- Jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa dan populasi usia muda yang akrab dengan layanan digital menjadi modal pertumbuhan.
- Manfaatnya tidak hanya untuk perusahaan besar, tetapi juga perusahaan menengah dan UMKM, meskipun pemerataannya diperkirakan berlangsung secara bertahap.
- Pendapatan iklan digital diproyeksikan naik dari 10,7 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 16,8 miliar dolar AS pada 2030.
Suara.com - Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai 600 miliar dolar AS pada 2030. Besarnya potensi tersebut dinilai membuka peluang bisnis bagi berbagai skala usaha, mulai dari perusahaan besar hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Country Head & Board of Director Indonesia Marketing + Media Alliance (MMA), Shanti Tolani, mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi digital. Salah satunya jumlah penduduk yang mencapai sekitar 280 juta jiwa.
Selain menjadi negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, Indonesia juga memiliki populasi usia muda yang semakin terbiasa memanfaatkan layanan digital dalam kehidupan sehari-hari.

"Jika melihat tahun 2030, waktunya sudah sangat dekat, tetapi potensinya luar biasa," ujar Shanti di acara MMA Impact Indonesia 2026 di The Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Menurut Shanti, aktivitas masyarakat Indonesia saat ini semakin terhubung dengan ekosistem digital. Mulai dari transaksi pembayaran, hiburan, perjalanan, makanan dan minuman (F&B), hingga kebutuhan gaya hidup.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar melalui pemanfaatan teknologi dan strategi pemasaran yang sesuai dengan perilaku konsumen.
Shanti menilai pertumbuhan ekonomi digital nantinya tidak hanya akan dinikmati perusahaan besar yang berpusat di kota-kota utama. Pelaku usaha menengah hingga UMKM juga berpeluang mendapatkan manfaat dari perkembangan tersebut.
Meski demikian, dia mengakui pemerataan manfaat ekonomi digital akan berlangsung secara bertahap. Perbedaan tingkat paparan teknologi dan kesiapan masing-masing daerah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proses tersebut.
"Jadi, menurut saya, pertumbuhan ini pasti akan memberikan dampak positif bagi Indonesia secara keseluruhan, tetapi tentu berlangsung secara bertahap karena wilayah Indonesia tersebar luas. Perkembangan ini akan memberikan manfaat bagi berbagai jenis usaha, mulai dari perusahaan besar, perusahaan menengah hingga UMKM," jelasnya.
Peluang tersebut juga didukung perkembangan industri periklanan nasional. MMA Indonesia memproyeksikan pendapatan iklan di Indonesia mencapai 18,9 miliar dolar AS pada 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) lebih dari 8 persen.
Kanal digital menjadi salah satu motor utama pertumbuhan tersebut. Pendapatan iklan digital diperkirakan meningkat dari 10,7 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 16,8 miliar dolar AS pada 2030, dengan CAGR sebesar 9,4 persen.
Dengan proyeksi tersebut, hampir 90 persen pasar iklan Indonesia diperkirakan akan berada di kanal digital pada akhir dekade ini.
Di sisi lain, Shanti mengingatkan pelaku industri agar tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk mengejar pertumbuhan bisnis. Keamanan dan perlindungan data konsumen juga harus menjadi perhatian.
Menurutnya, masyarakat Indonesia pada dasarnya cukup terbuka untuk membagikan informasi pribadi ketika menggunakan layanan digital. Namun, keterbukaan tersebut harus diimbangi dengan tanggung jawab perusahaan dalam mengelola data konsumen.
Shanti menilai konsumen tidak keberatan membagikan data selama perusahaan mampu memberikan layanan yang baik dan menggunakan informasi tersebut secara tepat.
"Kami tidak keberatan membagikan data. Selama kalian memberikan layanan yang positif dan baik, membimbing kami, serta memberikan arahan, kami bersedia membagikan data. Namun, setidaknya jangan menyalahgunakan data tersebut," pungkasnya.