- Potensi panas bumi RI mencapai 23,2 GW, tetapi baru 2,78 GW dimanfaatkan.
- PLTP Kamojang berkapasitas 235 MW dan beroperasi secara komersial sejak 1983.
- Reinjeksi fluida menjaga produktivitas reservoir dan mendukung keberlanjutan panas bumi.
Dengan mekanisme ini, pengelolaan fluida tidak hanya berperan dalam menjaga keberlanjutan operasi, tetapi juga mendukung pemanfaatan energi panas bumi dalam jangka panjang.
PLTP Kamojang menjadi salah satu tonggak pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Sejarah eksplorasinya dimulai pada 1926, ketika Pemerintah Hindia Belanda melakukan pengeboran di kawasan tersebut.
Salah satu sumur eksplorasi, KMJ-3, dibor hingga kedalaman sekitar 60 meter dan hingga kini masih mengeluarkan uap panas bumi, menurut keterangan Tina.
Pengembangan panas bumi Kamojang kemudian berlanjut selama puluhan tahun. Kawasan tersebut mulai menghasilkan listrik sebesar 0,25 megawatt (MW) pada 1978. Selanjutnya, PLTP Kamojang Unit 1 berkapasitas 30 MW mulai beroperasi pada 1983.
Kini, kawasan Kamojang memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang mencapai 235 MW.