Asosiasi Industri Makanan dan Minuman: Rupiah Mengkhawatirkan

Liberty Jemadu, Fakhri Fuadi Muflih

Sabtu, 07 November 2026 | 09:56 WIB
Asosiasi Industri Makanan dan Minuman: Rupiah Mengkhawatirkan
Ketua GAPMMI Adhi S Lukman menyatakan pelemahan rupiah sangat mengkhawatirkan. [Antara]
baca 10 detik
  • Ketua GAPMMI Adhi S Lukman menyatakan pelemahan rupiah dan lonjakan biaya logistik internasional menekan operasional industri makanan dan minuman.
  • Ia berharap pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah.
  • Pelaku industri menyiasati tekanan biaya pengiriman dan bahan baku impor dengan mencari jalur alternatif serta pemasok dari negara lain.

Suara.com - Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengatakan lemahnya nilai tukar rupiah dan melonjkanya biaya logistrik internasional sangat mengkhawatirkan industri karena menekan biaya operasional.

Ia mengatakan pelemahan rupiah membuat biaya pengadaan bahan baku dari luar negeri semakin mengkhawatirkan bagi pelaku usaha.

Adhi menilai kepastian nilai tukar menjadi kebutuhan penting bagi industri agar perusahaan dapat memperhitungkan biaya produksi dan menjalankan kegiatan usaha. Karena itu, GAPMMI berharap pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas rupiah.

"Ya memang rupiah ini mengkhawatirkan ya, karena kita tidak tahu sampai seberapa. Ini yang paling penting, karena bagi industri kepastian ini menjadi penting gitu ya. Oleh sebab itu, kita sangat berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas, dan bersama BI ya untuk menjaga stabilitas," kata Adhi di Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/11/2026).

Selain itu, lanjut Adhi, industri makanan dan minuman (mamin) juga menghadapi tekanan kenaikan biaya logistik internasional. Ongkos pengiriman satu kontainer ke sejumlah negara tujuan bahkan mengalami lonjakan hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya.

Adhi mengungkapkan, biaya pengiriman kontainer ke Australia yang biasanya sekitar 1.000 dolar AS kini meningkat menjadi 3.000 dolar AS. Sementara itu, ongkos pengiriman ke China naik dari 200-300 dolar AS menjadi 700-800 dolar AS.

"Kemarin kami diskusi dengan beberapa buyer dari Australia, sekarang ke Australia yang biasanya cuma $1.000, sekarang $3.000 per kontainer, seperti itu. Yang ke China biasanya cuma 200–300, sekarang bisa 700–800, seperti itu. Kalau ke yang jauh-jauh, ke Timur Tengah lebih berat lagi," kata Adhi.

Kenaikan ongkos logistik tersebut menambah beban industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri mulai mencari alternatif jalur pengiriman dan negara pemasok bahan baku untuk mengantisipasi hambatan rantai pasok global. Langkah ini diperlukan agar kegiatan produksi dan distribusi tetap berjalan meskipun biaya pengiriman meningkat.

baca juga

Adhi mengatakan, pemenuhan bahan baku dari dalam negeri sebenarnya menjadi pilihan terbaik agar industri tidak terlalu bergantung pada pasokan luar negeri. Namun, upaya tersebut membutuhkan strategi jangka panjang karena tidak semua kebutuhan bahan baku industri makanan dan minuman dapat dipenuhi dari produksi domestik.

"Ya, tentunya kita mencari alternatif ya. Alternatif termasuk misalnya ke Timur Tengah itu alternatif logistik. Ya, kemudian alternatif bahan baku yang dari beberapa negara yang terhambat dan lain sebagainya," ujar dia.

Meski menghadapi berbagai tekanan, Adhi menyebut permintaan produk makanan dan minuman masih cukup baik. Namun, kenaikan biaya logistik dan harga bahan baku berpotensi menghambat kinerja industri apabila tidak segera diantisipasi.

Ia pun berharap pemerintah dapat memperkuat ketersediaan bahan baku dalam negeri agar industri makanan dan minuman tidak terus bergantung pada pasokan impor.

