- Nilai investasi Telkomsel di GOTO menyusut Rp5,65 triliun.
- Harga GOTO Rp32 membuat investasi tersisa Rp759 miliar.
- GOTO harus naik 743,75% untuk kembali ke Rp270.
Suara.com - Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali tertekan hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Penurunan ini ikut memperbesar penyusutan nilai pasar investasi PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) di perusahaan teknologi tersebut.
Telkomsel tercatat memiliki sekitar 23,72 miliar saham GOTO atau setara dengan 1,99% dari total saham beredar.
Berdasarkan harga perolehan Rp270 per saham, nilai investasi awal Telkomsel mencapai sekitar Rp6,40 triliun. Namun, dengan harga saham GOTO yang berada di level Rp32 per saham pada Rabu (30/9/2026), nilai pasar kepemilikan tersebut kini hanya sekitar Rp759,04 miliar.
Dengan demikian, terdapat selisih sekitar Rp5,65 triliun antara nilai perolehan awal dan nilai pasar saham GOTO yang masih dimiliki Telkomsel.
Secara persentase, nilai pasar investasi tersebut telah menyusut sekitar 88,15% dari harga perolehan.
Artinya, setiap Rp100 yang ditanamkan Telkomsel berdasarkan harga perolehan awal, kini secara nilai pasar hanya tersisa sekitar Rp11,85.
Tekanan saham GOTO juga membuat jalan untuk mengembalikan nilai investasi tersebut ke posisi awal semakin panjang.
Untuk kembali ke harga perolehan Telkomsel sebesar Rp270 per saham dari posisi Rp32, GOTO membutuhkan kenaikan sekitar 743,75%. Dengan kata lain, saham GOTO harus melonjak sekitar 8,44 kali lipat dari level saat ini.
Besarnya kebutuhan kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan ke harga perolehan bukan sekadar membutuhkan rebound puluhan persen. Bahkan kenaikan 100% sekalipun hanya akan membawa harga GOTO dari Rp32 menjadi Rp64.
Meski demikian, penyusutan nilai sekitar Rp5,65 triliun tersebut belum dapat disebut sebagai kerugian yang telah direalisasikan.
Angka tersebut merupakan penurunan nilai pasar atau floating loss berdasarkan harga saham GOTO saat ini. Kerugian baru menjadi terealisasi apabila Telkomsel menjual saham GOTO pada harga yang lebih rendah dibandingkan harga perolehannya.
Namun, dari sisi nilai pasar, tekanan saham GOTO jelas telah memangkas nilai investasi Telkomsel secara signifikan dibandingkan modal yang dihitung berdasarkan harga perolehan.
Dengan posisi GOTO di Rp32, investasi yang sebelumnya bernilai sekitar Rp6,40 triliun berdasarkan harga perolehan kini hanya mencerminkan nilai pasar sekitar Rp759,04 miliar.
Sebelumnya, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan mengatakan investasi tersebut tetap menjadi bagian dari kemitraan strategis jangka panjang untuk mengoptimalkan potensi sinergi dan menciptakan nilai bagi Telkomsel.
"Kami sampaikan bahwa investasi Telkomsel di GoTo merupakan bagian dari kemitraan strategis jangka panjang yang berfokus pada optimalisasi potensi sinergi dan penciptaan nilai bagi Telkomsel," kata Daru dalam Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026).
![Jaringan Telkomsel. [dok Telkomsel]](https://media.suara.com/pictures/original/2025/10/21/30786-jaringan-telkomsel.jpg)
Pernyataan itu disampaikan saat Daru menjawab pertanyaan mengenai arah investasi Telkomsel di GOTO, termasuk floating loss yang disebut mencapai Rp5 triliun lebih.
Menurut Daru, pergerakan harga saham GOTO tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai manfaat investasi. Harga saham mencerminkan dinamika pasar, sedangkan kemitraan Telkomsel dan GOTO juga memiliki tujuan strategis.
"Pergerakan harga saham GoTo mencerminkan dinamika pasar dan tidak merepresentasikan manfaat strategis dari kemitraan tersebut," ujarnya.
Telkomsel masih mengevaluasi kinerja investasi sekaligus realisasi sinergi dengan GOTO. Namun, perseroan belum mengungkap nilai sinergi yang telah terealisasi maupun target manfaat finansial dari kerja sama tersebut.
"Ke depan Telkomsel akan terus melakukan evaluasi secara disiplin terhadap kinerja investasi dan realisasi sinergi," kata Daru.
Hingga kini, Telkomsel juga belum menyampaikan rencana untuk menjual, menambah, ataupun mengurangi kepemilikan saham GOTO.
Daru menegaskan, setiap keputusan investasi akan diambil secara pruden berdasarkan kajian yang komprehensif serta mengikuti prinsip tata kelola dan mekanisme persetujuan yang berlaku.
"Setiap keputusan terkait investasi akan diambil secara pruden berdasarkan kajian yang komprehensif serta mengikuti prinsip tata kelola dan mekanisme persetujuan yang berlaku," tutup Daru.