- Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan rencana impor KRL bekas dari Jepang masih terkendala aturan batas usia pakai.
- Danantara mempertimbangkan opsi impor tersebut karena kapasitas produksi PT INKA terbatas akibat proses transformasi bisnis yang sedang berjalan.
- Kementerian Perhubungan fokus mempersiapkan aspek teknis pengadaan sembari berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya.
Suara.com - Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut rencana impor KRL bekas dari Jepang masih dalam tahap pembahasan. Dirinya akan berkoordinasi dengan kementerian/lemabaga terkait untuk memuluskan rencana tersebut.
Namun, Menhub mengakui, masih ada aturan yang mengganjal rencana tersebut. Misalnya, aturan pakai barang impor di mana usia pakai maksimal 20 tahun.
Akan tetapi, rata-rata KRL bekas dari jepang yang diimpor usai pakainya rata-rata 25 tahun.
"Tetapi saya ingin semua duduk berbicara ada kebutuhan tetapi juga ada kendala dari produksi (INKA)," uja Dudy seperti dikutip, Senin (5/10/2026).

Menurutnya, permasalahan hal ini harus dilihat secara komprehensif. Dudy bilang, semua pihak harus melihat keadaan industri dan kebutuhan transportasi.
"Harus ada jalan tengahnya. Kami tidak mungkin harus memaksakan apakah ini impor atau harus dipenuhi oleh industri dalam negeri dengan segala keterbatasannya," ucapnya.
Namun demikini, sambil menunggu keputusan impor atau tidak, Dudy akan fokus pada segala teknis, jika memang akhirnya dilakukan impor KRL Bekas.
“Kami dari Kementerian Perhubungan itu menyiapkan hal yang terkait dengan teknis, berkaitan dengan pengadaan KRL-nya. Izinnya itu ada di Kemendag,“ tuturnya.
Danantara Punya Opsi Impor
Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria menyatakan impor KRL bekas dari jepang akan menjadi salah satu opsi untuk menyediakan sarana kereta commuter Jabodetabek.
Menurutnya, opsi ini diambil setelah PT INKA (Persero) tengah masuk transformasi bisnis yang berimbas pada keterbatasan produksi lokal.
"Makanya proses transformasi INKA ini kan sedang berjalan, ya. Tapi kapasitas produksi mereka kan juga sangat terbatas, kan? Jadi ada pilihan-pilihan yang harus kita buat nih," ujar Dony di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Namun, Ia menyebut, tidak serta-merta semua sarana KRL itu akan disediakan melalui impor dari Jepang. Dony akan melihat terlebih dahulu kapasitas produksi INKA, setelah merasa kekurangan baru dilakukan impor.
"Nah, kita balance-kan antara kebutuhannya dengan kapasitas produksinya INKA. Sisanya, itu yang akan kita lakukan alternatif," ujar dia.
Untuk menentukan opsi impor KRL ini, Dony berencana melakukan pertemuan dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi.
"Hari ini harusnya saya ada pertemuan dengan Pak, ini hari Jumat, kan ya? Iya. Harus nya ada pertemuan dengan Pak Menhub untuk berdiskusi," jelasnya.