ini berpotensi mengaburkan pembacaan terhadap daya beli apabila pemerintah hanya melihat apakah masyarakat masih berbelanja atau tidak," ucapnya kepada Suara.com.
Ronny menilai konsumsi yang masih berjalan memang menunjukkan ekonomi belum kehilangan seluruh daya dorongnya. Namun, kondisi tersebut bukan berarti daya beli masyarakat secara otomatis berada dalam kondisi sehat.
Pemerintah, kata dia, perlu melihat lebih jauh kualitas konsumsi dan dari mana sumber pembiayaan belanja masyarakat berasal.
"Pemerintah harus melihat kualitas konsumsi dan sumber pembiayaannya. Kalau masyarakat masih berbelanja tetapi semakin selektif, semakin sensitif terhadap harga, semakin banyak melakukan downtrading, dan semakin sedikit membeli barang tahan lama, itu bukan tanda bahwa tidak ada masalah, itu bisa justru menjadi sinyal bahwa masyarakat sedang beradaptasi terhadap tekanan daya beli," pungkasnya.