- Rupiah menguat 92 poin ke level Rp17.748 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026.
- Penguatan rupiah didorong oleh rencana pembelian kembali obligasi pemerintah Amerika Serikat dan keputusan penahanan BI Rate.
- Mayoritas mata uang di kawasan Asia turut mengalami apresiasi sejalan dengan penguatan nilai tukar rupiah.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih terapresiasi hingga akhir perdagangan, Kamis, 20 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada ditutup ke level Rp17.748 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 92 poin atau naik 0,52 persen
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, sentimen pemerintah AS yang ingin buyback obligasi masih jadi pendongkrak rupiah menguat.
"Rupiah dan mata uang regional maupun utama dunia menguat tajam terhadap dolar AS oleh rencana pemerintah Amerika Serikat melakukan intervensi pada imbal hasil obligasi AS jangka panjang dengan menggandakan operasi buyback," ujarnya saat dihubungi Suara.com.
![Bank Indonesia memastikan cadangan devisa sebesar USD 114 miliar cukup untuk intervensi guna menstabilkan nilai tukar rupiah. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/18/94437-dolar-rupiah.jpg)
Lukman melanjutkan, keputusan penahanan BI Rate juga menjadi pendorong mata uang Garuda perkasa hari ini.
"Untuk besok, investor mengantisipasi data neraca transaksi berjalan kuartal kedua Indonesia," imbuhnya.
Sementara itu, mayoritas mata uang di Asia menguat. Di mana, ringgit Malaysia berada satu level di bawah rupiah setelah melonjak 0,42 persen.
Selanjutnya ada peso Filipina yang ditutup naik 0,26 persen dan baht Thailand terangkat 0,2 persen. Diikuti, yuan China yang terapresiasi 0,11 persen.
Berikutnya, rupee India terkerek 0,08 persen dan dolar Taiwan yang ditutup naik 0,05 persen. Lalu, dolar Singapura menguat tipis 0,01 persen.