- Kementerian Perdagangan menargetkan fasilitasi digital bagi ribuan pasar rakyat dan ratusan ribu pedagang di Indonesia.
- Wamendag Dyah Roro Esti menyatakan program tersebut mencakup penerapan pembayaran QRIS serta pelatihan penjualan secara daring.
- Penerapan teknologi digital di pasar rakyat diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar serta menciptakan efek pengganda ekonomi.
Suara.com - Digitalisasi mulai diterapkan dalam aktivitas perdagangan di pasar rakyat di berbagai daerah. Kementerian Perdagangan mencatat sekitar 6.870 pasar rakyat dan lebih dari 300.000 pedagang telah mendapatkan fasilitasi digital. 6.870 Pasar Rakyat dan 300 Ribu Pedagang Telah Difasilitasi Digital
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag),Dyah Roro Esti mengatakan, fasilitasi tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai instansi. Bentuknya antara lain penggunaan sistem pembayaran digital serta pelatihan bagi pedagang.
"Kalau tercatat di data kita, ada sekitar, di tahun 2025 (target), ada sekitar 6.870 pasar rakyat dan lebih dari 300.000 pedagang yang sudah kita berikan fasilitasi digital," kata Roro di Jakarta, dikutip Sabtu (26/9/2026).
Menurut Roro, salah satu bentuk digitalisasi yang diterapkan di pasar rakyat adalah penggunaan sistem pembayaran secara daring, termasuk QRIS. Pedagang juga mendapatkan pelatihan untuk menggunakan kanal digital dalam aktivitas penjualan.
"Baik itu melalui online payment system, jadi QRIS itu sudah masuk ke pasar-pasar. Payment system online itu sudah masuk ke pasar-pasar. Hingga kemudian memberikan pelatihan untuk para pedagang, selain mereka bisa berjualan seperti biasa, tapi mereka juga bisa berjualan secara online," ujarnya.
Roro mengatakan, pemanfaatan kanal digital memberikan pilihan tambahan bagi pedagang untuk menjangkau konsumen. Aktivitas perdagangan dapat dilakukan secara langsung di pasar maupun melalui kanal online.
![Ilustrasi ekosistem digital. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/20/54165-ilustrasi-ekosistem-digital.jpg)
"Sehingga mereka bisa menembus berbagai jenis pasar (they're tapping into the different types of markets), baik itu di pasar rakyatnya, tapi juga secara online mereka bisa berdagang," ungkapnya.
Ia menilai, perkembangan teknologi membuat pelaku usaha perlu melakukan penyesuaian dalam menjalankan aktivitas perdagangan. Pemanfaatan teknologi juga diharapkan dapat memberikan dampak terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.
"Memang ini adalah suatu hal yang suka tidak suka kita memang harus beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Harapannya, ini juga bisa menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang tentunya dibutuhkan," jelas Roro.
Selain digitalisasi pasar rakyat, Kementerian Perdagangan juga memiliki sejumlah program yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi bagi pelaku usaha.
Salah satunya Export Coaching Program yang ditujukan untuk membantu pelaku usaha mengakses pasar internasional.
Roro mengatakan, pemanfaatan teknologi juga perlu disertai dengan upaya mengurangi kesenjangan akses dan kemampuan masyarakat dalam menggunakannya.
"Dan kita akan selalu berupaya di pemerintah untuk kemudian memastikan bahwa AI dan teknologi yang semakin berkembang tidak membuat kesenjangan itu semakin lebar," tuturnya.
Menurutnya, pelatihan menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu masyarakat dan pelaku usaha mengikuti perkembangan teknologi.
"Lalu kemudian, kita juga harus bisa memanfaatkannya untuk kemudian memastikan kesenjangan yang tadi disampaikan itu bisa semakin kecil. Melalui pelatihan-pelatihan yang kita bisa tawarkan," pungkas Roro.