- Pengembang properti mengintegrasikan bisnis kuliner guna menciptakan kawasan komersial yang aktif dan bernilai investasi stabil.
- Bobobox meresmikan restoran NILAGIRI di Vila Riung Gunung, Bogor, yang dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
- Vila Riung Gunung merupakan bangunan bersejarah peninggalan era Presiden Soekarno yang kini difungsikan kembali sebagai restoran.
Suara.com - Tren bisnis properti bersamaan industri kuliner (Food & Beverage/F&B) saat ini telah bertransformasi menjadi strategi esensial dalam perancangan kawasan komersial. Langkah ini diambil oleh berbagai pengembang untuk menciptakan area yang hidup, memiliki keberlanjutan ekonomi, dan mencatatkan nilai investasi yang stabil.
Dalam praktiknya, integrasi ini tidak lagi sekadar menempatkan penyewa ritel makanan di dalam gedung. Para pengembang properti kini mengambil peran aktif dengan terjun langsung dalam proses kurasi, pendanaan, hingga pengelolaan ekosistem kuliner agar dapat berfungsi sebagai magnet utama penarik trafik kawasan.
Pergeseran fokus strategis ini terlihat dari konsep penyediaan fasilitas yang sebelumnya berorientasi pada destinasi kuliner musiman, kini beralih pada penyediaan kuliner pemenuhan kebutuhan harian di dalam kawasan hunian terpadu (mixed-use).
Area komersial modern, seperti kawasan ruko terintegrasi (Commercial Strip & Studio Loft) di berbagai kota mandiri, mencatatkan serapan yang positif akibat kehadiran ratusan ekosistem bisnis F&B baru.
Selain itu, jaringan hotel-hotel besar juga tercatat aktif melakukan kerja sama dengan dewan kuliner untuk menghadirkan aktivasi budaya dan promosi menu autentik demi menarik segmen pelancong yang mencari pengalaman spesifik.
Ada tiga model bisnis utama yang saat ini diterapkan oleh pengembang dalam mengintegrasikan properti dan fasilitas gastronomi:
Pertama, Township Culinary Hub. Dalam model ini, pengembang berperan menyediakan infrastruktur berupa kawasan ritel terbuka atau mal, sekaligus menyeleksi ketat para penyewa.
Kedua, Experiential Hospitality. Model ini mengintegrasikan fasilitas kuliner secara privat ke dalam unit properti, seperti yang banyak diterapkan pada vila premium. Pengembang menyediakan infrastruktur spesifik seperti stasiun koki pribadi (private chef station) dan lanskap tanaman yang dapat dikonsumsi (edible landscaping), dengan target pasar segmen premium dan wisatawan.
Ketiga, Transit Oriented Development (TOD). Model pengembangan komersial ini difokuskan pada pembangunan area ritel makanan yang menempel langsung dengan titik transit transportasi massal. Konsep layanannya bersifat praktis, berputar cepat dari pagi hingga malam hari, dan dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan kaum komuter serta pekerja urban.
Hingga akhir dekade ini, arah pengembangan properti komersial diproyeksikan akan didorong oleh penciptaan kawasan yang aktif beroperasi sepanjang hari.
Di sisi operasional, properti masa depan akan mengadopsi ruang tata kelola cerdas (Smart F&B Space). Ruang usaha akan didesain untuk kompatibel dengan sistem pemesanan digital, standar efisiensi jejak karbon (green property), serta infrastruktur pendukung pengiriman makanan (cloud kitchen). Hal ini merespons pergeseran demografi pasar yang kini didominasi oleh Generasi Z dan Milenial, di mana keputusan pembelian properti sangat dipengaruhi oleh tingkat kenyamanan dan pengalaman gaya hidup yang terintegrasi di sekitar hunian.
Implementasi nyata dari penggabungan pengalaman ruang dan kuliner baru-baru ini diwujudkan melalui pembukaan restoran NILAGIRI di kawasan Vila Riung Gunung, Puncak, Kabupaten Bogor. Fasilitas ini merupakan restoran pertama yang dioperasikan di bawah bendera Boboeatery, lini bisnis F&B milik perusahaan hospitality Bobobox. Peresmian fasilitas tersebut dihadiri secara langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon.
Pemilihan lokasi Vila Riung Gunung didasarkan pada sejarah fungsional bangunan tersebut pada masa lalu sebagai tempat persinggahan. Arsitektur kawasan Puncak serta elemen tata ruang rumah dipertahankan sebagai bagian dari pengalaman bersantap menu berbasis Nusantara.
“Keramahtamahan telah lama menjadi bagian dari perjalanan Vila Riung Gunung. Vila ini pernah menjadi tempat singgah dan beristirahat, sekaligus menerima dan menjamu tamu. Melalui NILAGIRI, kami ingin meneruskan esensi tersebut agar kembali dapat dikenal dan dirasakan oleh lebih banyak orang,” kata Indra Gunawan, Co-Founder dan CEO Bobobox.
Vila Riung Gunung sendiri memiliki riwayat arsitektur yang dibangun pada periode 1955 hingga 1957 dengan arsitek Soedarsono, di bawah arahan Presiden Soekarno. Bangunan ini tercatat sebagai lokasi peristirahatan Soekarno saat berada di kawasan Puncak, dan pada dekade 1960-an sempat difungsikan sebagai Riung Gunung Coffee House.
“Ini merupakan salah satu bangunan yang bersejarah. Saya sekali lagi mengapresiasi, mudah-mudahan ini juga bisa memberi manfaat bagi masyarakat sekitar dan semakin banyak wisatawan, baik domestik maupun internasional, datang dan berkunjung ke kawasan Puncak,” ujar Fadli Zon.