- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mempertanyakan laporan MSCI yang memicu pelemahan IHSG dan Rupiah di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
- IHSG merosot 10,75 persen ke level 5.223 akibat rencana MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia.
- MSCI berencana mengubah klasifikasi Indonesia menjadi Pasar Mandiri karena masalah aksesibilitas investasi dan tata kelola.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengomentari soal anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga Rupiah buntut laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI) hari ini.
Menko Perekonomian justru mempertanyakan soal laporan MSCI yang membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia. Padahal beberapa hari sebelumnya ia sudah bertemu petinggi MSCI di Thailand.
“Kemarin di Thailand kok enggak ngomong yang ini? Padahal yang kemarin itu seminggu juga belum. Ya tentu kita lihat saja tapi kita tidak boleh suudzon,” kata Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Ia juga akan membahas efek laporan MSCI yang saat ini berdampak pada pelemahan IHSG dan Rupiah bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) hari ini di Kantor Kemenko Perekonomian.
Adapun KSSK sendiri beranggotakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
“Ya itu kan namanya nanti kita bahas,” lanjut dia.
Airlangga mengklaim kalau saat ini Indonesia justru memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Keluarnya laporan MSCI disebutnya sebagai penilaian dari faktor sentimental.
“Kemarin kita sudah sampaikan bahwa sebetulnya kita punya fundamental ekonomi kuat. Tetapi yang dimainkan kan sekarang faktor sentimental,” tuding dia.
Airlangga juga mengharapkan para investor saham justru memahami mana laporan lembaga pemeringkat yang berdasarkan faktor sentimental, dan mana yang berbasis fundamental.
“Dan mana yang diberikan oleh rating agency yang lain. Kenapa rating agency yang lain tidak mempersoalkan hal ini? Dan kenapa MSCI secara sistematik selalu membuka atau membuat deadline? Nah apalagi kemarin yang ketemu di Bangkok kan pimpinannya, bukan analisnya.” katanya heran.
Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan(IHSG) berakhir terus tertekan hingga akhir persen di Perdagangan Sesi I, Jumat, 16 Oktober 2026. IHSG merosot 630,77 poin atau 10,75 persen ke level 5.223.
Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, IHSG dibuka di level 5.394. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.405 dan terendah 5.193 sepanjang perdagangan sesi pertama.
Di tengah pelemahan tersebut, nilai transaksi saham tercatat mencapai Rp17,30 triliun. Sementara itu, volume transaksi mencapai 37,83 miliar saham dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1.336.396 kali.
Di sisi lain, penurunan ini disinyalir adanya pengumuman lembaga pemeringkat MSCI yang ingin menurunkan peringkat pasar modal Indonesia ke Standalone Market. IHSG juga sempat trading halt alias menghentikan perdagangan saham pagi tadi.
Alasan laporan MSCI keluar dipicu oleh kekhawatiran terhadap aksesibilitas investasi, transparansi kepemilikan saham, dan tata kelola pasar modal Indonesia. Dalam pernyataannya, MSCI menyampaikan bahwa rencana perubahan klasifikasi tersebut masih dalam tahap konsultasi.
Keputusan ini menyusul peringatan yang sebelumnya disampaikan pada Juni 2026, ketika MSCI menyatakan Indonesia berpotensi mengalami reklasifikasi apabila persoalan aksesibilitas pasar tidak kunjung teratasi.
"Oleh karena itu, MSCI menganggap klasifikasi Indonesia sebagai Pasar Berkembang yang berkelanjutan tidak lagi tepat dan meluncurkan konsultasi mengenai proposal untuk mengklasifikasikan ulang Indonesia sebagai Pasar Mandiri," kata MSCI dikutip Reuters, Jumat (16/10/2026).