- Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa konflik Timur Tengah dan kebijakan moneter ketat menekan ekonomi global pada September 2026.
- Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 mencapai kisaran 4,9 hingga 5,7 persen yang ditopang konsumsi rumah tangga dan stimulus.
- BI memperkuat bauran kebijakan dan sinergi bersama pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi domestik dari ketidakpastian pasar keuangan global.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) melihat, prospek perekonomian global masih belum kuat di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan.
Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi antara lain oleh meningkatnya kembali tensi konflik di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas dunia.
Adapun, harga minyak dunia sempat menyentuh 132 dolar AS per barel sebelum kembali turun ke level di bawah 100 dolar AS per barel pada 22 September 2026.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan masih lemah, yakni sekitar 3,0 persen, sementara tekanan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,6 persen. (Bank Indonesia)
"Bank Indonesia juga mencermati arah kebijakan moneter global yang semakin ketat. Suku bunga kebijakan Amerika Serikat atau Fed Funds Rate (FFR) berada pada kisaran 3,75–4,00 persen pada September 2026. Imbal hasil surat utang Pemerintah AS atau US Treasury turut meningkat seiring ekspektasi kenaikan FFR dan besarnya defisit anggaran Amerika Serikat," jelasnya di Gedung BI, Rabu (23/9/2026).
Kondisi tersebut turut menahan preferensi investor global untuk menempatkan dana pada aset portofolio di negara-negara emerging markets.

Dampaknya, indeks dolar AS masih relatif kuat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti menekankan, pentingnya penguatan koordinasi kebijakan dalam menghadapi tekanan eksternal tersebut.
“Kondisi ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik," jelasnya.
Di tengah tekanan global, perekonomian Indonesia dinilai masih terjaga. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan, didukung berbagai stimulus fiskal Pemerintah serta mulai menguatnya keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen.
Investasi juga masih tumbuh positif, terutama ditopang investasi Pemerintah. Namun, peran investasi swasta dinilai masih perlu diperkuat agar sumber pertumbuhan ekonomi semakin berimbang.
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor nonmigas menunjukkan peningkatan sejalan dengan naiknya permintaan dari sejumlah negara. Meski demikian, berbagai upaya masih diperlukan untuk mengoptimalkan manfaat dari kenaikan harga komoditas ekspor.
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik, ditopang pelaksanaan berbagai program stimulus Pemerintah, membaiknya keyakinan pelaku ekonomi, serta optimalisasi berbagai sumber pertumbuhan.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.
Untuk mendukung prospek tersebut, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan Pemerintah.
Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan.
![Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/05/16741-ilustrasi-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-ist.jpg)
Sebelumnya, BI juga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi domestik tetap ditopang permintaan dalam negeri serta berbagai stimulus Pemerintah.
Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan, setelah tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026.