Melihat kiprah Timnas Belgia pada Piala Dunia 2018 lalu, publik sepakbola dunia tentu terkagum-kagum dengan capaian Eden Hazard cs.
Banyak pihak memang sudah jauh-jauh hari memprediksi Timnas Belgia bakal berbicara banyak di kancah internasional seperti Piala Dunia.
Menjamurnya para pemain Belgia di sejumlah liga top Eropa jadi salah satu alasannya. Namun adakah yang memprediksi Liga Belgia bakal setara dengan liga top Eropa saat ini, Liga Inggris, La Liga atau Serie A?
Hitung-hitungan di atas kertas memang menempatkan Belgia bakal menjadikan liga mereka setara dengan liga top Eropa. Faktor yang membuat itu terjadi sudah diprediksi sejak 2002 silam.
Belgia seperti semacam ruang tunggu bagi sejumlah investor kelas kakap untuk menyalurkan uang mereka di klub Belgia.
Majunya Liga Inggris, La Liga atau Serie A tak bisa dilepaskan dari faktor ekonomi ketiga negara tersebut, faktor itulah juga yang membuat banyak pakar Liga Belgia bakal bergeliat di beberapa tahun mendatang.
Disokong oleh kebijakan pemerintah mereka, Liga Belgia siap untuk kedatangan banyak investor kelas kakap. Pasalnya pemerintah Belgia menerapkan deregulasi yang membuat para investor banyak yang tertarik.
Deregulasi merupakan langkah yang diambil pemerintah suatu negara untuk mengurangi bahkan meniadakan aturan administrative yang mengekang arus modal.
Tambah menggiurkan lagi, pemerintah Belgia juga memperlakukan kebijakan yang sangat longer dalam urusan paspor untuk orang asing, khususnya untuk mereka yang bukan berasal dari kawasan Uni Eropa.
Baca Juga: Profil Liam Oetoehganal, Pemain Keturunan Indonesia yang Gabung Klub Liga Belgia
Di Belgia, orang asing hanya membutuhkan waktu 2 tahun untuk bisa mendapat paspor Uni Eropa. Ya seperti yang kita ketahui para investor kakap di sepakbola saat ini berasal dari kawasan Timur Tengah dan Timur Jauh.
Laporan dari indexmundi menyebutkan bahwa sejak periode 1995 hingga 2002, sejumlah perusahaan lokal Belgia hamper 60 persen sudah beralih tangan ke para investor asing.
Menariknya hal itu tidak menimbulkan gelojak di warga lokal Belgia, pasalnya para investor asing ini membukakan peluang usaha dari skema venutra.
Kondisi ini kemudian membuat pada periode setelah 2002, 80 persen perusahaan yang dibeli investor asing itu sudah kembali dimiliki orang asli Belgia.
Namun derasnya investasi asing dan menjamurnya warga negara asing tentu saja menimbulkan dampak positif dan negatif. Di negara semaju Belgia pun dampak negatif dari kehadiran investasi asing merembet pada kasus-kasus SARA.
Lantas apa dampaknya pada sepakbola, khususnya Liga Belgia atau yang dikenal dengan sebutan Pro Jupiler?
Dampaknya tentu saja perputaran uang tersebut di satu sisi membuat sedikit adanya kemajuan sejumlah klub di Belgia yang sebelumnya sama sekali tak dilirik.
Pemahaman orang Belgia soal bagaimana mengembangkan usahanya ke level yang lebih tinggi dengan belajar dari para investor era 90-an hingga 2002 membuat mereka paham bagaimana kemitraan bisnis di sepakbola sangatlah penting jika Pro Jupiler bisa menjadi industri seperti liga-liga di tetangga mereka.
Kota kecil bernama Beveren misalnya. Kota yang memiliki klub sepakbola bernama K.S.K Beveren itu menjalin kemitraan dengan klub papan atas Liga Inggris, Arsenal pada 2003 silam.
Keuntungan Beveran jalin kerjasama dengan Arsenal salah satunya ialah mereka mendapatkan sejumlah produk asli akademi Arsenal, seperti Steve Sidwell yang main di klub tersebut sebagai pemain pinjaman.