"Sebetulnya paling bagus kalau dalam negeri bisa memenuhi. Tapi ini kan perlu strategi jangka panjang," tuturnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Siap-siap, Harga Pangan Melonjak di Awal 2027 Karena Rupiah Semakin Tak Berharga

Siap-siap, Harga Pangan Melonjak di Awal 2027 Karena Rupiah Semakin Tak Berharga

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 17:59 WIB

Investor Masih Tahan Investasi, Rupiah Berakhir Loyo di Level Rp18.089/USD

Investor Masih Tahan Investasi, Rupiah Berakhir Loyo di Level Rp18.089/USD

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 15:41 WIB

Investasi Mamin Rp47,74 Triliun, Pemerintah Bidik Hilirisasi Sorgum hingga Limbah Ikan

Investasi Mamin Rp47,74 Triliun, Pemerintah Bidik Hilirisasi Sorgum hingga Limbah Ikan

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 10:21 WIB

Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp18.106, Ini Pemicunya

Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp18.106, Ini Pemicunya

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 09:41 WIB

Berkat Pertumbuhan Ekonomi, Rupiah Jadi Perkasa ke Level Rp18.082/USD

Berkat Pertumbuhan Ekonomi, Rupiah Jadi Perkasa ke Level Rp18.082/USD

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 16:20 WIB

Terkini

BP BUMN Perkuat Permodalan DSI Sebagai Perantara Ekspor Tunggal

BP BUMN Perkuat Permodalan DSI Sebagai Perantara Ekspor Tunggal

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 09:40 WIB

Tanggapan Kapolda Riau soal Laporan Konten TikTok yang Catut SF Hariyanto

Tanggapan Kapolda Riau soal Laporan Konten TikTok yang Catut SF Hariyanto

Riau | Sabtu, 07 November 2026 | 09:22 WIB

Siapa Dumatno? Sosok yang Disinggung Jaksa dalam Sidang Ijazah Jokowi

Siapa Dumatno? Sosok yang Disinggung Jaksa dalam Sidang Ijazah Jokowi

News | Sabtu, 07 November 2026 | 09:13 WIB

Parfum Kahf Paling Enak Warna Apa? Ini 5 Varian dengan Karakter Aroma Berbeda

Parfum Kahf Paling Enak Warna Apa? Ini 5 Varian dengan Karakter Aroma Berbeda

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 09:10 WIB

Kisah Pilu Wanita di Tulang Bawang Tertipu Pria Idaman di Aplikasi Kencan, Uang Rp110 Juta Ludes

Kisah Pilu Wanita di Tulang Bawang Tertipu Pria Idaman di Aplikasi Kencan, Uang Rp110 Juta Ludes

Lampung | Sabtu, 07 November 2026 | 09:10 WIB

Karhutla Ancam Aktivitas Ekonomi, Pemerintah Gandeng 400 Pengusaha Tambang

Karhutla Ancam Aktivitas Ekonomi, Pemerintah Gandeng 400 Pengusaha Tambang

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 09:09 WIB

Akun TikTok Dipolisikan, Tuduh SF Hariyanto Komentari Eks Kapolri Sadap Presiden

Akun TikTok Dipolisikan, Tuduh SF Hariyanto Komentari Eks Kapolri Sadap Presiden

Riau | Sabtu, 07 November 2026 | 09:06 WIB

Pemerintah Bidik Nilai Tukar Nelayan Tembus 120 pada 2027

Pemerintah Bidik Nilai Tukar Nelayan Tembus 120 pada 2027

Foto | Sabtu, 07 November 2026 | 09:00 WIB

4 Zodiak Paling Hoki Hari Ini 7 November 2026, Saatnya Jemput Peluang Emas!

4 Zodiak Paling Hoki Hari Ini 7 November 2026, Saatnya Jemput Peluang Emas!

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 08:44 WIB

BRILink Agen BRI Buka Peluang Ekonomi, Mitra di Rembang Layani hingga 100 Transaksi per Hari

BRILink Agen BRI Buka Peluang Ekonomi, Mitra di Rembang Layani hingga 100 Transaksi per Hari

Jawa Tengah | Sabtu, 07 November 2026 | 08:42 WIB

×