Bansos Salah Sasaran, 36.460 Orang Tercatat Terima Bantuan Selama 18 Tahun

Achmad Fauzi, Fakhri Fuadi Muflih

Jum'at, 11 September 2026 | 17:20 WIB
Bansos Salah Sasaran, 36.460 Orang Tercatat Terima Bantuan Selama 18 Tahun
Tenaga Ahli Kementerian Sosial Andi Kurniawan (tengah) mengungkapkan banyak bantuan sosial (bansos) yang salah sasaran. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].
baca 10 detik
  • Dewan Ekonomi Nasional mengungkapkan sekitar 45 persen penyaluran anggaran bansos pemerintah diduga tidak tepat sasaran.
  • Kemensos menemukan jutaan warga menerima bansos bertahun-tahun, sementara warga rentan lain tidak masuk data.
  • Pemerintah menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional untuk memperbaiki ketepatan sasaran penerima bansos.

Suara.com - Kementerian Sosial (Kemensos) mengungkap hasil kajian Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang menemukan sekitar 45 persen penyaluran bantuan sosial atau bansos diduga tidak tepat sasaran. Padahal, pemerintah mengalokasikan anggaran perlindungan sosial hingga lebih dari Rp500 triliun.

Tenaga Ahli Kementerian Sosial Andi Kurniawan mengatakan ketidaktepatan sasaran menjadi salah satu persoalan yang membuat anggaran besar untuk perlindungan sosial belum menghasilkan dampak maksimal dalam pengentasan kemiskinan.

Dari total anggaran perlindungan sosial yang hampir mencapai Rp504 triliun tersebut, sekitar Rp78 triliun di antaranya dialokasikan untuk program perlindungan sosial di lingkungan Kemensos, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH) dan program Sembako.

"Hasil kajian Dewan Ekonomi Nasional ditengarai 45 persen miss-target. Yang sisanya 55 persen sesuai desil," uja Andi dalam diskusi publik bertajuk Metodologi Penentuan Desil dan Pengukuran Kemiskinan di Indonesia, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Ilustrasi Bansos [Ist]
Ilustrasi Bansos [Ist]

Andi mempertanyakan efektivitas anggaran perlindungan sosial yang selama ini terus digelontorkan pemerintah apabila masih terdapat persoalan besar dalam menentukan penerima bantuan.

Menurut dia, ketidaktepatan sasaran membuat berbagai program pemerintah tidak mampu bekerja secara maksimal untuk menekan angka kemiskinan.

"Indonesia tidak pernah sangat signifikan mengentaskan kemiskinan, turunnya hanya segitu-segitu saja. Kenapa? Bisa saja, padahal anggarannya besar untuk pengentasan kemiskinan perlindungan sosial. Pertanyaannya kenapa? Karena semua programnya tidak mencapai potensi maksimalnya. Salah satu penyebabnya adalah ketidaktepatan sasaran," bebernya.

Kemensos pun menemukan persoalan lain dalam penyaluran bansos, yakni penerima yang memperoleh bantuan dalam jangka waktu sangat panjang.

Setelah melakukan penelaahan terhadap data penerima, terdapat sekitar 4,5 juta orang yang telah menerima bansos lebih dari lima tahun. Bahkan, sebanyak 36.460 orang tercatat menerima bantuan selama lebih dari 18 tahun.

baca juga

Di sisi lain, masih terdapat masyarakat yang membutuhkan bantuan, seperti lansia, penyandang disabilitas, hingga kelompok terlantar, tetapi justru tidak tercatat dalam sistem dan tidak menerima bantuan.

"Di luar DTKS, ada yang mereka membutuhkan seperti lansia, disabilitas, terlantar, gara-gara tidak masuk data mereka tidak terima bansos," ucap Andi.

Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan masih tingginya exclusion error atau kesalahan ketika masyarakat yang seharusnya berhak menerima bantuan justru terlewat dari sistem.