Sayang kemudian penyelidikan dari sejumlah pihak menemukan ada kejanggalan dari kemitraan bisnis ini yang justru membuat Beveren tak maju secara kualitas sepakbola.
Fans dari Beveren sayangnya mengelola itu dengan cara yang tidak tepat dan justru membawanya ke permasalahan SARA. Hal itu dikarenakan mereka muak dengan kebijakan klub pada periode 2002-2003 yang hanya memainkan satu pemain asli Belgia dan sisanya ialah pemain asing, mayoritas berasal Afrika.
Teriakan meniru suara monyet sempat terdengar nyaring dari para fans Beveren saat pemain dari Pantai Gading bermain untuk klub tersebut.
Arus investasi dari pihak asing terus masuk ke Belgia tak terbendung setelah periode 2002. Salah satu investor kelas kakap yang datang ke Belgia dan jadi sorotan publik lokal di sana ialah Zheyun Ye, seorang pengusaha rumah judi terbesar di Cina.
Laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa Zheyun Ye menaruh uangnya untuk melakukan investasi ke sejumlah klub papan bawah Jupiler League.
Sayang kehadiran Ye tak serta merta membuat sepakbola di periode itu merangkak maju. Ye diduga menanamkan uangnya untuk skema kotor pengaturan kotor di pertandingan sepakbola Belgia.
Investigasi dari otoritas hukum Belgia menemukan adanya nilai yang tak masuk akal di bursa taruhan pada sejumlah pertandingan di klub yang kabarnya diberikan investasi oleh Ye.
Dalam kelanjutan proses penyelidikan itu, dua klub Lierse dan RAA Louvierosie ditengarai menjadi klub yang meminin skema pengaturan skor di kasta terendah Liga Belgia. “Sepakbola Belgia saat ini berada di era kapitalisme kasino yang merusak,” kata ekonom sepakbola asal Belgia, Toen Wim Lagae.
Efek negatif dari masifnya para investor asing juga terlihat saat penguasaha asal Mesir, Maged Samy mengambil alih klub kecil Belgia, Lierse pada 2007. Samy membeli klub tersebut hanya dengan nilai 3 juta euro.
Di awal kedatangannya Samy bak politikus di Indonesia yang berbicara manis dan memberi jani surga saat masa kampanye. Samy berjanji ke pada suporter Lierse bahwa ia akan membangun stadion baru dan akan mengeluarkan uang banyak untuk datangkan pemain bagus.
Sayang semua itu tak dilaksanakan oleh Samy. Stadion baru tak ada, pemain bagus yang ia janjikan malah pemain-pemain dari klub kecil Mesir, Wadi Degla, klub yang juga dimiliki oleh Samy.
Selama empat musim berturut-turut sejak 2007, Lierse tak jua beranjak dari papan bawah Jupiler League. Samy bahkan seperti pemilik Cardiff City, Vincent Tan yang mengubah logo dan jersey klub. Bagi suporter Lierse apa yang dilakukan oleh Samy hanyalah untuk membuat ia mendapat pemasukan tiap tahun dari hak siar sebesar 10 juta euro.
Menariknya tingkah dari para investor kelas kakap yang berasal dari Cina dan Timur Tengah yang dianggap merusak Jupirer League juga dilakukan oleh orang Indonesia.
Publik Belgia seperti laporan dari These Football Times sangat kesal saat grup Bakrie datang ke CS Vise dan menanamkan modalnya pada 2011. Bagi suporter CS Vise kedatanga grup Bakrie ini seperti mengubah klub tersebut menjadi salah satu klub sepakbola seperti acara reality show.
Tak jelas apa yang ingin dilakukan grup Bakrie saat menanamkan modal di CS Vise. Tak ada hal signifikan yang dilakuan grup Bakrie saat mengambil alih CS Vise. Malah hampir sama dengan Samy di Lierse, grup Bakrie juga tak malu membawa sejumlah pemain Indonesia yang tak memenuhi standar untuk bisa main di CS Vise.
Salah satu pemain itu saat ini seperti yang disebut publik Belgia menjadi artis di acara reality show. Setelah tak banyak melakukan hal signifikan pada CS Vise, grup Bakrie angkat koper dari klub tersebut pada 2014.