- Ekonom Sahaya Aulia Azzahra mengungkapkan Indonesia tertinggal dalam daya saing talenta global pada acara Youth Economic Summit 2026 di Jakarta.
- Tingginya partisipasi pendidikan vokasi berbanding terbalik dengan ketersediaan tenaga teknisi industri karena masalah kesenjangan keterampilan yang signifikan.
- Kondisi tersebut mengancam ambisi Indonesia merebut aliran investasi transisi energi global senilai triliunan Dolar AS.
Suara.com - Pemerintah Indonesia tengah gencar memburu aliran modal asing untuk mendanai proyek transisi energi. Namun ambisi ini terancam akibat darurat daya saing talenta secara makro.
Ekonom CORE Indonesia, Sahaya Aulia Azzahra mengungkapkan kalau di tengah tingginya angka partisipasi pendidikan vokasi, industri di Indonesia justru kekurangan tenaga teknis.
Berdasarkan data Global Talent Competitiveness Index (GTCI) 2025, daya saing talenta Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara-negara tetangga yang menjadi pesaing utama memperebutkan investasi asing seperti Malaysia (peringkat 46), Vietnam (peringkat 76), dan Thailand (peringkat 77).
"Nah, dari indeks daya saing ini, hard to say, kita hanya lebih unggul dari India. Kita di ranking 80, India 100," ungkap Sahaya dalam acara Youth Economic Summit (YES) 2026 di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Sabtu (7/11/2026).
Peringkat tersebut menyingkap sebuah paradoks ketenagakerjaan yang serius. Di satu sisi, minat dan partisipasi pendidikan vokasi di Indonesia sejatinya cukup tinggi, bertengger di peringkat 44 secara global.
Namun, tingginya angka partisipasi tersebut rupanya tidak menghasilkan output yang terhubung dengan kebutuhan riil industri. Hal ini tercermin dari ketersediaan tenaga teknisi yang anjlok tajam ke peringkat 105.
Kondisi skill mismatch ini diperparah oleh minimnya inisiatif sektor swasta, di mana indikator prevalensi pelatihan yang difasilitasi perusahaan terpuruk di peringkat 109 global.
Kesenjangan keterampilan ini bukan masalah sepele, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas makroekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Pasalnya, kue investasi dari dorongan penciptaan lapangan kerja global bernilai sangat fantastis. Investasi energi global diproyeksikan bakal menembus angka 3,4 triliun Dolar AS pada tahun 2026, dengan porsi raksasa senilai 2,2 triliun Dolar AS mengalir khusus untuk energi bersih.
"Transisi hijau menuntut lebih banyak teknisi dan tenaga berpendidikan tinggi, dua indikator tempat Indonesia tertinggal," demikian paparan yang ditampilkan Sahaya.
"Tanpa percepatan pelatihan teknis dan pelatihan di perusahaan, Indonesia berisiko kalah bersaing merebut lapangan kerja hijau dari negara tetangga," lanjut paparan tersebut.
Jika sistem pelatihan vokasi terlampau lambat beradaptasi, peluang emas dari transisi ekonomi ramah lingkungan ini akan menguap. Laju penciptaan lapangan kerja strategis berpotensi direbut talenta asing, atau yang lebih buruk, dana investasi triliunan dolar tersebut berbelok ke negara pesaing.
Merespons darurat mismatch ini, Sahaya menekankan bahwa angkatan kerja harus segera membekali diri dengan kemampuan lintas sektor.
"Karena industri juga sebetulnya susah mencari pekerja yang match atau qualified, lembaga pendidikan pelatihan juga memang harus men-challenge terus-terusan diri kita sendiri. Kalau dulu kan ada istilahnya, 'Kamu generalis atau spesialis?' Sekarang itu versatilist," tegas Sahaya.