- Pasar komoditas global pada Agustus 2026 menguat akibat pengetatan pasokan menurut laporan BNI Sekuritas.
- Harga emas memimpin kenaikan hingga mencapai rekor US$4.690 per troy oz pada akhir Agustus 2026.
- Sektor mineral domestik mencatat arus masuk asing bersih sebesar Rp655 miliar sepanjang Agustus 2026.
Suara.com - Pasar komoditas global mencatatkan pergerakan positif sepanjang bulan Agustus 2026 setelah sempat menyentuh level terendah pada Juli lalu. Berdasarkan laporan analisis Update Sektor Energi yang dirilis oleh BNI Sekuritas, penguatan harga komoditas saat ini lebih didorong oleh faktor gangguan dan pengetatan pasokan global daripada pemulihan permintaan yang merata.
Dalam laporan tersebut, sektor logam mulia mencatatkan kinerja paling unggul di antara komoditas lainnya. Tren penguatan ini ditopang oleh langkah Departemen Keuangan AS (US Treasury) yang melipatgandakan program buyback penopang likuiditas jangka panjang dari US$2 miliar menjadi US$4 miliar per operasi, melunaknya data inflasi dan tenaga kerja Amerika Serikat, serta sensitivitas pasar terhadap biaya pinjaman di tengah lonjakan utang federal AS yang mendekati US$40 triliun.
Pergerakan Harga Komoditas Logam dan Batu Bara
Kenaikan harga logam dipimpin oleh emas yang melesat 7,5% secara bulanan (month-on-month/mom), dengan rata-rata harga di bulan Agustus mencapai US$4.385 per troy oz dan menembus rekor US$4.690 per troy oz pada akhir bulan.
Selain emas, jajaran komoditas industri juga menunjukkan respons positif terhadap kondisi pasokan yang semakin ketat:
- Tembaga, Aluminium, dan Timah: Masing-masing mencatatkan kenaikan harga sebesar 6%, 3%, dan 5% secara month-on-month dipicu ketatnya ketersediaan barang di pasar global.
- Nikel: Mengalami kenaikan tipis 0,6% mom, di mana para pelaku pasar masih bersikap wait and see menanti kepastian terkait revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari Pemerintah Indonesia.
- Batu Bara: Harga batu bara bergerak stabil dengan indeks acuan Newcastle berada di posisi flat pada level US$130 per ton. Penurunan produksi dari China serta pelemahan volume ekspor dari Indonesia dan Australia berhasil menyeimbangkan permintaan pasar lintas laut (seaborne) yang masih cenderung lesu.
Rekomendasi Saham Pilihan dan Arus Modal Asing
Menyikapi dinamika tersebut, BNI Sekuritas mempertahankan pandangan investasi Overweight untuk jangka pendek hingga panjang (3 bulan dan 12 bulan).
BNI Sekuritas menetapkan empat saham sebagai top picks utama di sektor ini, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).
Dari sisi aliran dana investor mancanegara, sektor mineral domestik mencatatkan net foreign inflow (arus masuk asing bersih) sebesar Rp655 miliar sepanjang Agustus 2026. Sebaliknya, sektor batu bara mencatatkan outflow (arus keluar dana asing) sebesar Rp533 miliar.
Meskipun terjadi dinamika aliran dana, BNI Sekuritas menilai tingkat valuasi saham-saham di kedua sektor masih relatif murah. Rasio valuasi sektor mineral berada di kisaran 3,9x EV/EBITDA forward, sedangkan sektor batu bara berada di level 5,7x P/E forward, di mana kedua angka tersebut masih berada di bawah rata-rata historis 10 tahunnya.
Adapun beberapa risiko utama yang perlu dicermati investor ke depan meliputi kepastian penyesuaian regulasi RKAB, eksekusi kebijakan pemerintah, serta potensi eskalasi konflik geopolitik global.
Disclaimer: Artikel ini disajikan semata-mata untuk tujuan informasi berita dan edukasi pasar. Informasi dalam artikel ini bukan merupakan saran finansial, rekomendasi jual/beli, atau ajakan untuk melakukan investasi pada saham maupun komoditas tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.