- Harga minyak dunia turun pada 29 Oktober 2026 akibat diplomasi meredam konflik Timur Tengah.
- Upaya damai melibatkan komunikasi Wapres AS JD Vance dan proposal baru dari Qatar untuk Iran.
- Kondisi energi tinggi mendorong The Fed berhati-hati menetapkan suku bunga demi menjaga inflasi global.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia melandai pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Langkah-langkah diplomasi terbaru untuk meredam konflik di Timur Tengah mulai mengurangi kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan energi global.
Mengutip dari CNBC pada Jumat (30/9/2026), harga minyak mentah berjangka jenis Brent terkoreksi 44 sen menjadi 114,88 dolar AS per barel. Sementara itu, acuan West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 78 sen dan ditutup di level 102 dolar AS per barel.
Penurunan harga ini dipicu oleh laporan The Wall Street Journal, yang menyebutkan bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance telah membuka komunikasi dengan Kepala Dewan Keamanan Iran Mohsen Rezaei sebagai upaya menghidupkan kembali perundingan damai.
Di saat yang sama, mediator asal Qatar dilaporkan telah mengajukan draf proposal baru untuk menghentikan konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel.
Meski pejabat senior Iran sempat menilai proposal tersebut belum dapat diterima, Menteri Luar Negeri Iran menyatakan melalui platform X bahwa Teheran tetap terbuka pada jalur diplomasi, termasuk peluang mempercepat rencana gencatan senjata selama tujuh hari jika kesepakatan tercapai.
Kendati demikian, para pelaku pasar masih membayangi risiko serangan kelompok Houthi serta potensi aksi militer susulan dari AS terhadap Iran seusai pemilu sela pada 3 November 2026 mendatang.

Ancaman gangguan pasokan yang belum sepenuhnya hilang menahan harga minyak tetap berada di level tinggi, sehingga memicu tekanan inflasi dan memperumit arah kebijakan moneter global.
Senior Economist Interactive Brokers, José Torres, menilai lonjakan harga minyak masih menjadi pendorong utama inflasi di atas target, meskipun tekanan harga pada sektor lain relatif terkendali.
Menurutnya, inflasi yang berpusat pada sektor energi menuntut Bank Sentral AS (The Fed) untuk lebih berhati-hati dan bersabar dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Ia menambahkan, respons suku bunga yang terlalu agresif terhadap gejolak pasokan minyak berisiko memperlemah sektor ketenagakerjaan dan memperburuk kerentanan kredit.
Namun, jika resolusi geopolitik tercapai dan harga minyak WTI melandai ke kisaran 70 dolar AS per barel, kondisi tersebut dapat membuka ruang bagi The Fed untuk mulai memangkas suku bunga.