- Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke level Rp17.818 per dolar AS pada Rabu, 23 September 2026.
- Penguatan rupiah tersebut didorong oleh keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga serta langkah intervensi pasar.
- Sebagian besar mata uang Asia lainnya mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan sore itu.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih terus melesat hingga akhir perdagangan, Rabu, 23 September 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp17.818 per dolar AS,menguat 66 poin atau naik 0,37 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang ada di Rp17.884 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah ini dipengaruhi keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga di level 5,75 persen.
"Rupiah ditutup di level 17.818 per dolar, rebound tajam setelah beberapa sesi melemah, meski hasil Rapat Dewan Gubernur BI relatif sesuai ekspektasi," ujarnya saat dihubungi Suara.com.
Lukman melanjutkan, rupiah menguat ini kemungkinan lebih dipengaruhi intervensi BI dan posisi dolar setelah tidak ada kejutan dalam rapat tersebut.
![Bank Indonesia, Jakarta. [Antara//M Risyal Hidayat/wsj]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/22/45764-bank-indonesia.jpg)
"Dengan absennya data ekonomi penting sepekan ini, perhatian investor tertuju pada hasil perundingan AS-Iran dan pertemuan Xi-Trump. Rupiah diperkirakan bekisar Rp17.750- Rp17.850," jelasnya.
Sementara itu, rupiah menguat Bersama peso Filipina dan dolar Hong Kong. Rupiah menguat 0,37 persen, peso Filipina menguat 0,13% dan dolar Hong Kong menguat 0,001 persen terhadap dolar AS.
Sedangkan, mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS sore ini. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 1,02 persen disusul baht Thailand yang melemah 0,29 persen.
Lalu, yen Jepang melemah 0,24 persen dolar Singapura melemah 0,18 persen, rupee India melemah 0,13 persen, yuan China melemah 0,12 persen ringgit Malaysia melemah 0,10 persen dan dolar Taiwan melemah 0,01 persen terhadap dolar AS.