- Pabrik Gula Tjepiring di Kabupaten Kendal memastikan komitmennya menyerap hasil panen tebu petani pada musim giling 2026.
- Kebijakan penyerapan tebu tersebut bertujuan mendukung program percepatan swasembada gula nasional serta penyediaan bioethanol.
- Langkah sinergi ini memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku industri gula nasional.
Suara.com - Petani tebu di Jawa Tengah mendapat kepastian pasar untuk hasil panennya. Pabrik Gula (PG) Tjepiring di Kabupaten Kendal memastikan serap tebu petani pada musim giling 2026.
Komitmen tersebut dinilai penting bagi keberlanjutan usaha petani sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku bagi industri gula nasional.
General Manager PG Tjepiring, Tri Mintorogojati, mengatakan pabrik secara konsisten setiap tahun menerima pasokan tebu yang berasal dari kebun petani, khususnya di wilayah Jawa Tengah.
"Kami konsisten setiap tahun menerima tebu dari petani, dan ini menjadi kontribusi langsung dalam mendukung program swasembada gula nasional," ujarnya seperti dikutip, Rabu (12/8/2026).

PG Tjepiring sendiri beroperasi di bawah naungan Industri Gula Nusantara (IGN). Penyerapan tebu petani menjadi bagian dari sinergi antara industri dan kebijakan pemerintah dalam memperkuat industri gula sekaligus ketahanan pangan nasional.
Langkah tersebut juga sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang percepatan swasembada gula nasional dan penyediaan bioethanol.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah mendorong peningkatan produksi gula nasional sekaligus pengembangan bioethanol sebagai bahan bakar nabati.
Program swasembada gula nasional menargetkan Indonesia mencapai swasembada gula konsumsi pada 2028 dan gula industri pada 2030.
Sejumlah strategi disiapkan untuk mencapai target tersebut, mulai dari peremajaan tanaman tebu, penyediaan benih unggul, revitalisasi pabrik gula hingga penguatan kebun tebu.
Dalam konteks tersebut, penyerapan hasil panen petani menjadi salah satu bagian penting dari rantai pasok industri gula. Kepastian penyerapan memberikan ruang bagi petani untuk terus mempertahankan produksi tebu, sementara pabrik mendapatkan pasokan bahan baku untuk kebutuhan musim giling.
Bagi PG Tjepiring, konsistensi menerima tebu petani juga menjadi bentuk dukungan terhadap agenda pemerintah dalam memperkuat produksi gula dalam negeri.