Tak Cuma Pangkas Emisi, Teknologi Penangkap Karbon Bisa Hasilkan Rp3,6 Triliun

Achmad Fauzi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:08 WIB
Tak Cuma Pangkas Emisi, Teknologi Penangkap Karbon Bisa Hasilkan Rp3,6 Triliun
Teknologi penangkap karbon juga bikin cuan negara. [Unsplash/ Marcin Jozwiak]
baca 10 detik
  • Hashim Djojohadikusumo menyatakan teknologi penangkap karbon di Petrokimia Gresik mampu menurunkan emisi karbon dioksida secara signifikan.
  • Teknologi penangkapan karbon tersebut juga menghasilkan produk soda abu dan soda kue guna mengurangi ketergantungan impor.
  • Kementerian Perindustrian mendorong penerapan teknologi rendah karbon untuk mempercepat target net zero emission sektor manufaktur tahun 2050.

Suara.com - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan teknologi penangkap dan pemanfaatan karbon atau Carbon Capture and Utilization (CCU) tidak hanya berpotensi menekan emisi karbon industri.

Akan tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui produksi soda abu (soda ash) dan soda kue (baking soda) untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Teknologi tersebut menjadi salah satu solusi yang didorong untuk diterapkan di industri nasional, termasuk pabrik dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.

"Ternyata ada teknologi dari Jepang, juga dari Taiwan dan sebagainya, yang dipakai di Petrokimia Gresik," ujar Hashim di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Utusan Presiden RI Hashim Djojohadikusumo mengatakan, rekening digital tersebut akan menjadi sarana penyaluran bantuan pemerintah tanpa menggunakan uang tunai fisik. Foto Ilustrasi AI.
Utusan Presiden RI Hashim Djojohadikusumo mengatakan, rekening digital tersebut akan menjadi sarana penyaluran bantuan pemerintah tanpa menggunakan uang tunai fisik. Foto Ilustrasi AI.

Menurutnya, teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menekan emisi, tetapi juga menghasilkan produk sampingan yang memiliki nilai ekonomi. Soda abu menjadi salah satu produk yang berpotensi membantu memenuhi kebutuhan domestik yang selama ini masih bergantung pada impor.

Pemerintah, kata Hashim, juga tengah menyusun skema insentif bagi perusahaan yang memasang teknologi penangkap karbon. Penerapannya dinilai dapat diperluas ke pembangkit listrik yang menggunakan batu bara.

"Semua stasiun listrik, pembangkit listrik yang memakai batu bara bisa hidup terus-menerus," ujarnya.

Pengembangan teknologi CCU di Petrokimia Gresik sebelumnya telah menjadi bagian dari inisiatif Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di bawah kepemimpinan Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK).

Pada November 2025, Kemenperin melaporkan hasil uji coba teknologi CCU selama enam bulan di Petrokimia Gresik. Berdasarkan hasil pengujian yang diverifikasi Sucofindo sebagai surveyor independen, teknologi tersebut diklaim mampu menurunkan emisi karbon dioksida hingga lebih dari 95 persen.

baca juga

Selain menekan emisi, teknologi ini diproyeksikan memungkinkan Petrokimia Gresik menghasilkan soda abu hingga satu juta ton per tahun. Jumlah tersebut disebut berpotensi menggantikan seluruh impor soda abu setiap tahunnya.

Potensi nilai ekonominya diperkirakan mencapai 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,6 triliun per tahun. Teknologi yang sama juga dapat menghasilkan soda kue, produk yang selama ini masih diimpor Indonesia.

Dengan demikian, penerapan CCU berpotensi memberikan manfaat ganda bagi industri, yakni mengurangi emisi karbon sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru dari produk sampingan. Meski demikian, potensi produksi dan pendapatan tersebut perlu dibedakan dari realisasi operasional dan penjualan komersial.

Kemenperin juga menyebut teknologi tersebut berpeluang diterapkan pada industri penghasil emisi karbon dioksida lainnya, seperti semen, kimia, baja, dan keramik.

