- Perusahaan manufaktur perlu mengintegrasikan proses dan data terlebih dahulu sebelum menerapkan AI agar teknologi dapat bekerja secara optimal.
- Connected Factory membantu perusahaan memantau operasional secara real-time dan menggunakan AI untuk mendeteksi potensi masalah lebih awal.
- Transformasi digital harus menyeimbangkan people, process, dan technology agar investasi teknologi benar-benar menyelesaikan masalah bisnis.
Suara.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memainkan peran penting dalam transformasi industri manufaktur. Perusahaan memanfaatkan teknologi ini untuk menganalisis data produksi, mendeteksi potensi masalah lebih awal, hingga mempercepat pengambilan keputusan operasional.
Namun, perusahaan tidak bisa sekadar membeli teknologi AI lalu berharap proses produksi langsung menjadi lebih efisien. Perusahaan perlu membangun fondasi digital yang kuat, terutama melalui integrasi proses dan data.
Channel Sales Director Southeast Asia Epicor, Adhi Firmansyah, mengatakan perusahaan manufaktur perlu menjadikan integrasi proses sebagai langkah awal sebelum menerapkan AI secara lebih luas.
Menurut Adhi, AI memang dapat membantu meningkatkan kemampuan operasional. Namun, perusahaan akan kesulitan mendapatkan manfaat maksimal jika data masih tersebar di berbagai sistem yang tidak saling terhubung.
“Bagaimana kita melakukan integrasi proses terlebih dahulu. Aktivitas harus terhubung secara end-to-end, antara finance, production, dan software, sehingga visibility dari operation dapat tertangkap,” ujar Adhi kepada Suara.com.
Integrasi tersebut membuat data dari berbagai aktivitas perusahaan mengalir lebih baik. Perusahaan kemudian dapat memanfaatkan data tersebut untuk analitik lanjutan dan penerapan AI.
Mulai dari Connected Factory
Adhi menyarankan perusahaan manufaktur membangun transformasi digital secara bertahap. Perusahaan perlu menciptakan visibilitas terhadap seluruh proses operasional sebelum menerapkan berbagai teknologi sekaligus.
Pendekatan yang dapat dilakukan adalah Connected Factory untuk menghubungkan berbagai proses dan sistem. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan memperoleh informasi operasional secara lebih menyeluruh dan real-time.
Perusahaan juga perlu mengetahui sumber biaya produksi secara detail dan membandingkannya dengan tingkat efisiensi yang dicapai. Informasi tersebut dapat membantu perusahaan mencari sumber persoalan, baik dari bahan baku, proses operasional, maupun penerapan standar kerja.
“Feasibility ini harus real-time sebagai fondasi Connected Factory,” jelasnya.
Adhi melihat sejumlah perusahaan masih menjalankan fungsi keuangan, produksi, dan aplikasi bisnis secara terpisah. Kondisi tersebut membuat perusahaan kesulitan mendapatkan informasi secara real-time dan menyeluruh.
Itulah sebabnya perusahaan perlu menyelesaikan persoalan integrasi terlebih dahulu sebelum mengembangkan analitik dan AI.
AI Bisa Deteksi Masalah Mesin Lebih Dini
Di lain sisi, perusahaan dapat memperoleh manfaat AI secara lebih optimal setelah mengintegrasikan proses dan data sebab AI mampu membaca pola serta anomali yang sulit ditemukan melalui pemeriksaan manual.
Perusahaan juga dapat memanfaatkan AI untuk menganalisis data produksi dan mendeteksi potensi gangguan pada mesin. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan mengambil langkah pencegahan sebelum kerusakan benar-benar menghambat produksi.
Tidak hanya itu, AI dapat membantu perusahaan memperkirakan potensi masalah sekaligus dampak kerugian yang mungkin muncul. Namun, Adhi kembali menegaskan pentingnya fondasi sebelum perusahaan mengandalkan teknologi tersebut.
“Tanpa integrasi proses yang baik, people yang baik, sistem yang baik, AI tidak bisa memberikan data secara bagus dan akurat,” katanya.
Sustainability Bisa Dorong Efisiensi
Industri manufaktur juga perlu melihat aspek keberlanjutan atau sustainability sebagai bagian dari strategi bisnis. Adhi menilai perusahaan tidak seharusnya memandang isu tersebut sebatas kewajiban terhadap lingkungan.
Perusahaan bisa memperoleh manfaat lingkungan sekaligus bisnis melalui penyederhanaan proses produksi. Misalnya, perusahaan memangkas proses yang sebelumnya membutuhkan 10 langkah menjadi enam langkah.
Sistem yang terkoneksi juga membantu perusahaan memantau penggunaan mesin, proses produksi, hingga limbah industri secara real-time.
“Ini adalah bagian dari aktivitas operasional sehari-hari. Kita menganggapnya sebagai investasi, bukan hanya improvement terhadap lingkungan, tetapi juga business improvement,” ujar Adhi.
People, Process, dan Technology Harus Berjalan Bersama
Adhi mengingatkan bahwa investasi ERP, otomasi, maupun AI tidak otomatis membuat operasional perusahaan lebih efisien.
Perusahaan perlu melihat tiga elemen utama, yakni people, process, dan technology, sekaligus memastikan teknologi mampu meningkatkan keterampilan dan produktivitas karyawan.
Sementara itu, solusi teknologi yang dipilih juga harus sesuai kebutuhan serta mampu memberikan return on investment (ROI).
Karena itu, perusahaan perlu menentukan critical pain point sebelum melakukan investasi.
Pada akhirnya, Adhi menilai transformasi digital manufaktur bukan sekadar perlombaan menggunakan teknologi terbaru. Perusahaan perlu memastikan setiap teknologi mampu menjawab persoalan bisnis dan menghasilkan manfaat yang terukur.
“Investasi ini berhubungan dengan benefit. Teknologi tanpa kita memahami di mana kita punya problem, ini tidak akan tepat guna,” pungkas Adhi.