Untuk memperbaiki efektivitas anggaran perlindungan sosial, pemerintah kini menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai acuan penentuan sasaran.

Melalui sistem tersebut, pemerintah mengelompokkan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan ke dalam sejumlah desil. Penerima bantuan kemudian diprioritaskan kepada masyarakat yang berada pada Desil 1 hingga Desil 4.

Andi mengungkapkan, sebelum menggunakan DTSEN, penerima PKH dan bantuan Sembako masih tersebar di seluruh kelompok desil. Bahkan, terdapat 64.000 penerima bantuan yang berada di Desil 10.

"Dulu, kuartal I Tahun 2025 kita masih pakai DTKS. Penerima PKH dan penerima sembako itu tersebar di keseluruhan desil. Desil 1 ada 2 juta, bahkan Desil 10 ada 64.000 orang yang menerima bansos," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bansos Beras 30 Kg Pakai Data Desil Terbaru, Cair Juli-September 2026

Bansos Beras 30 Kg Pakai Data Desil Terbaru, Cair Juli-September 2026

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 21:13 WIB

Pemerintah Didesak Tunda Penggunaan DTSEN untuk Penyaluran Bansos

Pemerintah Didesak Tunda Penggunaan DTSEN untuk Penyaluran Bansos

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 17:04 WIB

Prabowo Minta Bansos Langsung Masuk ke Rekening, Luhut Justru Khawatir Dipakai Judol

Prabowo Minta Bansos Langsung Masuk ke Rekening, Luhut Justru Khawatir Dipakai Judol

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 14:38 WIB

Terkini

Siap Sambut Pengunjung Mulai 2 November, Eiger Nature Wadahi Konservasi dan Pemberdayaan Warga Bogor

Siap Sambut Pengunjung Mulai 2 November, Eiger Nature Wadahi Konservasi dan Pemberdayaan Warga Bogor

Bogor | Rabu, 28 Oktober 2026 | 00:28 WIB

Kapolres Bogor: Terduga Pelaku Pembunuh Bobotoh Cilik Bukan Suporter Bola

Kapolres Bogor: Terduga Pelaku Pembunuh Bobotoh Cilik Bukan Suporter Bola

Jabar | Rabu, 28 Oktober 2026 | 00:05 WIB

13 Hari Kasus Pengeroyokan Jurnalis Palembang Belum Tuntas, Koalisi Pers Desak Kapolda Dicopot

13 Hari Kasus Pengeroyokan Jurnalis Palembang Belum Tuntas, Koalisi Pers Desak Kapolda Dicopot

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:58 WIB

Pimpinan Natura City Disebut Tak Akan Hadiri Mediasi Sengketa Tanah 14 Hektare di Bogor

Pimpinan Natura City Disebut Tak Akan Hadiri Mediasi Sengketa Tanah 14 Hektare di Bogor

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Palembang hingga OKI Diguyur Hujan Buatan, TNI AU Kerahkan Hercules dan Casa untuk Atasi Karhutla

Palembang hingga OKI Diguyur Hujan Buatan, TNI AU Kerahkan Hercules dan Casa untuk Atasi Karhutla

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:38 WIB

Natura City Tolak Proposal Damai PT SIR dalam Sengketa Tanah 14 Hektare di Gunung Sindur

Natura City Tolak Proposal Damai PT SIR dalam Sengketa Tanah 14 Hektare di Gunung Sindur

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:35 WIB

Tekanan Outflow Asing, Investor Diminta Hati-hati Pilih Saham Perbankan

Tekanan Outflow Asing, Investor Diminta Hati-hati Pilih Saham Perbankan

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:55 WIB

Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet

Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet

Jawa Tengah | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar

Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Satu Tahun Sekolah Rakyat Berjalan, Pemerintah Terus Berupaya Benahi Layanan Siswa

Satu Tahun Sekolah Rakyat Berjalan, Pemerintah Terus Berupaya Benahi Layanan Siswa

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:32 WIB

×