Transisi Energi Tak Cukup Ganti Sumber Energi: Mengapa Geothermal Perlu Dikaji Ulang?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:30 WIB
Transisi Energi Tak Cukup Ganti Sumber Energi: Mengapa Geothermal Perlu Dikaji Ulang?
Ilustrasi Panas Bumi (dok.Unsplash/ Viktor Kiryanov)

Suara.com - Berbagai bencana ekologis di Sumatera dan Kalimantan dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tekanan krisis iklim yang semakin nyata. Tingginya emisi gas rumah kaca dari penggunaan energi fosil, terutama pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara, menjadi salah satu persoalan yang perlu segera diatasi.

Pemerintah mendorong percepatan transisi energi dari sumber fosil menuju energi terbarukan. Namun, transisi energi tidak cukup hanya dengan mengganti jenis sumber energi.

Jika tata kelola dan pola pembangunan yang menopangnya masih eksploitatif, perpindahan dari energi fosil ke energi terbarukan berisiko hanya memindahkan bentuk eksploitasi dari satu komoditas ke komoditas lain.

Hal ini menjadi sorotan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Organisasi tersebut menilai pemerintah belum melakukan perubahan mendasar dalam tata kelola energi dan masih bergantung pada investasi berskala besar serta eksploitasi sumber daya alam.

Geothermal atau panas bumi menjadi salah satu contohnya.

Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar sehingga pemerintah mendorong pengembangannya melalui percepatan penetapan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), hingga penetapan sejumlah proyek sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

Namun, WALHI menilai ekspansi geothermal tetap berisiko mengorbankan ruang hidup masyarakat dan kawasan dengan fungsi ekologis penting. Penetapan WKP juga dinilai kerap dilakukan tanpa memastikan persetujuan masyarakat adat maupun komunitas terdampak.

Dampaknya dapat berupa konflik agraria, kriminalisasi warga, hingga hilangnya sumber penghidupan. Di sisi ekologis, pengembangan geothermal membutuhkan pembukaan hutan, pembangunan infrastruktur, pengeboran sumur, dan penggunaan air dalam skala besar. Aktivitas tersebut berpotensi memicu deforestasi, kekeringan, erosi, longsor, hingga gempa terinduksi.

Risiko keselamatan juga perlu diperhitungkan, termasuk kebocoran gas hidrogen sulfida (HS), ledakan sumur, dan keracunan gas.

baca juga

Bersama Center of Economic and Law Studies (CELIOS), WALHI menyoroti dampak sejumlah proyek geothermal, antara lain di Poco Leok, Sorik Merapi, dan Dieng. Masyarakat di sejumlah wilayah disebut menghadapi penurunan produktivitas pertanian, pencemaran sumber air, perubahan kondisi lingkungan, hingga hilangnya sumber penghidupan.

Pada saat yang sama, manfaat ekonomi proyek dinilai lebih banyak dinikmati korporasi, sementara masyarakat lokal menanggung sebagian besar beban sosial dan ekologis.

WALHI juga mempertanyakan berbagai dukungan pembiayaan transisi energi melalui bank pembangunan multilateral, lembaga bilateral, green bonds, skema ESG, dan Just Energy Transition Partnership (JETP). Menurut mereka, skema tersebut berpotensi menjadi praktik greenwashing jika keberlanjutan lebih diposisikan sebagai instrumen menarik modal global daripada memastikan perlindungan lingkungan dan hak masyarakat.

Karena itu, transisi energi perlu dilihat bukan hanya dari seberapa rendah emisinya, tetapi juga dari proses pembangunan dan distribusi manfaatnya.

WALHI mendesak pemerintah menghentikan ekspansi geothermal yang merusak lingkungan atau memicu konflik, mencabut status PSN bagi proyek yang mengabaikan hak masyarakat, serta menerapkan moratorium izin baru di kawasan lindung, konservasi, daerah resapan air, pegunungan, dan wilayah adat.

Pemerintah juga didorong memastikan penerapan free, prior and informed consent (FPIC), melindungi pembela lingkungan, serta melakukan audit independen terhadap aspek lingkungan, sosial, keselamatan, dan HAM.

Pada akhirnya, transisi energi bukan sekadar mengganti batu bara dengan sumber energi terbarukan. Transisi yang adil juga harus mengubah cara energi diproduksi, dikuasai, dan manfaatnya didistribusikan. Jika pola eksploitatif tetap dipertahankan, energi terbarukan hanya berisiko menjadi wajah baru dari sistem energi lama.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Transisi Menuju Motor Listrik: Menguntungkan Kelas Pekerja atau Jadi Beban Baru?

Transisi Menuju Motor Listrik: Menguntungkan Kelas Pekerja atau Jadi Beban Baru?

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:16 WIB

Mengenal Carbon Trading: Saat Krisis Iklim Bertemu Logika Pasar

Mengenal Carbon Trading: Saat Krisis Iklim Bertemu Logika Pasar

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 08:25 WIB

Ketika Energi Hijau Mengusik Ruang Hidup Warga

Ketika Energi Hijau Mengusik Ruang Hidup Warga

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:58 WIB

Terkini

5 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama di Shopee yang Baunya Mirip Parfum Mewah

5 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama di Shopee yang Baunya Mirip Parfum Mewah

Lifestyle | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:11 WIB

Ranking FIFA Terbaru Timnas Indonesia Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Ranking FIFA Terbaru Timnas Indonesia Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:07 WIB

Viva Skin Food Cream untuk Apa? Ini Kegunaan, Kandungan, dan Cara Pakainya

Viva Skin Food Cream untuk Apa? Ini Kegunaan, Kandungan, dan Cara Pakainya

Lifestyle | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:03 WIB

Erick Thohir Bicara Piala Dunia Setelah Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Erick Thohir Bicara Piala Dunia Setelah Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:01 WIB

Dear Fresh Graduate: Ditolak Pekerjaan Itu Tak Berarti Ditolak Kehidupan

Dear Fresh Graduate: Ditolak Pekerjaan Itu Tak Berarti Ditolak Kehidupan

Your Say | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:00 WIB

4 Perbedaan Toner dan Serum Eksfoliasi untuk Atasi Pori Tersumbat

4 Perbedaan Toner dan Serum Eksfoliasi untuk Atasi Pori Tersumbat

Lifestyle | Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:57 WIB

Berpotensi Panas, RUU Pemilu Jadi Arena Tarik-Menarik Kepentingan Parpol 2029

Berpotensi Panas, RUU Pemilu Jadi Arena Tarik-Menarik Kepentingan Parpol 2029

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:57 WIB

John Herdman Persembahkan Trofi FIFA ASEAN Cup 2026 untuk Rakyat Indonesia

John Herdman Persembahkan Trofi FIFA ASEAN Cup 2026 untuk Rakyat Indonesia

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:57 WIB

Tol Lematang-Panjang Bakal Jadi Jalur Urat Nadi Industri dan Ekspor Lampung

Tol Lematang-Panjang Bakal Jadi Jalur Urat Nadi Industri dan Ekspor Lampung

Lampung | Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:55 WIB

Segera Antre, Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2,57 Juta/Gram

Segera Antre, Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2,57 Juta/Gram

Bisnis | Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:54 WIB

×