Pengembangan CCU merupakan bagian dari upaya lebih luas Kemenperin dalam mendorong transformasi industri hijau. Pada masa kepemimpinan AGK, Kemenperin mempercepat target net zero emission (NZE) sektor manufaktur menjadi 2050, atau satu dekade lebih cepat dibandingkan target nasional pada 2060.

Peta jalan dekarbonisasi disusun untuk sembilan subsektor industri yang menjadi penyumbang emisi besar, yakni semen, pupuk amonia, logam, pulp dan kertas, kimia, tekstil, keramik dan kaca, makanan dan minuman, serta otomotif.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Wacana Adik Prabowo soal HP Gratis untuk Bansos Dinilai Tak Jelas, APBN Sudah Tekor

Wacana Adik Prabowo soal HP Gratis untuk Bansos Dinilai Tak Jelas, APBN Sudah Tekor

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 08:59 WIB

Pertamina dan Transjakarta Jajaki Bus Hidrogen untuk Wujudkan Transportasi Rendah Karbon

Pertamina dan Transjakarta Jajaki Bus Hidrogen untuk Wujudkan Transportasi Rendah Karbon

Bisnis | Selasa, 13 Oktober 2026 | 20:12 WIB

Pertamina dan PAL Jaya Jajaki Potensi FOG Jadi Bahan Baku Biofuel, Dukung Bisnis Rendah Karbon

Pertamina dan PAL Jaya Jajaki Potensi FOG Jadi Bahan Baku Biofuel, Dukung Bisnis Rendah Karbon

Bisnis | Selasa, 13 Oktober 2026 | 20:08 WIB

Terkini

Tak Cukup Mandi, Bagaimana Eksfoliasi Jadi Perawatan Tambahan untuk Angkat Sel Kulit Mati?

Tak Cukup Mandi, Bagaimana Eksfoliasi Jadi Perawatan Tambahan untuk Angkat Sel Kulit Mati?

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:09 WIB

Preview Kendal Tornado FC vs Persiba: Laskar Badai Pantura Bertekad Jaga Momentum

Preview Kendal Tornado FC vs Persiba: Laskar Badai Pantura Bertekad Jaga Momentum

Jawa Tengah | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:09 WIB

Tak Cuma Pangkas Emisi, Teknologi Penangkap Karbon Bisa Hasilkan Rp3,6 Triliun

Tak Cuma Pangkas Emisi, Teknologi Penangkap Karbon Bisa Hasilkan Rp3,6 Triliun

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:08 WIB

BRI Perkuat Koperasi Merah Putih, Fondasi Baru Ekonomi Desa

BRI Perkuat Koperasi Merah Putih, Fondasi Baru Ekonomi Desa

Jatim | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:06 WIB

Review Film Whalefall: Pengalaman Menegangkan Berada di Perut Mamalia Laut

Review Film Whalefall: Pengalaman Menegangkan Berada di Perut Mamalia Laut

Your Say | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:05 WIB

BRI Dorong Penguatan Ekonomi Kerakyatan lewat Koperasi Merah Putih

BRI Dorong Penguatan Ekonomi Kerakyatan lewat Koperasi Merah Putih

Jabar | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:04 WIB

Menjajal 5G di Kereta Jogja-Solo, XLSMART Tembus 200 Mbps

Menjajal 5G di Kereta Jogja-Solo, XLSMART Tembus 200 Mbps

Jogja | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:03 WIB

Membangun Ekonomi dari Desa, BRI Perkuat Ekonomi Kerakyatan melalui Koperasi Merah Putih

Membangun Ekonomi dari Desa, BRI Perkuat Ekonomi Kerakyatan melalui Koperasi Merah Putih

Banten | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:01 WIB

Harta Maruli Simanjuntak Rp81,12 Miliar, Nyaris 12 Kali Lipat dari KSAD Tandyo Budi Revita

Harta Maruli Simanjuntak Rp81,12 Miliar, Nyaris 12 Kali Lipat dari KSAD Tandyo Budi Revita

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Kulit Dehidrasi? Ini 4 Krim Malam Hyaluronic Acid Penyelamat Skin Barrier

Kulit Dehidrasi? Ini 4 Krim Malam Hyaluronic Acid Penyelamat Skin Barrier

Your Say | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:00 WIB

×