- Harga minyak mentah dunia bertahan tinggi pada Minggu (18/10/2026) akibat serangan Ukraina dan Teluk Persia.
- Gubernur St. Petersburg mengonfirmasi kebakaran depot minyak setelah serangan drone Ukraina pada Minggu.
- Dua kapal tanker diserang di Teluk Persia pada Jumat lalu menurut laporan UKMTO.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia bertahan mendekati level tertingginya pada perdagangan hari Minggu. Pelaku pasar tengah mencermati dampak serangan bom Ukraina terhadap fasilitas minyak di Rusia, serta peningkatan eskalasi serangan terhadap kapal-kapal tanker di Teluk Persia.
Mengutip dari CNBC pada Senin (19/10/2026), minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi tolok ukur harga internasional, sedikit terkoreksi sebesar 1,04 dolar menjadi 108,82 dolar As per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah tipis 26 sen ke level 101,15 dolar As per barel.
Gubernur St. Petersburg, Alexander Beglov, melalui unggahan di Telegram mengonfirmasi terjadinya kebakaran di terminal dan depot minyak St. Petersburg akibat gelombang serangan drone besar-besaran yang diluncurkan Ukraina pada hari Minggu.
Berdasarkan data Kpler, terminal di St. Petersburg tersebut mengekspor sekitar 120.000 barel produk hasil kilang per hari, yang didominasi oleh minyak bakar (fuel oil). Hingga kini, belum dipastikan sejauh mana tingkat kerusakan pada fasilitas tersebut.
Ukraina sempat menangguhkan serangan ke fasilitas energi Rusia setelah Presiden AS, Donald Trump menyatakan pada 11 Oktober lalu bahwa Kyiv dan Moskow telah menyepakati gencatan senjata. Namun, Rusia tetap melanjutkan gempurannya terhadap infrastruktur energi Ukraina.

Menanggapi hal itu, Presiden Volodymyr Zelenskyy pekan lalu menegaskan bahwa Kyiv akan kembali menyerang fasilitas Rusia sebagai bentuk balasan.
Sementara itu, di kawasan Timur Tengah, dua kapal tanker diserang di lepas pantai Arab Saudi di Teluk Persia pada Jumat lalu, menurut laporan dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).
UKMTO melaporkan sebuah perahu kecil menembakkan peluncur roket (RPG) ke arah kapal tanker yang belum teridentifikasi berjarak 78 mil laut di sebelah timur laut Al Jubayl. Pada insiden terpisah, kapal tanker lain bernama ST3 juga dilaporkan dihantam proyektil tidak dikenal.
Eskalasi serangan terhadap kapal-kapal tanker di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman terus ditingkatkan oleh Iran sebagai upaya untuk menyumbat jalur ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut.