- Mata uang rupiah menguat ke level Rp17.902 per dolar Amerika Serikat di pasar keuangan pada Jumat, 10 Oktober 2026.
- Penguatan rupiah didorong oleh meredanya imbal hasil obligasi Amerika Serikat serta harapan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.
- Analis Lukman Leong menyatakan bahwa investor domestik saat ini juga tengah menantikan rilis data penjualan ritel Indonesia.
Suara.com - Mata uang Garuda berbalik menguat di pasar keuangan. Berdasarkan data Bloomberg Jumat, 10 Oktober 2026 , rupiah dibuka ke level Rp17.902 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini menguat 13 poin atau naik 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.915 Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah dikarenakan meredanya imbas hasil obligasi Amerika Serikat yang memberikan tekanan pada dolar AS.
"Rupiah dibuka menguat terhadap dolar AS seiring meredanya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahnya indeks dolar AS," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menambahkan, sentimen positif lainnya didorong oleh meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah. Hal ini menyusul pernyataan Trump mengenai adanya perkembangan positif dalam perundingan dengan Iran.
Apalagi, investor juga menantikan data penjualan ritel di Indonesia bisa memberikan sentimen yang baik untuk rupiah.
"Dari domestik, investor menantikan rilis data penjualan ritel Agustus. Range Rp17.850 sampai Rp17.950," jelasnya.
![Ilustrasi Peso. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/08/74507-ilustrasi-peso.jpg)
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia cenderung menguat. Adapun, baht Thailand menjadi mata uang paling kuat 0,20 persen. Disusul, dolar Singapura dan peso Filipina kompak menanjak 0,10 persen.
Lalu, ada ringgit Malaysia yang naik 0,07 persen dan won Korea yang menguat tipis 0,03 persen. Sedangkan, yen Jepang menjadi mata uang satu-satunya melemah 0,10 persen.