- Danantara menyuntikkan dana Rp18 triliun untuk meredam tekanan jual IHSG akibat wacana MSCI hingga 2026.
- CIO Danantara Pandu Sjahrir mengonfirmasi akumulasi saham menyasar emiten berprospek kokoh saat koreksi pasar terjadi.
- Danantara mengelola 39 portofolio emiten dan berencana mengakuisisi saham Bursa Efek Indonesia melalui rights issue.
Suara.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengambil langkah taktis untuk meredam tekanan jual yang tengah melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Lembaga pengelola investasi milik negara ini secara aktif mulai melakukan aksi borong saham di pasar modal domestik, menyusul meningkatnya ketidakpastian pasar imbas wacana perubahan status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Guna memperkuat daya tahan pasar saham nasional, Danantara telah menyiapkan amunisi tambahan senilai US$1 miliar atau setara Rp18 triliun yang akan disuntikkan secara berkala hingga penghujung tahun 2026. Dana segar ini menjadi bagian dari komitmen investasi awal perseroan sebesar US$3 miliar yang dialokasikan untuk instrumen ekuitas dan surat utang, baik di dalam maupun luar negeri.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengonfirmasi bahwa eksekusi akumulasi saham telah dilangsungkan terhadap emiten-emiten yang memiliki profil valuasi menarik serta prospek pertumbuhan bisnis yang kokoh dalam jangka panjang. Langkah penyuntikan modal ini bertepatan dengan momentum koreksi pasar pasca-MSCI membuka ruang diskusi terkait potensi reklasifikasi pasar Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market.
Pandu menekankan bahwa keputusan investasi yang diambil oleh Danantara tetap berpatokan pada kalkulasi rasio risiko dan potensi imbal hasil (risk and reward) yang terukur.
Momen penurunan harga saham akibat sentimen pasar dinilai membuka ruang bagi investor berjangka panjang untuk masuk ke saham-saham berkualitas dengan harga diskon.
“Kami selalu profit oriented. Kami melihat sekarang dari sisi risk reward menarik,” tegasnya.
Penyerapan Bertahap dan Analisis Dampak Likuiditas
Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, memaparkan bahwa posisi Danantara difungsikan sebagai penyeimbang ketika gejolak bursa lebih banyak didorong oleh reaksi kecemasan pasar yang bersifat temporer. Penyerapan modal dilakukan secara bertahap guna menyesuaikan dengan dinamika harga serta likuiditas harian di bursa.
Besaran alokasi tambahan dana sebesar Rp18 triliun tersebut kerap menarik perhatian jika disandingkan dengan kapasitas transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data perdagangan pertengahan Oktober 2026, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) bursa berada di kisaran Rp16,23 triliun. Secara nominal, dana Rp18 triliun tersebut setara dengan 1,11 kali nilai transaksi harian bursa.
Kendati demikian, kalkulasi tersebut tidak serta-merta mengindikasikan bahwa dana Danantara hanya mampu menopang pergerakan IHSG dalam durasi satu hingga dua hari. Angka RNTH merepresentasikan akumulasi nilai jual dan beli dari seluruh pelaku pasar, sementara alokasi dana Danantara masuk sebagai arus beli bersih (net buy) yang dieksekusi secara terukur di pasar sekunder.
Portofolio Aset BUMN dan Aksi Pasar Sekunder
Saat ini, BPI Danantara mengelola setidaknya 39 portofolio emiten yang terbagi ke dalam dua struktur utama, yakni saham BUMN yang secara resmi dialihkan melalui skema pengalihan aset (inbreng), serta akumulasi saham likuid yang dibeli langsung dari pasar reguler.
Untuk jajaran aset alihan resmi BUMN, Danantara memegang porsi kendali mayoritas pada sejumlah emiten strategis:
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dengan estimasi kepemilikan sekitar 91,11 persen.
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) sekitar 91,01 persen.
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) sebesar 80,00 persen.
PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) sebesar 75,35 persen.
PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mencapai 70,00 persen.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) sebesar 64,33 persen.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) masing-masing sebesar 60,00 persen.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 53,19 persen.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 52,00 persen.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar 52,09 persen.
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) sebesar 51,20 persen.
PT PP (Persero) Tbk (PTPP) sebesar 51,00 persen.
Struktur portofolio ini juga mencakup kepemilikan tidak langsung pada jajaran emiten tambang di bawah naungan holding MIND ID, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk (VALE).