- Agrominafiber ubah anyaman lokal menjadi produk bernilai dan berdaya saing.
- Pendampingan Pertamina bantu Agrominafiber memperkuat brand dan akses pasar.
- Agrominafiber berhasil melakukan ekspor perdana homedecor ke Amerika Serikat.
Suara.com - Produk anyaman selama ini kerap identik dengan kerajinan tradisional. Namun, di tangan Novita Hermawan, material anyaman diolah menjadi perabot dan produk homedecor yang mengedepankan fungsi, desain, sekaligus karakter lokal.
Melalui Agrominafiber, Novita membangun bisnis perabot berbasis anyaman yang perlahan menembus pasar yang lebih luas, bahkan hingga Amerika Serikat. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa membawa produk lokal naik kelas tidak cukup hanya dengan menghasilkan barang berkualitas.
Novita mengatakan pelaku usaha juga harus mampu membangun identitas produk, memperkuat merek, memahami kebutuhan konsumen, hingga menemukan pasar yang tepat.
“Produk yang bagus belum tentu otomatis terjual. Kita harus belajar bagaimana produk diposisikan, dikomunikasikan, ditemukan, dan akhirnya dipercaya konsumen,” ujar Novita dalam Webinar Merah Putih bertajuk “Merdeka Berkarya, UMKM Naik Kelas” yang diselenggarakan Pertamina.
Menurut dia, salah satu tantangan terbesar Agrominafiber adalah mengubah persepsi produk anyaman agar tidak hanya dipandang sebagai kerajinan, tetapi sebagai produk dengan brand dan positioning yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Karena itu, membangun kepercayaan konsumen menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis, selain menjaga kualitas produk.
Perjalanan Agrominafiber bersama ekosistem Pertamina dimulai ketika Novita mengikuti Program Womenpreneur Pertamina Foundation pada 2022.
Setahun kemudian, Agrominafiber bergabung sebagai UMKM binaan Pertamina dan mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai program pengembangan usaha.
Sejumlah program yang diikuti antara lain Business Matching, UMK Academy Go Online, LMS UMK Academy, Petrapreneur Aggregator 2025, hingga SMEXPO Pertamina Marketplace.
Agrominafiber juga mendapat akses untuk memperkenalkan produknya melalui berbagai pameran nasional, seperti INACRAFT, Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, INABUYER 2026, dan SMEXPO Pertamina.
Bagi Novita, berbagai pelatihan, pameran, dan pertemuan dengan calon pembeli bukan sekadar kesempatan berjualan. Setiap kegiatan menjadi ruang untuk memahami kebutuhan pasar, memperkuat brand, membangun jejaring, serta mempelajari cara berkomunikasi dengan calon buyer dari karakter pasar yang berbeda.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong Agrominafiber mengubah strategi pemasarannya. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan marketplace dan media sosial, tetapi mulai memanfaatkan website, business matching, pameran, hingga platform ekspor.
“Pendampingan saja tidak cukup, karena dari UMKM sendiri perlu bertransformasi dari sekadar memiliki produk unggulan menjadi produk pilihan. Untuk sampai ke sana, kita perlu membangun brand, membangun kepercayaan, kemudian membangun pasar,” kata Novita.
Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Pada 2024, Agrominafiber mendapatkan kesempatan mengikuti SMEXPO Pertamina Nasional di Gandaria City. Ajang tersebut menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jaringan bisnis.
Setahun kemudian, langkah Agrominafiber semakin jauh. Pada 2025, perusahaan melakukan pelepasan ekspor perdana produk homedecor ke Amerika Serikat.
Ekspor tersebut menjadi tonggak penting bagi Novita dalam membawa produk berbasis anyaman dari bisnis lokal menuju pasar global.
Konsistensi mengembangkan usaha juga mengantarkan Agrominafiber meraih sejumlah penghargaan. Di antaranya Awarding Program Kewirausahaan KemenKUKM 2023, Juara 2 Kreasi dan Inovasi Kabupaten Kebumen 2024, UMKM Terinternasional Bank Indonesia Jawa Tengah 2025, Pemenang Sisberdaya 2025, Top 10 Petrapreneur Aggregator Pertamina, hingga peringkat kelima Ecosystem Impact Champion 2026.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan perjalanan Agrominafiber menunjukkan pentingnya proses pembelajaran dan pendampingan yang dilakukan secara bertahap agar UMKM semakin siap mengembangkan bisnisnya.
“Setiap UMKM memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kami mendorong proses pembinaan yang tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga bagaimana pelaku usaha semakin kuat dari sisi kapasitas, digitalisasi, brand, hingga akses pasar,” ujar Baron.
Menurut Baron, Pertamina terus memperkuat ekosistem pengembangan UMKM melalui berbagai dukungan, mulai dari penguatan perizinan usaha, digitalisasi dan pemanfaatan marketplace, pelatihan, business matching, hingga keikutsertaan dalam pameran nasional dan pembukaan akses menuju pasar internasional.
“Yang ingin kami bangun bukan hanya keberhasilan dalam satu pameran atau satu transaksi, tetapi proses agar UMKM terus belajar, berkembang, dan memiliki daya saing untuk tumbuh dalam jangka panjang,” tambahnya.